Sosial
Sulsel

BKKBN Sulsel Gaungkan Gerakan "Ayah Wajib Hadir" untuk Cegah Fenomena Fatherless

FENOMENA FATHERLESS - Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Indonesia (BKKBN) Sulsel Dr Fatmawati bersama staf saat berkunjung di Studio Unhas TV, Selasa (8/7/2026). BKKBN Sulsel gaungkan Gerakan "Ayah Wajib Hadir" untuk Cegah Fenomena Fatherless. (Unhas TV / Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengampanyekan Gerakan "Ayah Wajib Hadir" dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026.

Gerakan ini bertujuan memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak guna mencegah meningkatnya fenomena *fatherless* yang dinilai berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Dr Fatmawati ST MEng mengatakan kehadiran ayah dalam keluarga tidak semata diukur dari keberadaan fisik, melainkan juga melalui keterlibatan emosional, perhatian, serta keteladanan yang diberikan kepada anak.

"Yang kami dorong melalui gerakan ini adalah menghadirkan sosok ayah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Anak harus tetap merasakan kehadiran figur ayah dalam kehidupannya," kata Fatmawati dalam podcast di Studio Unhas TV, Selasa (7/7/2026).

Menurut dia, kampanye tersebut juga menjawab berbagai pertanyaan masyarakat mengenai keluarga yang dipimpin perempuan atau tidak lagi memiliki ayah sebagai kepala keluarga.

Dalam kondisi demikian, kata Fatmawati, figur ayah tetap dapat dihadirkan melalui anggota keluarga laki-laki lainnya yang mampu memberikan pendampingan dan teladan bagi anak.

Ia menyebut paman, kakak laki-laki, maupun kakek dapat mengambil peran tersebut apabila ayah kandung tidak dapat menjalankan fungsinya. Yang terpenting, menurut dia, anak tetap memiliki figur laki-laki yang mampu memberikan rasa aman, perhatian, dan bimbingan.

"Kalau tidak ada ayah kandung, bisa digantikan oleh paman, kakak, atau kakek. Yang penting anak memiliki sosok ayah dalam keluarganya," ujarnya.

Fatmawati menilai fenomena *fatherless* tidak boleh dipandang sebagai persoalan sederhana. Berdasarkan berbagai kajian yang menjadi perhatian BKKBN, anak yang kehilangan figur ayah cenderung menghadapi berbagai tantangan dalam proses tumbuh kembangnya.

Ia mengatakan ketiadaan figur ayah dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai persoalan sosial, mulai dari penurunan prestasi akademik, kenakalan remaja, hingga kecenderungan terlibat dalam perilaku kriminal.

"Ketika anak tidak mendapatkan sosok ayah, banyak dampak negatif yang bisa muncul, mulai dari potensi akademik yang menurun, kenakalan remaja, hingga kecenderungan melakukan tindakan kriminal," katanya.

BKKBN juga menegaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang mengharuskan seorang ayah berada jauh dari keluarga tidak seharusnya menjadi alasan hilangnya peran dalam pengasuhan.

Menurut Fatmawati, kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan ayah tetap hadir secara emosional meskipun berada di luar kota atau luar daerah.

Ia mendorong para ayah untuk memanfaatkan berbagai sarana komunikasi, seperti panggilan video maupun telepon, sebagai bentuk perhatian kepada anak.

Komunikasi sederhana yang dilakukan secara rutin dinilai mampu membangun kedekatan emosional dan membuat anak tetap merasa diperhatikan.

"Kalau ayah bekerja jauh, bisa melakukan video call atau menelepon anak. Hal-hal kecil seperti memberi kabar atau menjelaskan mengapa hari itu tidak bisa mengantar anak ke sekolah akan membuat anak tetap merasakan perhatian dari ayahnya," ujar Fatmawati.

Menurut dia, kualitas hubungan antara orang tua dan anak tidak selalu ditentukan oleh lamanya waktu bersama, melainkan oleh konsistensi dalam membangun komunikasi dan memberikan dukungan emosional.

Melalui Gerakan "Ayah Wajib Hadir", BKKBN berharap semakin banyak keluarga menyadari pentingnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan.

Kehadiran ayah yang aktif, baik secara fisik maupun emosional, diyakini mampu mendukung pembentukan karakter, meningkatkan kepercayaan diri anak, serta menciptakan lingkungan keluarga yang lebih harmonis.

BKKBN menilai penguatan peran ayah merupakan salah satu investasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia.

Dengan keterlibatan kedua orang tua dalam pengasuhan, pemerintah berharap lahir generasi yang lebih sehat, berprestasi, dan memiliki ketahanan sosial yang lebih baik di masa depan.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)