Sport

Chelsea Dibantai Everton 0-3, Kalah 4 Kali Beruntun Krisis Lini Belakang Kian Terbuka



PERFORMA TERBAIK - Kiper Everton Jordan Pickford tampil dalam performa terbaik dan tanpa kebobolan gol saat melawan Chelsea di Stadion Stamford Bridge, London, Sabtu (21/3/2026) malam. (The Sun/Getty)


Rosenior mencoba mengubah keadaan selepas jeda. Ia menarik Malo Gusto dan memasukkan Alejandro Garnacho untuk menambah daya dobrak. Akan tetapi perubahan itu tak langsung memberi dampak berarti.

Pertandingan sempat berjalan datar, dengan momen yang lebih banyak diwarnai insiden ketimbang peluang matang. Lavia kemudian ditarik keluar sebelum satu jam permainan dan digantikan Andrey Santos.

Chelsea tetap berusaha menekan, salah satunya lewat upaya Fernandez yang kembali memaksa Pickford melakukan penyelamatan penting.

Harapan Chelsea runtuh pada pertengahan babak kedua. Gol kedua Everton lahir bukan dari serangan rumit, melainkan dari kombinasi kesalahan antarlini Chelsea sendiri.

Setelah kehilangan bola di area lawan, Idrissa Gueye membawa serangan dari sisi kanan dan mengirimkan umpan kepada Beto di kotak penalti. Fofana lagi-lagi terlambat bereaksi.

Namun sorotan terbesar tertuju kepada Sanchez. Tembakan Beto sebenarnya mengarah lurus kepadanya, tetapi bola justru lolos dari tangkapannya dan bergulir masuk ke gawang lewat kolong kedua kakinya.

Kesalahan itu mempertegas kritik lama bahwa Sanchez tidak cukup meyakinkan untuk menopang pola permainan berisiko tinggi yang diinginkan Rosenior.

Sesudah gol kedua, Chelsea tidak langsung runtuh, tetapi mereka juga tak menunjukkan keyakinan bisa membalikkan keadaan. Pickford kembali tampil sigap saat keluar dari sarangnya untuk meredam peluang Fernandez.

Sepak pojok Estevao bahkan sempat membentur mistar, namun momentum tetap milik Everton. Tim tuan rumah tampil lebih tenang, lebih siap memanfaatkan ruang, dan jauh lebih efisien saat peluang datang.

Gol ketiga Everton datang 15 menit sebelum laga usai, sekaligus menutup pertandingan. Sekali lagi prosesnya sangat sederhana. Umpan panjang dikirim ke depan, Beto menyentuh bola dengan sundulan tipis, dan Iliman Ndiaye berlari menyambutnya di kanal kiri.

Caicedo membiarkannya masuk ke area dalam. Ndiaye lalu melepaskan penyelesaian presisi ke pojok atas gawang. Chelsea tak lagi punya jawaban. Pertandingan praktis selesai pada momen itu.

Di luar lapangan, suasana pertandingan juga tak lepas dari isu yang membayangi Chelsea. Beberapa hari sebelumnya, klub itu lolos hanya dengan denda £10 juta terkait pembayaran tidak semestinya pada era Roman Abramovich.

Manajemen Chelsea saat ini memang melaporkan sendiri pelanggaran yang terjadi pada rezim sebelumnya. Namun di stadion, nyanyian suporter tuan rumah tentang korupsi di Liga Primer menggema sejak awal laga.

Everton sendiri pernah mendapat pengurangan poin karena dua kali melanggar aturan finansial. Perbandingan itu memperuncing rasa frustrasi publik terhadap Chelsea, yang dianggap mendapat hukuman ringan atas pembayaran bawah meja senilai £47 juta (senilai Rp1,06 Triliun).

Kemenangan ini membuat Everton mendekat ke Chelsea dalam klasemen. Mereka kini hanya terpaut satu tingkat di urutan enam dengan selisih dua poin dari tim tamu.

Bagi David Moyes, hasil ini memberi dorongan penting setelah Everton hanya memenangi lima dari 15 laga sebelumnya di stadion baru mereka.

Sebaliknya bagi Chelsea, kekalahan ini memperpanjang rangkaian hasil buruk dan memperbesar tanda tanya atas arah tim.

Dengan empat kekalahan beruntun, kiper yang terus disorot, dan pertahanan yang mudah runtuh, Chelsea kini menghadapi bukan hanya krisis hasil, tetapi juga krisis kepercayaan. (*)