Budaya
News

Buku Mengenang Aswar Hasan Segera Diluncurkan

undefined

SETELAH tujuh bulan lalu, akademisi sekaligus intelektual publik Aswar Hasan berpulang, kini buku yang memuat kiprah dan jejaknya segera di-lauching. 

Buku ini merekam semua ingatan dan jejak intelektual akademisi Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Hasanuddin tersebut. Buku ini menjadi memorabilia yang mengabadikan kenangan dan jejak pemikiran Aswar dan kiprahnya yang menyalakan kesadaran publik melalui berbagai media.

“Kami berharap buku ini bisa mengabadikan sosok Aswar sebagai seorang pemikir dan aktivis yang rutin menulis untuk mencerahkan publik, sekaligus memberi jalan terang bagi bangsa ini,” kata Yanuardi Syukur, salah seorang editor buku.

Bagi Yanuardi, Aswar bukan sekadar tokoh Sulsel, tapi dia adalah tokoh bangsa yang tak lelah berbagi pemikiran, tulisan, dan dakwah yang menyejukkan. Bersama editor lain, Adi Suryadi Culla, Yanuardi berharap buku ini bisa menjadi pelita kecil yang bisa mencerahkan bangsa. 

Ketua Tim Penerbitan Buku, Wahyu Chandra, menuturkan, buku ini diterbitkan Unhas Press yang berkolaborasi dengan penerbit lain. Bagi Wahyu, Aswar adalah sosok membimbing generasi muda berpikir kritis, sekaligus menjadi intelektual publik yang konsisten menyuarakan nurani masyarakat melalui media massa.

Jejak langkahnya membentang dari ruang akademik hingga ruang kebijakan publik. Ia terlibat dalam gerakan mahasiswa, aktif dalam organisasi dakwah, serta dipercaya memegang tanggung jawab strategis sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sulawesi Selatan dan kemudian Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Pusat. 

Dalam perannya tersebut, Aswar Hasan dikenal sebagai penjaga etika penyiaran yang berkomitmen pada demokrasi informasi dan perlindungan kepentingan publik.

“Bagi Aswar, media bukan sekadar saluran informasi, melainkan instrumen pendidikan sosial yang harus dijaga integritasnya,” kata Wahyu, yang juga aktif di Unhas Press.

Di tempat terpisah, Direktur Utama Unhas TV Yusran Darmawan mempersilakan buku ini untuk dibedah di Studio Utama Unhas TV, serta disiarkan secara langsung.

“Saya pikir pesan-pesan dalam buku ini harus didiseminasikan secara luas, sehingga bisa menjangkau semua kalangan. Kami siap untuk menggelar talskhow mengenai guru kami di Studio Unhas TV,” katanya.

Keistimewaan Buku

Buku ini menjadi istimewa karena disusun secara kolaboratif oleh puluhan tokoh lintas profesi dan generasi. Sejumlah akademisi terkemuka, pejabat publik, aktivis, jurnalis, hingga sahabat dekat turut menyumbangkan tulisan yang merekam kedekatan mereka dengan almarhum. 



Di antara para kontributor terdapat Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Jamaluddin Jompa, para guru besar seperti Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu dan Prof. Veni Hadju, tokoh nasional Jusuf Kalla, diplomat dan akademisi Ali Mochtar Ngabalin, sejumlah aktivis pergerakan seperti Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, hingga puluhan dosen, jurnalis, dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah.

Kesaksian mereka membentuk mozaik kenangan yang memperlihatkan betapa luas pengaruh pemikiran dan keteladanan Aswar Hasan dalam kehidupan banyak orang.

Melalui tulisan-tulisan tersebut, pembaca tidak hanya mengenal kiprah formal Aswar Hasan sebagai akademisi dan pejabat publik, tetapi juga sisi personalnya sebagai guru yang bersahaja, sahabat diskusi yang rendah hati, serta pribadi yang selalu memberi ruang bagi gagasan orang lain.

Mahasiswanya mengenang beliau sebagai dosen yang sabar membimbing, komunikatif, dan tak pernah lelah mendorong generasi muda untuk berani berpikir merdeka.

Pembaca juga diajak menelusuri akar budaya yang membentuk karakter almarhum. Lahir dan tumbuh di Palopo, tanah Bugis yang menjunjung tinggi nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge, Aswar Hasan tumbuh dengan fondasi moral yang kuat. Nilai-nilai itu menjelma dalam keteguhan sikapnya, keberanian bersuara, dan kemampuannya merawat dialog di tengah perbedaan.

Salah satu warisan terpenting yang disorot dalam buku ini adalah kecintaannya pada tradisi menulis. Bagi Aswar Hasan, pena bukan sekadar alat ekspresi, melainkan medium perjuangan. 

Ia dikenal sebagai kolumnis produktif di berbagai media massa, menghadirkan tulisan-tulisan yang jernih, reflektif, dan berpihak pada kepentingan publik.

Melalui tulisan, ia menegur dengan santun, mengkritik dengan elegan, serta mengajak pembaca merenung tanpa merasa digurui. Gagasan-gagasannya menjadi cahaya yang menuntun pembaca memahami dinamika sosial, politik, dan budaya dengan lebih bijak.

Peluncuran buku ini bukan hanya menjadi agenda penerbitan biasa, melainkan momentum untuk merawat ingatan kolektif tentang pentingnya peran intelektual publik dalam kehidupan berbangsa. 

Buku ini mengingatkan bahwa gagasan yang baik tidak pernah benar-benar wafat. Ia hidup dalam tulisan, tumbuh dalam generasi yang terinspirasi, dan terus menyala dalam kesadaran publik yang tercerahkan.

Pada akhirnya, Aswar Hasan: Jejak Pemikiran, Perjuangan, dan Keteladanan bukan sekadar buku kenangan. Ia adalah penghormatan terhadap dedikasi seorang guru bangsa, pelajaran tentang integritas dan keberanian moral, sekaligus warisan pemikiran yang akan terus relevan bagi generasi mendatang.

Dan dari halaman-halamannya, nama Aswar Hasan akan terus hidup dalam ingatan sejarah.