Sport

Arsenal, Ujian Terakhir Unai Emery dan Aston Villa yang Tak Mau Berhenti

Pelatih Arsenal Mikel Arteta akan membawa Arsenal menantang Aston Villa dalam lanjutan Liga Premier pekan 19 di Emirates Stadium, Rabu (31/12/2025) malam. (screenshot the sun)

LONDON, UNHAS.TV - Pada pekan 18 Liga Inggris, Chelsea bermain di kandang sendiri, di Stamford Bridge saat menjamu Aston Villa. Joao Pedro membawa the Blues unggul 1-0 di laga boxing day pada 28 Desember 2025 itu.

Pasukan Enzo Maresca merasa telah mengendalikan permainan. Namun di babak kedua, mentor Villa, Unai Emery mengubah arah cerita hanya dengan satu keputusan. Ollie Watkins, yang duduk di bangku cadangan, dipanggil masuk.

Dua gol kemudian, Aston Villa pulang dengan tiga poin, memperpanjang rekor kemenangan menjadi sebelas laga beruntun, dan menjaga asa juara tetap menyala.

Di Premier League musim ini, sedikit pelatih yang mampu mengubah jalannya pertandingan seefektif Emery—seorang manajer yang kerap disebut sebagai yang terbaik dalam membaca pertandingan secara langsung.

Kemenangan Villa atas Chelsea bukanlah hasil dominasi mutlak. Di babak pertama, mereka kesulitan keluar dari tekanan.

Donyell Malen, yang dipercaya sebagai ujung tombak, terisolasi. Jarak antarlini terlalu jauh, dan bola jarang mencapai sepertiga akhir lapangan. Chelsea tampak nyaman.

Namun Emery melihat celah. Ia tidak panik. Ia menunggu momen yang tepat—dan pada menit ke-60, ia melakukan tiga pergantian krusial: Jadon Sancho, Amadou Onana, dan Ollie Watkins masuk.

Intensitas Villa pun berubah seketika. Watkins bukan hanya mencetak gol; ia mengubah geometri permainan. Dengan terus menekan bek terakhir, ia memaksa Chelsea menarik satu pemain tambahan ke belakang. Ruang pun terbuka.

Dua gol Watkins adalah puncak dari perubahan itu. Villa bukan hanya lebih berbahaya, tetapi juga lebih percaya diri. Emery kembali menunjukkan keahliannya: membaca momentum, lalu memelintirnya.

Kini, panggung berikutnya adalah Emirates Stadium, Rabu (31/12/2025) malam. Villa akan menantang Arsenal, pemuncak klasemen, di minggu ke-19 dengan peluang menyamai perolehan poin mereka.

Sebuah laga yang bukan sekadar duel dua tim papan atas, melainkan pertarungan dua gagasan: konsistensi struktural Arsenal melawan kecerdikan taktis Aston Villa.

Dilema di Lini Depan

Menariknya, performa Watkins justru menimbulkan dilema. Dalam permainan terbuka, ia lebih hidup, lebih agresif, dan lebih mengancam.

Tapi ketika Malen bermain, Villa kerap tampak lebih cair dalam membangun serangan. Pilihan siapa yang akan memulai laga sebagai starter melawan Arsenal menjadi teka-teki tersendiri.

Melawan Chelsea, Emery menyiasati masalah ini dengan mengubah peran Morgan Rogers. Di babak kedua, Rogers lebih dekat ke Malen, membantu menahan bek tengah lawan dan menjaga bola tetap berada di area berbahaya. Hasilnya, Villa bisa naik lebih tinggi dan tidak terus terkurung.

Jika Watkins adalah pemantik di depan, Amadou Onana adalah penyeimbang di tengah. Masuknya Onana membuat Villa bisa bernapas. Pergerakannya membuka jalur umpan, membuat aliran bola lebih lancar dari belakang ke depan.

Kehadirannya juga mengangkat performa Boubacar Kamara. Dengan dukungan di sampingnya, Kamara tidak lagi bekerja sendirian.

Youri Tielemans pun mendapat kebebasan untuk naik, menghubungkan lini tengah dan serangan. Villa mendadak terlihat lebih lengkap—sebuah tim yang tahu kapan menekan, kapan menunggu.

Dalam bayang-bayang nama besar, bek Villa Morgan Rogers bekerja dalam senyap. Dengan Kamara dan Onana menjaga keseimbangan, Rogers diberi ruang untuk berkreasi.

Ia hampir mencatat assist pada gol penyama kedudukan—sebuah momen yang memperlihatkan kecerdasan posisinya.

Rogers bukan hanya pemain menyerang. Ia rajin membantu bertahan, menutup ruang, dan menjaga bentuk tim. Dalam sistem Emery yang mengutamakan struktur, pemain seperti Rogers menjadi kunci: fleksibel, disiplin, dan paham peran.

Benteng yang Sulit Ditembus

Menghadapi Aston Villa bukan perkara mudah. Struktur bertahan mereka rapat, berbentuk kotak di tengah lapangan: dua gelandang bertahan tepat di depan dua bek tengah. Dua penyerang—biasanya gelandang serang dan striker—tetap berdekatan untuk menjaga jarak antarlini.

Bek sayap dan winger pun sering masuk ke dalam, membuat Villa sangat kompak saat bertahan. Chelsea, frustrasi, memilih memutar bola ke sisi lapangan.

Namun mereka jarang mengirim umpan silang berbahaya ke depan gawang. Mereka berputar, tapi tak pernah menembus. Arsenal bisa belajar dari situ.

Di Emirates, Arsenal punya senjata yang berbeda. Bukayo Saka di kanan, serta Gabriel Martinelli atau Leandro Trossard di kiri, mampu mengeksploitasi ruang sayap dengan lebih tajam.

Jika Villa tetap menjaga tengah, Arsenal harus berani menyerang dari sisi—bukan hanya menguasai bola, tetapi menusuk.

Declan Rice, jika kembali bermain sebagai bek kanan seperti saat melawan Brighton, bisa menjadi faktor kejutan. Mobilitas dan kecerdasannya memberi Arsenal keunggulan tambahan dalam transisi.

Cara Menghentikan Villa

Namun ada kabar baik bagi Arsenal: Aston Villa kehilangan Kamara dan Matty Cash akibat akumulasi kartu. Absensi ini bisa mengganggu keseimbangan mereka—terutama di tengah, area yang menjadi fondasi permainan Emery.

Arsenal harus memastikan Villa tidak nyaman memegang bola. Tekanan terukur, disiplin posisi, dan kesabaran menjadi kunci.

Tinggalkan dua bek tengah untuk mengawal satu striker, dengan tiga pemain di depannya sebagai lapisan pengaman. Jika bola liar jatuh ke kaki penyerang Villa, Arsenal harus sudah siap.

Laga ini adalah ujian kedewasaan. Bagi Aston Villa, ini kesempatan membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penantang sementara. Bagi Arsenal, ini momen untuk menunjukkan bahwa mereka bisa mematikan momentum lawan yang sedang panas.

Unai Emery akan datang dengan rencana, seperti biasa. Tapi di Emirates, Arsenal punya peluang untuk menghentikan laju Villa—dan mungkin, menghentikan mimpi gelar mereka. Di Premier League, satu malam bisa menentukan segalanya. (*)