
Bukayo Saka mengirim Arsenal ke final Liga Champions. (The Sun/Getty)
Meski Arsenal lebih banyak menguasai bola pada awal pertandingan, peluang berbahaya justru lebih dulu datang dari tim tamu. Julian Alvarez sempat memperoleh kesempatan, tetapi sepakannya melebar.
Tidak lama berselang, Rice harus membantu David Raya setelah kiper Arsenal itu terlihat kurang sempurna mengantisipasi umpan silang Antoine Griezmann yang mengarah ke Giuliano Simeone.
Arsenal baru benar-benar mengancam sebelum gol terjadi. Gabriel sempat melepaskan tendangan jarak jauh yang meluncur tipis di sisi gawang.
Ben White kemudian menjadi bagian penting dari proses gol pembuka. Umpannya menemukan Gyokeres, yang bergerak ke sisi lapangan sebelum mengirim bola ke Leandro Trossard.
Trossard mencoba mencari celah untuk menembak. Jan Oblak mampu menepis bola, tetapi Saka berada di posisi tepat.
Dalam keadaan tidak terjebak offside, ia menyodok bola ke gawang Atletico.Emirates meledak. Gol itu mengubah wajah pertandingan. Atletico kini harus mencetak gol untuk menjaga asa.
Lima menit setelah babak kedua dimulai, peluang emas Atletico datang. William Saliba salah membaca bola panjang sederhana.
Kesalahan itu membuat Giuliano Simeone bebas berhadapan dengan Raya. Putra pelatih Atletico itu melewati sang kiper dan tampak tinggal mendorong bola ke gawang kosong.
Namun Gabriel datang pada saat yang menentukan. Bek Brasil tersebut menjatuhkan tubuhnya, merangkul ruang gerak Simeone dengan kaki dan badannya, lalu memaksa bola keluar lapangan.
Itu bukan sekadar tekel. Itu momen yang menyelamatkan musim Arsenal. Sebuah aksi bertahan yang nilainya setara dengan gol.
Tak lama kemudian, Raya kembali bekerja keras dengan menepis peluang Griezmann. Atletico mencoba meningkatkan tekanan. Diego Simeone tampak seperti banteng gelisah di tepi area teknis, terus memberi instruksi dan mendorong para pemainnya mencari gol penyama.
Arsenal punya kesempatan untuk membuat laga lebih tenang. Gyokeres memperoleh peluang dari umpan Piero Hincapie, tetapi penyelesaian dengan kaki bagian dalamnya melambung di atas mistar. Kesempatan itu terbuang, dan pertandingan terus berjalan dalam ketegangan.
Lewis-Skelly akhirnya ditarik keluar dan mendapat tepuk tangan berdiri dari pendukung Arsenal. Ia digantikan Martin Zubimendi. Bagi pemain muda itu, laga ini bisa menjadi titik balik karier. Dalam pertandingan sebesar ini, ia menunjukkan bahwa keberanian Arteta bukan tanpa alasan.
Menit-menit akhir menjadi ujian saraf. Atletico terus mencari celah, tetapi Arsenal bertahan dengan hati dan disiplin. Gabriel menjadi tembok. Rice menjaga ritme. Saka, meski bukan pemain paling menonjol sepanjang laga, menjadi penentu sejarah.
Ketika peluit panjang berbunyi, Emirates kembali meledak. Arsenal melangkah ke final Liga Champions kedua dalam sejarah klub, sekaligus yang pertama sejak dua dekade lalu.
Malam itu, mereka bukan hanya menang. Mereka membuktikan bahwa tekanan besar bisa dihadapi dengan keberanian, organisasi, dan keyakinan.
Kini kejayaan berdiri di depan mata The Gunners. Mereka tahu pekerjaan belum selesai. Namun setelah malam penuh keberanian di London utara, Arsenal percaya bahwa musim ini bisa menjadi babak paling gemilang dalam sejarah klub. (*)








