Sport

Chelsea ke Final Piala FA, Gol Enzo Fernandez Jadi Pembeda di Wembley

Enzo Fernandez membawa Chelsea unggul pada menit ke-23 melalui sundulan dan membawa The Blues lolos ke Final Piala FA. (The Sun/EPA)

LONDON, UNHAS.TV - Chelsea melaju ke final Piala FA setelah mengalahkan Leeds United 1-0 di Stadion Wembley, Minggu (26/4/2026) malam. Gol tunggal Enzo Fernandez pada pertengahan babak pertama memastikan The Blues bertemu Manchester City di partai puncak bulan depan.

Kemenangan ini datang hanya beberapa hari setelah ruang ganti Chelsea diguncang perubahan besar. Liam Rosenior dicopot dari kursi pelatih, belum genap tiga bulan sejak ia menangani tim. Calum McFarlane kemudian kembali memimpin dari tepi lapangan sebagai caretaker.

Fernandez menjadi tokoh utama dalam laga itu. Gelandang Argentina tersebut sebelumnya berada di pusat sorotan setelah secara terbuka menunjukkan dukungan kepada Enzo Maresca saat jeda internasional.

Sikap itu dianggap sebagai kritik terhadap pengganti Maresca. Klub sempat mendenda dan menepikannya selama dua pekan, termasuk saat Chelsea mengalahkan Port Vale di perempat final.

Namun di Wembley, Fernandez kembali memakai ban kapten. Ia menjawab kritik dengan gol yang membawa Chelsea ke final. Gol itu lahir dari serangan sederhana, tetapi efektif.

Joao Pedro mengirim bola ke sisi kanan. Pedro Neto melepas umpan silang. Fernandez masuk ke ruang kosong di antara James Justin dan Jayden Bogle, lalu menanduk bola dari jarak dekat untuk menaklukkan Lucas Perri.

Leeds sebenarnya mendapat peluang lebih dulu. Brenden Aaronson lolos setelah bola silang Chelsea gagal diamankan Trevoh Chalobah. Aaronson tinggal berhadapan dengan Robert Sanchez, tetapi tembakannya diblok kaki kanan kiper Chelsea itu.

Kesempatan tersebut menjadi momen terbaik Leeds pada awal laga. Setelah itu, Chelsea mulai mengendalikan permainan. Joao Pedro merepotkan lini belakang Leeds. Fernandez rajin mencari ruang di antara lini. Pedro Neto terus menyediakan opsi serangan dari sektor kanan.

Daniel Farke berusaha meminta para pemain Leeds menekan ruang gerak Chelsea. Namun pertahanan Leeds tidak cukup tenang. Mereka kerap terlambat membaca pergerakan dan gagal membersihkan bola di area berbahaya.

Sebelum gol Fernandez, Chelsea hampir unggul lewat Joao Pedro. Berawal dari kegagalan Leeds membuang bola, Romeo Lavia menemukan Fernandez. Gelandang itu menyodorkan bola kepada Pedro, tetapi tendangannya menghantam tiang.

Leeds hanya mendapat penangguhan sesaat. Kesalahan mereka dalam mengantisipasi sapuan jauh Sanchez membuka jalan bagi Chelsea. Pedro menerima bola, mengalihkannya ke Neto, dan umpan silang berikutnya diselesaikan Fernandez dengan kepala.

Main Rapi dan Jaga Tempo

Chelsea tidak tampil meledak. Mereka juga tidak perlu bermain sempurna. Tim London Barat itu cukup rapi menjaga tempo, menutup ruang, dan memaksa Leeds kehilangan arah. Pengalaman Chelsea di laga besar terlihat jelas.

Ribuan pendukung Leeds yang datang dari Yorkshire sempat memberi tekanan dari tribune. Mereka berharap klubnya mencapai final Piala FA pertama sejak 1973. Namun harapan itu perlahan padam karena Chelsea lebih siap menghadapi panggung besar.

Leeds mencoba mengubah keadaan setelah turun minum. Farke memasukkan Joe Rodon dan Anton Stach. Pergantian itu langsung memberi tenaga baru.

Belum satu menit babak kedua berjalan, Stach melepaskan tendangan keras dari bola liar. Sanchez harus terbang untuk menepis bola ke atas gawang.

Penyelamatan itu menjadi momen penting. Jika bola masuk, pertandingan bisa berubah. Tetapi Chelsea selamat, lalu kembali menguasai ritme. Mereka tidak terburu-buru menambah gol. Mereka memilih menjaga kendali.

Chelsea sempat memperoleh peluang lain ketika Fernandez memberi umpan tumit kepada Joao Pedro di kotak penalti. Pedro mendapatkan beberapa kesempatan untuk menembak, tetapi gagal menghasilkan penyelesaian bersih.

Selama skor tetap 1-0, Leeds masih menyimpan harapan. Ketegangan sempat meningkat ketika Sanchez terjatuh dan pemain Leeds mencoba mendekati kerumunan Chelsea. Ethan Ampudu masuk ke area huddle Chelsea, memicu dorongan kecil di pinggir lapangan.

Namun insiden itu tidak mengubah arah pertandingan. Leeds kehabisan gagasan sebelum peluit akhir berbunyi. Mereka mulai meninggalkan ruang besar di belakang ketika mengejar gol penyeimbang. Cole Palmer, yang masuk pada 20 menit terakhir, belum mampu memanfaatkan ruang itu untuk menambah keunggulan.

Bagi McFarlane, kemenangan ini membuka peluang besar. Ia bisa menjadi caretaker Chelsea ketiga yang mengangkat Piala FA, mengikuti jejak Guus Hiddink pada 2009 dan Roberto Di Matteo pada 2012. Syaratnya berat. Ia harus menaklukkan Pep Guardiola dan Manchester City di final.

Bagi Chelsea, hasil ini membawa mereka ke final Piala FA kesepuluh sejak menjuarai turnamen itu di Wembley baru pada 2007. Bagi Fernandez, gol tersebut menjadi jawaban paling jelas atas kritik yang mengiringinya dalam beberapa pekan terakhir. (*)