
Pelatih Liverpool Arne Slot meluapkan kekesalannya saat timnya gagal memanfaatkan peluang dalam lga kontra Arsenal di Emirates Stadium, Kamis (8/1/2026). (screenshot the sun)
Atmosfer pra-pertandingan di Emirates mencerminkan perubahan besar dalam beberapa musim terakhir, dari stadion penuh harapan menjadi arena dengan ekspektasi tinggi.
Namun, sisa-sisa kegugupan masih terasa. Terlalu banyak peluang nyaris di era Arteta membuat sebagian pendukung waswas, bahkan terhadap hasil imbang seperti ini.
Liverpool sendiri datang dengan sejumlah nama absen penting, termasuk Hugo Ekitike, Mohamed Salah, dan Alexander Isak.
Meski sempat memanfaatkan keraguan Arsenal pada paruh kedua, tim asuhan Arne Slot tak pernah benar-benar tampak mampu melayangkan pukulan penentu.
Slot sebelumnya menyebut permainan timnya belakangan mungkin terlihat “membosankan”, dan laga ini memperkuat kesan itu: rapi, disiplin, namun minim daya rusak.
Satu-satunya momen yang nyaris mengubah jalannya laga hadir pada menit ke-27. Berawal dari umpan balik panik William Saliba, kiper David Raya hampir melakukan blunder.
Bola justru jatuh ke kaki Bradley, yang dengan tenang mencungkil melewati Raya. Emirates terdiam sesaat sebelum si kulit bundar membentur mistar gawang dan memantul keluar.
Selain insiden itu, Arsenal lebih banyak menguasai wilayah permainan, terutama lewat sisi kanan. Kombinasi Saka dan Jurrien Timber berulang kali menekan Kerkez, yang kerap dibiarkan tanpa perlindungan memadai oleh Cody Gakpo.
Namun, umpan akhir Arsenal kerap kurang presisi. Alisson sempat menggagalkan peluang Saka dan Declan Rice, sementara tembakan Leandro Trossard dari skema serangan balik hanya menghasilkan sepak pojok setelah terdefleksi.
Ketegangan sempat meningkat ketika Arsenal tetap melanjutkan permainan saat Jeremie Frimpong terkapar akibat benturan.
Virgil van Dijk memprotes keras keputusan tersebut, memicu adu mulut antarpemain yang membuat wasit Anthony Taylor harus bekerja ekstra meredam emosi. Declan Rice terlihat menjelaskan bahwa permainan tak wajib dihentikan kecuali terjadi cedera kepala.
Babak kedua berlangsung lebih tegang. Arsenal sempat beruntung ketika Florian Wirtz terjatuh di kotak penalti usai bersenggolan dengan Trossard. VAR menilai tak ada pelanggaran.
Liverpool menguasai bola lebih lama, tetapi tetap gagal memaksa Raya melakukan penyelamatan krusial. Tendangan bebas Dominik Szoboszlai yang melintas tipis di sisi gawang menjadi ancaman terakhir yang berarti.
Di menit-menit akhir, Gabriel Jesus menyundul bola dengan lemah ke pelukan Alisson. Keributan kecil kembali terjadi setelah Gabriel Martinelli melempar bola ke arah Bradley yang cedera, memancing reaksi keras dari Ibrahima Konaté. Namun, insiden itu tak mengubah hasil akhir.
Bagi Arsenal, hasil imbang ini hanyalah riak kecil di jalan yang tampak semakin mulus. Dengan keunggulan enam poin dan konsistensi yang terjaga, tujuan akhir musim—mengakhiri puasa gelar liga selama 21 tahun—tetap terlihat jelas.
Di Emirates, champagne mungkin belum dibuka, tetapi keyakinan kian menguat bahwa garis finis semakin dekat. (*)








