Mahasiswa

Belajar Mengaji Tak Sekadar Lancar, Mahasiswi Sastra Arab Unhas Perkuat Tajwid Anak-Anak Sidrap

Keceriaan anak-anak Desa Polewali, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, saat mengikuti pembinaan mengaji dan ilmu tajwid bersama mahasiswi Sastra Arab Universitas Hasanuddin dalam program KKN Gelombang 115. Keceriaan anak-anak Desa Polewali, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, saat mengikuti pembinaan mengaji dan ilmu tajwid bersama mahasiswi Sastra Arab Universitas Hasanuddin dalam program KKN Gelombang 115.

SIDRAP,UNHAS.TV — Kemampuan membaca Al-Qur’an yang benar tidak hanya diukur dari kelancaran, tetapi juga dari ketepatan tajwid dan kefasihan makhraj huruf, sebuah kesadaran yang mendorong mahasiswi Program Studi Sastra Arab Universitas Hasanuddin (Unhas), Fauziah Faradiba, untuk membangun fondasi literasi Qur’ani anak-anak di Desa Polewali, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin Gelombang 115, Fauziah bertindak sebagai penanggung jawab program pembinaan bacaan Al-Qur’an yang secara konsisten menyasar anak-anak usia sekolah dasar, rentang usia yang dinilai paling strategis dalam membentuk kualitas bacaan dan pemahaman keislaman sejak dini.

Kegiatan ini kembali dilaksanakan pada Rabu, 28 Januari 2026, sebagai bagian dari program rutin yang digelar minimal tiga kali dalam sepekan, setelah hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar anak telah mampu membaca mushaf Al-Qur’an, namun masih lemah dalam penerapan hukum tajwid secara tepat.

“Anak-anak di sini sebenarnya sudah bisa membaca Al-Qur’an besar, tetapi kualitas bacaannya masih perlu banyak perbaikan, terutama dalam hukum bacaan dan pelafalan huruf,” ujar Fauziah saat ditemui di sela-sela kegiatan pembelajaran.

Fenomena tersebut sejalan dengan berbagai temuan lembaga pendidikan Islam yang menilai bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an secara teknis sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman tajwid yang memadai, terutama di wilayah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses pembinaan keagamaan berkelanjutan.

Dalam setiap pertemuan, Fauziah tidak hanya menyimak bacaan para santri cilik, tetapi juga memberikan materi inti ilmu tajwid secara bertahap, mulai dari hukum Nun Mati dan Mim Mati, Mad, Makharijul Huruf, hingga pengenalan sifat-sifat huruf yang menjadi kunci kefasihan bacaan.

Selain pembinaan tajwid, anak-anak juga dibimbing untuk menghafal doa-doa harian serta menyetor hafalan surah-surah pendek, mulai dari Surah Al-Qāri‘ah hingga Surah An-Nās, sebagai upaya memperkuat kedekatan mereka dengan Al-Qur’an secara menyeluruh.

“Targetnya bukan hanya hari ini, tetapi jangka panjang, karena bacaan yang benar sejak kecil akan menentukan kualitas mereka di masa depan, baik sebagai qari, imam, maupun pendakwah,” tambah Fauziah, mahasiswi angkatan 2023 tersebut.

Menariknya, latar belakang akademik Fauziah sebagai mahasiswa Sastra Arab juga dimanfaatkan untuk memperkaya metode pembelajaran, dengan menyisipkan pengenalan kosakata bahasa Arab dasar agar suasana belajar lebih hidup dan tidak monoton.

Di sela-sela sesi mengaji, anak-anak diperkenalkan mufradat ringan seputar ta’aruf, warna, angka, serta nama-nama benda yang sering dijumpai di lingkungan masjid, sebuah pendekatan yang dinilai efektif dalam menumbuhkan minat belajar bahasa Arab sejak dini.

Metode gabungan antara pembinaan tajwid yang disiplin dan pengenalan bahasa Arab yang interaktif ini disambut antusias oleh anak-anak Desa Polewali, sekaligus menjadi contoh konkret kontribusi mahasiswa KKN Unhas dalam meningkatkan kualitas literasi Al-Qur’an dan pendidikan keagamaan di tingkat akar rumput.

Kehadiran program ini diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga jejak berkelanjutan berupa peningkatan mutu bacaan Al-Qur’an bagi generasi muda desa, sejalan dengan semangat pengabdian Universitas Hasanuddin dalam membangun sumber daya manusia yang berkarakter, religius, dan berdaya saing. (*)