
BARONGKO - Ananda Awalia Nurfadhya - Mahasiswa S2 Antropologi Unhas yang melakukan penelitian tentang kue khas Bugis Makassar, Barongko. Penganan yang menjadi salah satu pemulih ingatan kolektif orang Bugis-Makassar. (Dok Unhas TV)
Daya ingat barongko terasa lebih kuat ketika seseorang meninggalkan Sulawesi Selatan. Dalam penelusuran Awalia di media sosial, sejumlah perantau menuliskan kerinduan pada barongko. Ada yang membayangkan kebahagiaan ketika kerabat atau tetangga datang membawa beberapa bungkus kudapan tersebut.
Makanan menjadi semacam alamat portabel. Kampung halaman dapat dilipat dalam daun pisang dan dibawa menyeberangi laut.
Nostalgia semacam itu bukan usaha memutar waktu secara harfiah. Seorang perantau mungkin dapat membeli barongko dengan rasa yang sama. Namun ia tidak mungkin sepenuhnya kembali ke dapur nenek, rumah lama, atau usia ketika pertama kali mencicipinya.
Awalia menggambarkan nostalgia sebagai kerinduan pada sebuah peristiwa yang tak dapat diulang, meskipun benda yang memicu kenangan tersebut masih tersedia. Barongko masih dapat ditemukan. Momen ketika keluarga membuat dan memakannya bersama mungkin tidak pernah kembali.
Ilmu tentang memori aroma membantu menjelaskan mengapa pengalaman itu terasa kuat. Herz menemukan bahwa aroma yang memicu kenangan pribadi dapat meningkatkan emosi positif, rasa nyaman, dan keterhubungan sosial.
Namun efeknya sangat individual. Aroma yang menyenangkan bagi seseorang belum tentu membawa kenangan yang sama bagi orang lain. Asosiasi terbentuk melalui pengalaman hidup dan kebudayaan tempat seseorang tumbuh.
Bagi perantau Bugis-Makassar, barongko dapat menjadi pengikat antara identitas pribadi dan identitas kelompok. Ia menandai asal-usul tanpa memerlukan pidato panjang.
Ketika disajikan kepada teman dari daerah lain, barongko juga menjadi alat perkenalan budaya. Orang tidak sekadar diberi makanan. Mereka diajak memasuki cerita tentang keluarga, tanaman pisang, cara membungkus, dan kebiasaan menjamu tamu.
Media Sosial: Ancaman Sekaligus Jalan Pulang
Awalia memulai penelitiannya dari kegelisahan terhadap media sosial. Namun ia tidak menempatkan platform digital semata-mata sebagai musuh.
Algoritma memang dapat mempercepat demam makanan baru. Satu video viral bisa membuat orang mengantre berjam-jam untuk kudapan yang baru mereka dengar kemarin. Namun mesin yang sama dapat digunakan untuk menampilkan kembali makanan tradisional.
“Ketika ada seseorang yang mulai mengeksplorasi jajanan tradisional, itu mudah berkembang menjadi tren,” kata Awalia.
Menurut dia, unggahan tokoh terkenal atau kreator konten dapat mendorong rasa ingin tahu anak muda. Fenomena *fear of missing out* atau FOMO tidak selalu buruk. Ia dapat diarahkan agar orang memburu barongko, bukan hanya croissant hasil kawin silang yang namanya lebih sulit dieja daripada resepnya.
Riset digital menunjukkan bahwa percakapan tentang makanan di media sosial dapat mencerminkan identitas, lokasi, dan karakter sebuah komunitas. Unggahan makanan bukan tindakan remeh. Ia ikut membentuk apa yang dianggap menarik, layak dicoba, dan bernilai di ruang publik.
Tantangannya adalah menghindari pelestarian yang hanya cantik di layar. Barongko dapat difoto menggunakan pencahayaan bagus, diberi kemasan modern, atau dijadikan konten video pendek.
Namun keberlanjutannya tetap bergantung pada orang yang menanam bahan, memasak, mengajarkan teknik, membeli produk, serta menyediakan ruang ekonomi bagi pembuatnya. Tanpa rantai tersebut, popularitas digital hanya menjadi kembang api: terang sebentar, kemudian gelap.
Inovasi kemasan juga perlu dilakukan tanpa menghapus pengetahuan dasar. Penyajian dalam wadah plastik atau kotak dapat memudahkan distribusi dan memperluas pasar. Namun daun pisang bukan sekadar dekorasi.
Daun itu membawa aroma, menjaga kelembapan, sekaligus menjadi penanda visual yang melekat pada identitas barongko. Inovasi yang baik seharusnya memberi pilihan, bukan menghapus bentuk lama.
