Karir
Mahasiswa
Pendidikan

Tembus Top 1000 Dunia, Rektor Unhas Tekankan Learning Agility sebagai Daya Saing Global Lulusan

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc saat tampil memberikan sambutan dalam Wisuda Periode April 2026 di Baruga AP Pettarani, Rabu (1/4/2026). (Dok Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadikan wisuda periode April 2026 sebagai panggung untuk menegaskan dua hal sekaligus, yakni capaian institusi di level global dan tuntutan baru bagi lulusannya.

Dalam Wisuda yang digelar di Baruga AP Pettarani Unhas, Rabu (1/4/2026), Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa menekankan bahwa masuknya kampus itu ke jajaran top 1000 dunia harus dibaca bukan sebagai titik puas, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Di hadapan para wisudawan, Jamaluddin menyebut tahun 2025 sebagai momentum bersejarah bagi Universitas Hasanuddin.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kampus itu, Unhas masuk dalam daftar top 1000 dunia versi QS World University Rankings, tepatnya di peringkat 950.

Di tingkat Asia, Unhas berada pada urutan 201. Capaian itu, kata dia, menandai bahwa Unhas mulai diperhitungkan dalam peta perguruan tinggi global.

“Tahun 2025 adalah kita buat sejarah pertama kali dalam sejarah Universitas Hasanuddin akhirnya listed dalam yang disebut dengan top 1000, tepatnya 950 dalam world class university kategori QS World University Ranking,” kata Prof Jamaluddin dalam pidatonya.

Menurut dia, pencapaian tersebut tidak datang dengan mudah. Dari ratusan ribu perguruan tinggi di dunia, Unhas akhirnya masuk dalam kelompok seribu besar setelah melalui upaya panjang. Namun ia mengingatkan, ranking bukan tujuan akhir.

Posisi itu lebih tepat diperlakukan sebagai alat ukur untuk menilai apakah universitas bergerak di jalur yang benar dalam meningkatkan mutu akademik, riset, dan kontribusi sosial.

Pesan itu sengaja diletakkan dalam momentum wisuda. Bagi rektor, wisuda bukan sekadar penanda tuntasnya studi, melainkan titik berangkat lulusan untuk memasuki dunia profesional yang semakin keras bersaing.

Karena itu ia meminta para alumni tidak berhenti belajar hanya karena telah menyandang gelar. Ia menawarkan satu istilah yang, menurut dia, harus masuk dalam “kamus” setiap lulusan: learning agility.

Yang Prof JJ maksud adalah kelincahan untuk belajar, beradaptasi, dan merespons perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan berpikir kritis.

“Sebagai alumni, saya ingin menawarkan dan mengharapkan satu hal yang harus masuk di dalam dictionary, di dalam kamus Bapak Ibu semua, yang disebut dengan learning agility,” ujar Jamaluddin. “Kita harus selalu berpikir kritis dan juga memiliki keinginan untuk lifelong learning.”

Menurut dia, dunia sedang bergerak dalam tekanan krisis yang saling bertumpuk, dari persoalan energi, geopolitik, hingga persaingan teknologi. Dalam situasi seperti itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya menguasai pengetahuan teknis.

Mereka juga harus memiliki growth mindset, literasi digital, dan kemampuan menilai informasi secara logis agar tidak mudah terjebak disinformasi.

Prof Jamaluddin menegaskan, literasi digital kini bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan dasar. Namun kemampuan menggunakan gawai, internet, atau komputer saja tidak cukup.

Semua itu harus disertai daya nalar, kemampuan validasi informasi, dan kemauan menghasilkan inovasi yang bertanggung jawab.

Selain kesiapan intelektual, ia juga menyinggung pentingnya kecakapan mengelola hidup, termasuk keuangan pribadi. Lulusan, kata dia, harus mampu bersikap bijak, tidak impulsif, dan melihat tekanan zaman sebagai ruang untuk menciptakan solusi.

Melalui nilai-nilai almamater, Unhas berharap para lulusan tidak berhenti sebagai pencari kerja atau pemburu status sosial.

Kampus itu ingin mereka hadir sebagai motor penggerak perubahan, memperkuat daya saing bangsa, dan mengambil bagian dalam agenda besar menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam bahasa rektor, reputasi universitas hanya akan berarti jika lulusannya mampu menjawab masalah nyata masyarakat.

(Venny Septiani Semuel / Moh Resha Maharam / Unhas TV)