Internasional

Iran Tegaskan Serangan Apa Pun Akan Dipandang sebagai Perang Total di Tengah Peningkatan Militer Amerika Serikat

Sebuah mural raksasa bergambar Pemimpin Tertinggi Iran dengan latar bendera nasional dan kaligrafi Islam mendominasi pusat kota Teheran, mencerminkan perpaduan kekuasaan politik, identitas religius, dan pesan keteguhan negara di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan. (Kredit: Fatemeh Bahrami – Anadolu Agency).

TEHERAN, UNHAS.TV Menurut laporan Media Arab yang dipublikasikan pada 24 Januari 2026, Iran menyatakan akan memperlakukan setiap bentuk serangan Amerika Serikat—baik terbatas, presisi, maupun berskala penuh—sebagai perang total terhadap kedaulatan negara tersebut.

Pernyataan keras ini disampaikan seorang pejabat senior Iran menjelang kedatangan kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpemandu rudal ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.

Siaga Militer Iran Menghadapi Skenario Terburuk

Pejabat Iran tersebut menegaskan bahwa meskipun Teheran berharap pengerahan militer Amerika tidak dimaksudkan untuk konfrontasi langsung, seluruh kekuatan pertahanan Iran kini berada dalam status siaga tinggi guna menghadapi skenario terburuk.

Ia menambahkan bahwa setiap pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Iran akan dibalas dengan respons paling keras yang dianggap perlu untuk memulihkan keseimbangan strategis.

Masih menurut sumber yang sama, Iran menilai bahwa negara yang terus berada di bawah ancaman militer tidak memiliki pilihan selain memastikan seluruh instrumen pertahanannya siap digunakan untuk menangkis agresi eksternal.

Pernyataan Trump dan Pengerahan Armada Amerika Serikat

Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 23 Januari 2026 menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan sebuah “armada” menuju kawasan Iran, seraya menambahkan harapannya agar kekuatan tersebut tidak perlu digunakan.

Trump kembali memperingatkan Teheran agar tidak melanjutkan program nuklirnya maupun melakukan tindakan represif terhadap para pengunjuk rasa di dalam negeri.

Pejabat Amerika Serikat yang dikutip Reuters mengonfirmasi bahwa pengerahan militer tersebut mengingatkan pada konsentrasi kekuatan besar yang dilakukan Washington menjelang serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun sebelumnya.

Tekanan Militer dan Sanksi Ekonomi terhadap Iran

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dalam wawancara televisi pada 24 Januari 2026 memperingatkan bahwa Israel masih mencari peluang untuk menyerang Iran, sebuah langkah yang menurutnya berpotensi memperparah instabilitas kawasan.

Pada hari yang sama, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap sembilan kapal dan delapan perusahaan yang disebut sebagai bagian dari “armada bayangan” Iran yang selama ini menyalurkan minyak ke pasar internasional.

Departemen Keuangan Amerika Serikat menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut telah mengangkut minyak dan produk petroleum Iran senilai ratusan juta dolar sebagai bagian dari upaya Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Ilustrasi tersebut menangkap ketegangan geopolitik yang memuncak antara Iran dan Amerika Serikat pada awal tahun 2026.
Ilustrasi tersebut menangkap ketegangan geopolitik yang memuncak antara Iran dan Amerika Serikat pada awal tahun 2026.(Ilustrasi dibuat oleh AI).


Kritik Media Internasional atas Paradoks Kebijakan Barat

Dalam konteks ini, Al Jazeera dalam laporan analisisnya pada 24 Januari 2026 menyoroti paradoks sikap Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang mengkritik keras respons Iran terhadap protes domestik, namun pada saat yang sama mempertahankan rezim sanksi luas yang memperburuk kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Iran.

Al Jazeera menilai bahwa gelombang protes di Iran berlangsung dalam lanskap kompleks di mana tuntutan masyarakat berkelindan dengan tekanan politik dan ekonomi internal maupun eksternal akibat sanksi jangka panjang.

Peringatan Tidak Resmi dan Ancaman Balasan Iran

Dalam wawancara dengan Al Mayadeen yang disiarkan pada 24 Januari 2026, analis politik Iran Mashaallah Shamsolvaezin mengungkap bahwa Amerika Serikat melalui pihak ketiga telah menyampaikan peringatan tidak resmi kepada Teheran mengenai kemungkinan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis.

Shamsolvaezin menyatakan bahwa Iran menanggapi peringatan tersebut dengan menegaskan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas nasional akan diperlakukan sebagai tindakan perang terbuka.

Pernyataan ini sejalan dengan laporan Reuters yang mengutip pejabat Iran bahwa tidak ada perbedaan antara serangan terbatas maupun besar dalam kerangka respons strategis Teheran.

Ancaman Rudal dan Risiko Eskalasi Regional

Ketegangan semakin meningkat setelah media pertahanan Defense Index melaporkan pada 24 Januari 2026 bahwa Iran memperingatkan akan menyerang USS Abraham Lincoln dengan rudal hipersonik jika pasukan Amerika Serikat memasuki wilayah Iran.

Di sisi lain, analis militer Israel dalam laporan teknis yang diterbitkan surat kabar Calcalist menilai bahwa Iran telah mengembangkan lima keluarga utama rudal balistik yang memainkan peran kunci dalam doktrin pertahanan dan daya tangkal strategisnya.

Laporan tersebut menekankan bahwa kemampuan rudal Iran menjadi faktor utama yang memperumit setiap opsi militer terhadap Teheran, baik bagi Amerika Serikat maupun Israel.

Sejumlah analis Timur Tengah yang dikutip media Arab pada 24 Januari 2026 menilai bahwa keberadaan armada Amerika di kawasan bukanlah ancaman baru, namun kesiapan Iran untuk merespons dengan kekuatan penuh menjadikan situasi kali ini jauh lebih berisiko dibandingkan eskalasi sebelumnya. (*)