MAKASSAR, UNHAS.TV – Bercak putih di kulit. Kebanyakan orang menganggapnya panu. Toko obat pun menjadi tujuan pertama, salep antijamur dibeli, dioleskan, dan jika hilang, masalah selesai.
Tapi bagaimana jika bercak itu tetap menetap, atau justru semakin banyak? Waspada. Bisa jadi itu bukan jamur, melainkan tanda awal Tuberous Sclerosis Complex (TSC).
Dalam acara media gathering di Aston Makassar Hotel and Convention Center, 16 Agustus 2026, Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi, dr Riza Noviandi SpA(K), mengingatkan bahwa mengabaikan bercak putih bisa berakibat fatal.
TSC adalah kelainan genetik yang menyebabkan pertumbuhan tumor jinak (hamartoma) di otak, kulit, jantung, ginjal, hingga paru-paru.
Membedakan panu dan TSC, menurut dr. Riza, cukup sederhana. "Kalau panu, biasanya terjadi di tempat lembap. Pada bayi, di sekitar mulut karena habis minum susu. Pada orang dewasa, di tangan atau kaki. Ukurannya berubah-ubah, bisa hilang sendiri atau dengan salep," ujarnya dalam rekaman wawancara.
"Kalau yang putih pada TSC, ukurannya biasanya tetap atau malah membesar. Lokasinya bisa di mana saja, punggung, pantat, bahu. Yang harus diwaspadai: jika putihnya tidak hilang dan tambah banyak, apalagi setelah diobati dengan obat panu," ujarnya.
TSC adalah penyakit genetik dominan autosomal. Ini berarti, satu salinan gen yang bermutasi dari salah satu orang tua sudah cukup untuk menurunkan penyakit. Namun, sekitar 70 persen kasus terjadi karena mutasi spontan pada janin, tanpa riwayat keluarga.
Dalam tubuh, gen TSC1 dan TSC2 bertugas sebagai "rem" untuk mengontrol pertumbuhan sel. Ketika gen ini rusak, rem itu lepas, dan sel-sel tumbuh tak terkendali, membentuk benjolan di berbagai organ.
Gejala lain yang tak kalah penting adalah kejang. Lebih dari 80 persen anak dengan TSC mengalami kejang, terutama pada usia bayi yang dikenal dengan infantile spasms.
Kejang ini tampak seperti gerakan "mengangguk" atau "memeluk diri" secara tiba-tiba dan berulang, yang sering disangka sebagai perilaku normal atau tangisan. "Memang yang membuat mereka datang ke dokter adalah kejang," kata dr. Riza.
"Kalau ada kejang yang sudah diobati, kemudian ada bercak putih, ditambah penumpukan daging di wajah seperti jerawat, atau tumbuhan kulit menebal seperti kutil, kita harus curiga," lanjutnya.
Jika kejang tidak dikendalikan sejak dini, kerusakan otak dan keterlambatan perkembangan intelektual tidak terhindarkan.
Kejang pada Bayi
Sebuah studi kasus di Pediatric Research menunjukkan bahwa kejang pada bayi dengan TSC bahkan bisa terjadi tanpa gejala fisik yang jelas (subclinical), hanya terdeteksi melalui alat EEG, menekankan pentingnya skrining dini.
Lantas, mengapa banyak kasus TSC terdeteksi terlambat? Jawabannya, karena bercak putih ini tidak gatal, tidak mengganggu, dan sering ditanggapi sepele.
Masyarakat terbiasa dengan diagnosis mandiri. "Ah, panu." Padahal, diagnosis banding bercak putih sangat luas, mulai dari panu (jamur), pitiriasis alba (eksim ringan) yang sering pada anak-anak dan remaja , hingga kusta yang ditandai dengan mati rasa.
Kesalahan diagnosis dini berarti kesempatan emas untuk deteksi dini TSC hilang. Semakin dini terapi dimulai, terutama dengan obat vigabatrin untuk mengendalikan kejang, semakin baik pula prognosis perkembangan anak .
TSC adalah penyakit seumur hidup. Tidak ada obat untuk menyembuhkan gen yang bermutasi. Namun, semua manifestasi penyakit—dari tumor ginjal, jantung, hingga masalah kulit—dapat dipantau dan ditangani secara agresif jika ditemukan sejak dini. Pemantauan berkala ke dokter spesialis anak, saraf, ginjal, jantung, dan mata adalah keniscayaan.
Pesan dari para dokter jelas: jangan abaikan bercak putih di kulit, terutama pada anak. Jika bercak tetap menetap, makin banyak, tidak membaik dengan obat panu, apalagi disertai kejang atau keterlambatan bicara dan interaksi sosial, segera bawa ke dokter.
Tanda putih itu bukan sekadar "panu," tetapi mungkin sebuah "bendera merah" dari penyakit kompleks yang membutuhkan penanganan multidisiplin.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi dr Riza Noviandi SpA (K). (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)








