Sport

Akhirnya City Gusur Arsenal dari Puncak Klasemen, Tapi Lini Depan Buang-buang Peluang



Kapten Burnley Kyle Walker terdegradasi oleh tim lamanya. (The Sun/Shutter Stock)


Gol cepat tersebut semestinya cukup untuk menenangkan City. Apalagi Burnley datang dengan tekanan besar, kekalahan akan memastikan degradasi mereka ke Championship.

Namun alih-alih mengendalikan laga sepenuhnya, City justru terlihat tidak sepenuhnya lepas. Burnley bertahan rapat, tetapi juga sempat menciptakan beberapa peluang yang membuat pertandingan tetap terbuka.

Zian Flemming memperoleh dua kesempatan yang cukup baik, meski keduanya belum mengarah tepat sasaran. James Ward-Prowse juga sempat mengirim bola mati berbahaya ke belakang garis pertahanan City, memaksa Nico O’Reilly bekerja keras menghalau peluang Burnley.

Di sisi lain, O’Reilly yang dimainkan lebih maju di lini tengah karena absennya Rodri juga nyaris memperlebar keunggulan City, tetapi peluangnya digagalkan.

Babak kedua memberi gambaran yang lebih jelas tentang problem utama City malam itu, tumpul di momen yang seharusnya menentukan.

Cherki bergerak menusuk dan mengalirkan bola kepada Semenyo, tetapi peluang itu terangkat di atas mistar. Haaland lalu memanfaatkan bola pantul liar, hanya untuk melihat tembakannya mengenai sisi luar tiang.

Savinho, yang masuk dari bangku cadangan, juga memperoleh ruang di tiang jauh, namun masih bisa diblok. Kesempatan demi kesempatan terus datang, tetapi tak satu pun memberi ketenangan.

Haaland sendiri kembali menyia-nyiakan peluang emas ketika menerima umpan mendatar di kotak penalti. Tembakannya justru melambung. O’Reilly menjadi salah satu pemain yang paling menyesali kegagalan menambah gol pada fase akhir laga.

Pada titik itu, pertandingan yang semula diperkirakan akan berakhir dengan kemenangan telak City berubah menjadi laga yang rapuh, dengan Burnley tetap memiliki harapan sampai menit terakhir.

Kemenangan ini tetap bernilai besar bagi City. Mereka kini memimpin klasemen, unggul selisih gol tipis atas Arsenal, dan menjaga kendali dalam perebutan gelar.

Tetapi performa di Turf Moor menunjukkan bahwa status pemuncak klasemen belum membuat mereka otomatis menjadi favorit mutlak.

Burnley memang akhirnya terdegradasi, sesuai kecenderungan yang sudah terlihat sejak musim gugur. Namun tim yang sedang menuju Championship itu justru mampu membuat City berkeringat.

Dalam perburuan gelar yang begitu ketat, tiga poin adalah hal utama. Namun bagi City, persoalannya tidak berhenti di sana.

Ketika pertandingan-pertandingan sisa bisa ditentukan oleh margin sekecil selisih gol, kemenangan tipis atas lawan yang sudah di ambang degradasi dapat dibaca sebagai alarm.

Guardiola mendapat hasil yang diinginkan. Tapi cara timnya meraihnya menunjukkan perlombaan ini masih jauh dari selesai. (*)