Karir
Mahasiswa
Pendidikan

Kisah Anak Rantau, Mahasiswa Asal Tangerang Ini Sukses Taklukkan Tantangan Kuliah di Unhas

Afifah Nur Assyifa, lulusan Fakultas Psikologi Unhas asal Tangerang, Banten. (Unhas TV / Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Banyak kisah pencapaian dari prosesi Wisuda Universitas Hasanuddin periode April 2026 yang dilangsungkan di Baruga Andi Pangeran Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu-Kamis (1-2/4/2026).

Cerita personal tentang pencapaian akan gelar sarjana datang dari mahasiswa perantau dari luar Pulau Sulawesi. Kisah itu datang dari Afifah Nur Assyifa, lulusan Fakultas Psikologi Unhas asal Tangerang, Banten.

Afifah datang ke Makassar bukan karena kebetulan. Ia memilih Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai keputusan sadar untuk menantang dirinya sendiri. 

Jauh dari rumah, jauh dari keluarga, ia ingin menguji apakah dirinya mampu hidup mandiri dan keluar dari zona nyaman yang selama ini akrab baginya.

“Halo kenalin nama aku Afifah Nur Assyifa, aku dari psikologi Unhas dan asal daerah aku, aku dari Tangerang Banten," ucapnya saat diwawancara Unhas.TV di hari kedua wisuda perioe April.

"Alasan aku milih Universitas Hasanuddin karena aku mau men-challenge diriku apakah bisa mandiri dengan kuliah jauh dari rumah, jadi aku memilih Unhas atas pilihanku sendiri,” kata Afifah.

Selama berkuliah empat tahun di Kota Makassar, Afifah dipaksa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, lalu kelak pulang dengan identitas yang mungkin saja ikut berubah. 

Keputusan Afifah itu terdengar tegas, tetapi kehidupan perantau memang tak pernah benar-benar sederhana. Di tahun-tahun awal kuliahnya, Afifah harus berhadapan dengan dua tantangan yang sangat mendasar, bahasa dan makanan. 

Ia mengaku ritme bahasa Makassar terasa cepat, dengan dialek yang tidak selalu mudah dipahami oleh orang yang baru datang dari luar daerah. 

Di luar kampus, perbedaan cita rasa makanan juga menjadi tantangan lain yang harus ia hadapi. Di daerahnya makanan yang berasa pedas, asam atau yang serba dengan lauk ikan, bukan kebiasaannya.

“Tantangan terbesar aku adalah di bahasa yang pertama, jadi bahasa Makassar aku bisa bilang cepat sekali ritmenya ya, terus banyak dialek yang berbeda juga, dan yang kedua itu makanan,” ujarnya.

Tetapi seperti banyak cerita perantauan yang serius, adaptasi tak terjadi lewat hal besar, melainkan lewat peristiwa-peristiwa sederhana yang diulang setiap hari. 

Mulai Paham Bahasa Makassar

Sedikit demi sedikit, Afifah mulai memahami bahasa Makassar yang sederhana. Ia menyebut kata “tabe” sebagai salah satu tanda kecil dari proses penyesuaian yang ia lalui selama empat tahun. 

Soal makanan pun begitu. Yang mula-mula terasa asing, lambat laun menjadi akrab. Perpaduan rasa pedas dan asam yang khas dalam kuliner Makassar akhirnya masuk ke lidahnya.

Perubahan itu bukan semata urusan teknis berbahasa atau kebiasaan makan. Ada proses emosional yang ikut bekerja di belakangnya. 

Kota Makassar, yang pada awalnya adalah kota asing, perlahan berubah menjadi ruang yang memberi rasa memiliki. Afifah mengaku kota ini kini telah menjadi rumah keduanya.

“Oke yang paling berkesan setelah aku kuliah di psikologi Unhas ya, kalau dari yang aku alami yang paling berkesan itu adalah proses belajarnya,” kata Afifah. 

Menurut perempuan berusia 22 tahun ini, pengalaman belajar di Fakultas Psikologi Unhas menjadi bagian paling kuat dari masa kuliahnya.

Pernyataan itu penting. Sebab kisah mahasiswa rantau sering kali dibaca hanya sebagai cerita bertahan hidup di kota orang. Pada Afifah, cerita itu bergerak lebih jauh. 

Ia tidak hanya bertahan, tetapi juga bertumbuh. Ia menemukan lingkungan belajar yang membentuknya, memperluas batas kenyamanannya, dan membuat hubungan dengan kota tempat ia kuliah menjadi lebih personal.

Meski demikian, rumah pertama tetap tak tergantikan. Afifah mengaku kerinduan kepada keluarga tidak pernah benar-benar hilang. Ada satu hal yang selalu menariknya untuk pulang ke Tangerang, yaitu masakan ibunya. 

Baginya, alasan itu sederhana, tapi justru paling jujur. “Yang bikin aku tetap mau balik lagi ke rumahku di Tangerang itu adalah tentu aja makanan Mama sih,” ujarnya. 

Ia menyebut rendang buatan sang ibu sebagai salah satu hal yang paling ia rindukan. Afifah punya darah Padang, Sumatera Barat yang dikenal dengan masakan rendangnya.

Setelah melalui masa studinya, Afifah berharap ilmu psikologi yang diperolehnya tidak berhenti sebagai gelar akademik semata. 

Ia ingin pengetahuan itu bisa memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, terutama dalam memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama kehidupan sosial.

Kisah Afifah memperlihatkan bahwa menjadi anak rantau bukan hanya soal menjauh dari rumah, tetapi juga soal membangun 'rumah baru' tanpa kehilangan akar. 

Dari Tangerang ke Makassar, dari rasa asing ke rasa memiliki, perjalanan Afifah menjadi potret tentang bagaimana pendidikan tinggi tak hanya mengubah pengetahuan seseorang, tetapi juga cara ia memahami dirinya sendiri dan arti pulang.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)