
GURU BESAR - Pengukuhan guru besar Unhas dari Fakultas Teknologi Pertanian yakni Prof Dr Ir Iqbal STP MSi IPM dan Prof Dr Adiansyah Syarifuddin STP MSi. (Dok Humas Unhas)
Sementara itu Prof Dr Ir Iqbal STP MSi IPM menyampaikan pidato tentang “Inovasi Alat dan Mesin Pertanian untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan”. Ia menempatkan ketahanan pangan sebagai fondasi kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.
Menurut Iqbal, tantangan pertanian semakin kompleks. Jumlah penduduk terus bertambah, sementara perubahan iklim mempengaruhi pola produksi pangan. Dalam situasi itu, alat dan mesin pertanian atau alsintan menjadi elemen penting untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan.
Ia mengatakan alsintan selama ini menjadi salah satu penggerak penting revolusi hijau. Perannya terlihat dalam efisiensi produksi, peningkatan produktivitas, dan pengelolaan risiko.
Di sektor padi, misalnya, penggunaan traktor roda dua dan roda empat dapat mempercepat pengolahan tanah, menekan biaya, serta meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
“Berbagai hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penggunaan traktor roda dua dan empat dapat memberikan dampak positif berupa meningkatnya efisiensi waktu olah tanah, menurunkan biaya, meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi,” kata Iqbal.
Selain traktor, Iqbal juga menyinggung penelitian mengenai modifikasi dan uji kinerja aplikator kompos untuk tanaman padi, tebu, dan hortikultura.
Inovasi semacam itu menunjukkan bahwa mekanisasi pertanian tidak berhenti pada penggunaan alat besar, tetapi juga menyangkut penyesuaian teknologi dengan kebutuhan lokal.
Iqbal menilai alat dan mesin pertanian merupakan fondasi sistem pertanian yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Penerapannya harus sesuai dengan kondisi lokal, layak secara ekonomi, dan ramah lingkungan. Di era digital, menurut dia, alsintan berkembang menuju sistem berbasis data, otomasi, dan kecerdasan buatan.
Perkembangan itu membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional. Namun peluang tersebut memerlukan integrasi antara riset, kebijakan, industri, dan petani sebagai pengguna teknologi di lapangan.
Prof. Adiansyah dan Edible Packaging
Pidato terakhir disampaikan Prof Dr Adiansyah Syarifuddin STP MSi. Ia memaparkan penelitian berjudul “Edible Packaging: Strategi Inovatif dan Berkelanjutan untuk Memperpanjang Masa Simpan Produk Pangan”.
Adiansyah menjelaskan edible packaging sebagai generasi ketiga kemasan pangan. Kemasan ini diklasifikasikan menjadi dua bentuk utama, yakni edible film dan edible coating. Keduanya dibuat dari biopolimer yang dapat dimakan serta bahan aditif berstandar pangan.
Lapisan tipis tersebut berfungsi melindungi produk pangan dari kerusakan fisik, kimia, dan biologis. Selain itu, kemasan ini dapat menghambat migrasi kelembapan, menekan pertumbuhan mikroba di permukaan, serta meningkatkan kualitas produk karena kemampuannya menjadi penghalang terhadap gas, minyak, dan senyawa volatil.
Menurut Adiansyah, edible packaging tidak hanya dirancang agar dapat dimakan. Kemasan ini juga mudah terurai secara hayati dan mendukung prinsip keberlanjutan.
Konsepnya mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari ekstraksi bahan baku, teknologi proses, regulasi, hingga kontribusi terhadap ekonomi sirkular.
“Ini merupakan sistem yang kompleks, karena melibatkan kompleksitas material sebagai bahan penyusun, teknologi proses, regulasi, dan perilaku konsumen,” kata Adiansyah.
Ia menilai pengembangan edible packaging semakin relevan karena persoalan sampah plastik dan meningkatnya tuntutan terhadap kemasan ramah lingkungan.
Namun pengembangan teknologi ini tidak bebas tantangan. Salah satunya adalah stabilitas material. Kemasan harus mampu mempertahankan fungsi protektif selama proses produksi, distribusi, penyimpanan, hingga konsumsi.
Tantangan itu muncul karena edible packaging umumnya tersusun dari biopolimer alami seperti pati, protein, dan polisakarida yang sensitif terhadap suhu, kelembapan, dan cahaya.
Dalam kerangka itu, riset edible packaging tidak hanya menjadi isu teknologi pangan. Ia juga berkaitan dengan kebijakan lingkungan, perilaku konsumen, dan model industri pangan masa depan.
Bagi Adiansyah, kemasan pangan berkelanjutan menjadi salah satu jalan untuk memperpanjang masa simpan produk sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik konvensional.
Melalui empat pidato tersebut, pengukuhan profesor Unhas menegaskan arah riset kampus yang bergerak dari pelestarian nilai lokal hingga pencarian solusi bagi masalah pangan dan lingkungan.
Humaniora, teknologi pascapanen, mekanisasi pertanian, dan kemasan berkelanjutan ditampilkan sebagai bidang yang berbeda, tetapi bertemu pada satu kebutuhan yang sama, yakni menjawab persoalan masyarakat secara ilmiah dan terukur. (*)
(Rahmatia Ardi / Unhas TV)