Manis yang Perlu Diukur
Sebagai makanan, barongko tetap perlu dibaca secara jernih. Pisang memberikan karbohidrat dan rasa manis alami. Telur menyumbang protein serta lemak. Santan menghadirkan rasa gurih dan tekstur lembut. Adapun gula tambahan meningkatkan rasa manis dan jumlah energi.
Nilai gizinya bergantung pada ukuran porsi dan komposisi resep. Setiap rumah atau produsen dapat menggunakan takaran berbeda. Karena itu, tidak tepat menganggap semua barongko memiliki kandungan gizi yang sama.
Kesadaran kesehatan justru dapat membuka ruang inovasi. Awalia menemukan varian dengan gula lebih sedikit, tanpa tambahan gula, atau tambahan bahan lain yang menyesuaikan kebutuhan konsumen.
Langkah ini relevan karena Organisasi Kesehatan Dunia menganjurkan pembatasan gula bebas hingga kurang dari 10 persen total energi harian. WHO juga menyarankan masyarakat membatasi lemak jenuh serta membangun pola makan berdasarkan prinsip kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman.
Namun WHO menegaskan bahwa pola makan sehat dapat memiliki banyak bentuk serta tetap perlu mempertimbangkan konteks budaya dan bahan pangan lokal.
Pesannya sederhana: melestarikan barongko bukan berarti memakannya tanpa batas. Tradisi tidak memerlukan pembelaan dengan mengabaikan kesehatan.
Porsi wajar, resep yang lebih terukur, dan informasi bahan yang jelas justru dapat membuat kudapan ini diterima lebih luas, termasuk oleh konsumen yang memperhatikan asupan gula atau lemak.
Makanan tradisional juga tidak otomatis sehat hanya karena dibuat berdasarkan resep lama. Sebaliknya, makanan modern tidak otomatis lebih unggul hanya karena tampil dalam kemasan mahal.
Keduanya perlu dinilai melalui bahan, proses, porsi, kebersihan, dan konteks konsumsi. Barongko memiliki keuntungan karena bahan dasarnya mudah dikenali dan proses pembuatannya menggunakan teknik kukus, bukan goreng. Namun tambahan gula dan santan tetap menuntut kendali.
Kenangan yang Tak Selalu Lahir di Rumah
Keluarga memang menjadi agen utama pewarisan. Namun memori tentang barongko tidak selalu bermula dari dapur ibu.
Salah seorang informan muda Awalia pertama kali mencicipi barongko ketika berusia sekitar lima atau tujuh tahun. Saat itu ia sedang melakukan perjalanan pada bulan Ramadan dan menerima makanan untuk berbuka puasa.
Bertahun-tahun kemudian, rasa barongko tetap membawanya kembali pada perjalanan tersebut. Cerita itu menunjukkan bahwa kenangan kuliner dapat terbentuk di mana saja: terminal, rumah tetangga, pesta perkawinan, pasar, sekolah, masjid, atau perjalanan jauh.
Syaratnya bukan tempat yang mewah, melainkan pengalaman yang cukup kuat untuk diberi makna. Di situlah masa depan barongko dipertaruhkan. Kudapan itu tidak akan bertahan hanya karena sudah diberi label warisan budaya.
Ia bertahan bila anak-anak mengenal namanya, remaja mau mencicipinya, keluarga masih membuatnya, pedagang memperoleh penghasilan layak, dan masyarakat merasa makanan tersebut tetap relevan dengan kehidupan mereka.
Awalia mengingatkan bahwa budaya baru akan selalu datang. Tidak ada gunanya menutup pintu rapat-rapat. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjaga kebudayaan sendiri sambil berhadapan dengan perubahan.
Bahasa, makanan, dan kebiasaan sehari-hari merupakan elemen kecil yang menyusun identitas besar. Ketika elemen-elemen tersebut hilang satu per satu, kebudayaan tidak runtuh dengan suara keras. Ia memudar perlahan, nyaris tanpa disadari.
Barongko sejauh ini belum menunjukkan tanda hendak menyerah. Ia bersedia masuk ke lemari pendingin, menerima gula merah, kenari, atau nangka, tampil dalam kotak modern, serta beredar melalui video pendek.
Namun, ketika daun pisang dibuka dan uapnya menyentuh wajah, inti ceritanya tetap sama. Ada pisang. Ada tangan yang mengolahnya. Ada seseorang yang pernah menyuapi. Ada pula rumah yang tiba-tiba terasa dekat. Rasa manis itu bertahan bukan karena menolak zaman, melainkan karena selalu menemukan jalan pulang. (*)
_8-300x200.webp)




-300x200.webp)


