Karir
Pendidikan

4 Profesor Baru Unhas Tawarkan Gagasan Kesantunan Bugis, Beras Sehat, Alsintan, dan Kemasan Pangan Berkelanjutan

GURU BESAR - Pengukuhan guru besar Unhas dari Fakultas Ilmu Budaya Prof Dr Kamsinah MHum dan dari Fakultas Teknologi Pertanian Prof Ir Andi Nur Faidah Rahman STP MSi PhD di Ruang Senat Akademik, Gedung Rektorat LT 2, Senin (25/5/2026). (Dok Humas Unhas)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas untuk Upacara Penerimaan Jabatan Profesor di Ruang Senat Akademik Unhas, lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Tamalanrea, Makassar, Senin (25/5/2026).

Empat guru besar baru dari Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Teknologi Pertanian menyampaikan pidato penerimaan profesor dengan tema yang bergerak dari kajian kesantunan berbahasa Bugis hingga inovasi kemasan pangan ramah lingkungan.

Keempat profesor itu ialah Prof Dr Kamsinah MHum, Prof Ir Andi Nur Faidah Rahman STP MSi PhD, Prof Dr Ir Iqbal STP MSi IPM, serta Prof Dr Adiansyah Syarifuddin STP MSi.

Dalam forum akademik tersebut, masing-masing memaparkan hasil pemikiran dan penelitian yang dinilai memiliki relevansi strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pangan, dan teknologi pertanian.

Acara berlangsung khidmat hingga pukul 11.30 WITA. Melalui pengukuhan ini, Unhas menampilkan spektrum keilmuan yang luas.

Dari sisi humaniora, pidato Profesor Kamsinah menyoroti pentingnya membaca ulang teori Barat melalui nilai lokal Bugis.

Dari sisi teknologi pertanian, tiga pidato lain --Prof Nur Faidah, Prof Iqbal, dan Prof Adiansyah -- menekankan kebutuhan inovasi pascapanen, mekanisasi pertanian, serta kemasan pangan berkelanjutan.

Prof Kamsinah dan Kesantunan Berbahasa Bugis

Pidato pertama disampaikan Prof Dr Kamsinah MHum. Ia mengangkat tema “Meninjau Ulang Universalitas Teori Kesantunan Barat: Value Saving Model of Politeness Perspektif Sosiopragmatik Bugis”.

Dalam pidatonya, Kamsinah mempersoalkan kecenderungan teori kesantunan Barat yang terlalu menekankan penyelamatan muka individu. Menurut Kamsinah, masyarakat Bugis memiliki basis kesantunan yang lebih kompleks.

Bahasa tidak hanya dipakai untuk menjaga hubungan antarindividu, tetapi juga untuk merawat nilai sosial, legitimasi, kehormatan, dan martabat kolektif. Karena itu, ia menawarkan model kesantunan yang disebut Value Saving Model of Politeness.

“Berdasarkan pembacaan sosiopragmatik terhadap data budaya Bugis, saya mengajukan formulasi teoritis yang disebut Value Saving Model of Politeness,” kata Kamsinah.

Model itu, menurut dia, berangkat dari gagasan bahwa tujuan utama kesantunan bukan sekadar menyelamatkan muka individual, melainkan menjaga nilai-nilai yang memungkinkan masyarakat hidup bermartabat.

Kamsinah menjelaskan sosiopragmatik sebagai cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggunaan bahasa dalam konteks sosial dan budaya.

Bidang ini mempertemukan perhatian pragmatik terhadap makna ujaran dengan perhatian sosiolinguistik terhadap norma, relasi kuasa, hierarki, identitas, dan nilai budaya.

Dalam pembacaannya, tradisi manuskrip Bugis menjadi sumber penting. Ia menyebut Lontara sebagai salah satu kekayaan terbesar peradaban Bugis.

Teks seperti Lontara Latoa dan naskah yang memuat petuah kebangsawanan serta ketatanegaraan Wajo, kata dia, tidak cukup dibaca sebagai sastra masa lampau.

Kamsinah menilai manuskrip tersebut dapat diposisikan sebagai korpus pragmatik historis. Di dalamnya tersimpan jejak cara masyarakat Bugis memahami relasi sosial, kekuasaan, kritik, tanggung jawab, dan kehormatan.

Melalui pendekatan sosiopragmatik, teks-teks itu menjadi laboratorium teoritis bagi pengembangan kajian bahasa berbasis budaya lokal.

Ia menemukan tiga pola utama dalam relasi tutur Bugis, yakni tuturan langsung sebagai kedekatan bermartabat, tuturan formal sebagai wibawa institusional, dan teguran sebagai loyalitas moral.

Dari pola itu, Kamsinah merumuskan lima pilar Value Saving Model of Politeness. Kelimanya ialah Moral Dignity Preservation, Social Legitimacy Maintenance, Role Accountability, Relational Harmony, dan Collective Honour Protection.

Prof Faidah Rahman dan Teknologi Pascapanen Beras

Pidato berikutnya disampaikan Prof Ir Andi Nur Faidah Rahman STP MSi PhD. Ia mengangkat tema “Penerapan Teknologi Pascapanen Beras sebagai Strategi Inovatif untuk Peningkatan Mutu, Nilai Ekonomi, dan Ketahanan Pangan bagi Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat”.

Faidah menjelaskan bahwa teknologi pascapanen merupakan bagian penting dalam sistem pertanian. Penanganan setelah panen menentukan kualitas hasil pertanian, termasuk beras sebagai pangan utama masyarakat Indonesia.

Kesalahan dalam tahap pascapanen dapat menyebabkan susut hasil, kerusakan fisik, penurunan mutu, serta berkurangnya kandungan gizi.

“Teknologi pascapanen beras merupakan serangkaian perlakuan dan penanganan yang dilakukan terhadap padi atau gabah setelah panen hingga menjadi beras yang siap dikonsumsi atau dipasarkan,” ujar Faidah.

Tujuannya, kata dia, adalah mengurangi susut hasil, mempertahankan mutu fisik dan gizi, mencegah kerusakan selama penyimpanan, serta meningkatkan nilai ekonomi beras.

Salah satu perhatian Faidah adalah pengembangan beras kesehatan atau beras fungsional. Beras jenis ini memiliki kandungan bioaktif yang memberi efek bagi kesehatan.

Dalam penelitiannya, penerapan teknologi pascapanen melalui proses perkecambahan dapat meningkatkan kandungan Gamma Aminobutyric Acid atau GABA.

GABA merupakan senyawa yang dapat meningkat signifikan selama proses perkecambahan. Proses ini juga memicu perubahan biokimia dalam biji-bijian, termasuk peningkatan vitamin, asam amino esensial, dan antioksidan.

Karena itu, perkecambahan gabah dinilai dapat meningkatkan mutu pascapanen beras, baik dari sisi nilai gizi maupun kualitas fisik.

Faidah mengatakan kontribusi utama penelitiannya terletak pada pengembangan metode inovatif untuk meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi beras. Temuan ini diharapkan dapat menjawab tantangan mutu hasil panen sekaligus memperkuat daya saing beras lokal di pasar internasional.

Menurut dia, teknologi pascapanen tidak hanya berdampak pada produk akhir. Bila mutu beras meningkat, harga jual dapat terdongkrak. Pada akhirnya, manfaat ekonomi dapat kembali kepada petani.

Dengan kata lain, inovasi pascapanen menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pertanian.

Prof Iqbal dan Inovasi Alat Mesin Pertanian

>> Baca Selanjutnya