JAKARTA, UNHAS.TV - Upaya memperluas akses informasi pendidikan global dan memperkuat jejaring internasional kembali diperlihatkan melalui penyelenggaraan Webinar Series Atdikbud dan Wadetap RI–UNESCO Tahun 2026.
Kegiatan daring (25/04) yang digagas oleh para Atase Pendidikan dan Kebudayaan dan Wakil Delegasi tetap Unesco ini dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum.
Antusiasme peserta mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan informasi yang kredibel terkait peluang studi luar negeri, riset kolaboratif, serta dinamika pendidikan global.
Webinar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan diplomasi pendidikan Indonesia dalam memperluas konektivitas lintas negara.
Kegiatan dibuka secara resmi melalui arahan dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto.

Dalam pernyataannya, Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa penguatan fondasi pendidikan harus dimulai sejak dini.
“Penguatan literasi dasar dan pembentukan karakter merupakan kunci untuk menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dalam lanskap global. Internasionalisasi pendidikan tidak boleh hanya dimulai di perguruan tinggi, tetapi harus dibangun sejak jenjang sekolah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendidikan Indonesia perlu semakin terbuka terhadap praktik-praktik global yang relevan, tanpa kehilangan akar nilai kebangsaan.
“Kita perlu memastikan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kompetensi global, namun tetap berakar pada identitas dan karakter bangsa,” lanjutnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, menekankan pentingnya kolaborasi internasional sebagai strategi utama dalam pengembangan pendidikan tinggi dan riset nasional.
“Di tengah kompleksitas tantangan global saat ini, kolaborasi lintas negara menjadi keharusan. Kita perlu mendorong riset yang berdampak, memperkuat ekosistem inovasi, serta membuka ruang bagi talenta Indonesia untuk berkontribusi di tingkat global,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus mampu menjadi motor penggerak transformasi. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga pusat inovasi yang terhubung dengan jejaring global. Di sinilah peran kolaborasi internasional menjadi sangat strategis,” tambahnya.
Jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri menunjukkan tren peningkatan yang cukup konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan rujukan dari UNESCO Institute for Statistics, jumlah tersebut berada pada kisaran sekitar 59.000 hingga 59.224 mahasiswa pada 2024, dengan data sebelumnya mencatat sekitar 62.828 mahasiswa pada 2022.
Variasi angka ini umumnya disebabkan oleh perbedaan tahun rujukan dan metode penghitungan. Secara global, Indonesia menempati posisi sekitar peringkat ke-22 dunia dalam jumlah mahasiswa yang belajar ke luar negeri.
Di tingkat regional, Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, berada di posisi kedua setelah Vietnam. Kenaikan ini mencerminkan tren pertumbuhan mobilitas pelajar yang signifikan sejak 2017, dengan peningkatan sekitar 20–30 persen.
Adapun negara tujuan utama mahasiswa Indonesia meliputi Australia, Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, serta sejumlah negara di Eropa Barat. Pola ini menunjukkan semakin beragamnya orientasi pendidikan tinggi Indonesia dalam merespons peluang global.
Webinar ini menghadirkan perspektif yang luas melalui partisipasi 14 Atase Pendidikan dan Kebudayaan dari berbagai negara, serta Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO.
Keterlibatan lintas kawasan ini memperlihatkan bagaimana diplomasi pendidikan Indonesia dijalankan secara aktif dan terkoordinasi. Para Atase Pendidikan dan Kebudayaan tidak hanya berperan sebagai fasilitator informasi, tetapi juga sebagai penghubung strategis dalam membangun kemitraan pendidikan, membuka peluang beasiswa, serta mendorong kolaborasi riset antarnegara.
Dalam konteks yang lebih luas, peran Indonesia di UNESCO menjadi penting dalam mendorong agenda global di bidang pendidikan, sains, dan kebudayaan, sekaligus memastikan bahwa kepentingan nasional tetap terartikulasikan dalam kerangka kerja sama internasional.
Rangkaian webinar ini dirancang berlangsung selama lebih dari satu pekan, mulai 25 April hingga 5 Mei 2026. Setiap sesi menghadirkan fokus kawasan yang berbeda, sehingga peserta memperoleh gambaran komprehensif mengenai peluang pendidikan di berbagai belahan dunia.
Sesi pembukaan diawali dengan pembahasan terkait Jerman, dilanjutkan dengan kawasan Pasifik seperti Papua Nugini dan Vanuatu, kemudian Timor Leste dan Republik Palau.
Selanjutnya, sesi akan mengulas kawasan Timur Tengah dan Eropa melalui paparan dari Mesir, Arab Saudi, dan Belanda. Kawasan Asia Tenggara dan Australia juga mendapat perhatian khusus melalui sesi Thailand, Filipina, dan Australia.
Pada tahap berikutnya, fokus bergeser ke Asia Timur dengan pembahasan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan, sebelum ditutup dengan sesi Amerika Serikat, Rusia, dan UNESCO.
Dengan partisipasi yang tinggi dan cakupan materi yang luas, kegiatan ini menunjukkan bahwa minat terhadap pendidikan internasional di Indonesia tetap kuat. Ke depan, inisiatif serupa diperkirakan akan menjadi instrumen penting dalam membangun sumber daya manusia yang adaptif, kolaboratif, dan mampu menjawab tantangan global yang terus berkembang.
undefined








