MANCHESTER, UNHAS.TV - Stadion Old Trafford, Minggu (11/1/2026) malam dipenuhi wajah-wajah lama. Mantan pemain Manchester United hadir dari berbagai penjuru tribun—seolah sebuah reuni besar klub raksasa yang kini lebih sering hidup dari ingatan ketimbang prestasi.
Ironisnya, salah satu dari mereka pula yang memastikan mimpi terakhir United musim ini benar-benar berakhir.
Danny Welbeck, anak kandung akademi Setan Merah, mencetak gol yang menyingkirkan klub masa kecilnya dari Piala FA. Skor 1-2 dari Brighton bukan sekadar kekalahan. Ia adalah vonis.
Gol Welbeck di menit ke-64 memastikan bahwa Manchester United kembali menutup musim tanpa trofi. Lebih cepat dari biasanya. Bahkan, ini menjadi kali paling dini sejak musim 1970–1971 peluang trofi United kandas seluruhnya.
Sebuah kebetulan sejarah yang pahit: kala itu, manajer mereka juga sudah dipecat di tengah musim. Sejarah memang tak selalu berulang, tetapi di Old Trafford, ia sering kali berima.
Welbeck kini berusia 35 tahun. Namun sentuhannya masih dingin dan klinis. Menerima umpan terobosan Brajan Gruda, ia mengontrol bola dengan presisi sebelum melepaskan tembakan keras ke atap gawang.
Stadion yang dulu membesarkannya mendadak sunyi. Ini adalah gol kedelapan Welbeck ke gawang United sepanjang kariernya—sebuah statistik yang terasa seperti satire pahit bagi klub yang melepasnya pada 2014.
Lebih getir lagi, ini bukan pertama kalinya Welbeck mengubur harapan trofi United. Pada 2015, ia melakukan hal serupa bersama Arsenal di ajang yang sama.
Di tribun kehormatan, Sir Alex Ferguson duduk muram. Di sampingnya, Paul Scholes dan Nicky Butt—dua loyalis setia dari era keemasan—menjadi saksi lain dari keterpurukan yang tampak tak berujung.
Pemandangan itu nyaris simbolik: tiga ikon masa lalu memandangi masa kini yang tak mereka kenali. Beberapa hari sebelumnya, Roy Keane menyindir Ferguson “masih berkeliaran seperti bau tak sedap”.
Entah disengaja atau tidak, kehadiran Scholes dan Butt terasa seperti jawaban diam-diam atas kritik itu—atau justru pengakuan bahwa United terjebak dalam nostalgia.
Di lapangan, Darren Fletcher menjalani tugas sementara sebagai manajer caretaker. Ia berpeluang mencatatkan rekor yang tak diinginkan: caretaker pertama United yang tak meraih kemenangan.

Statistik laga Piala FA antar tuan rumah MU vs Brighton and Hove Albion. (the sun)
Fletcher menulis tentang “privilege” berada di pinggir lapangan dalam catatan program pertandingannya. Namun, keistimewaan itu tak sebanding dengan realitas pahit yang ia hadapi.
Serangan agresif yang sempat terlihat saat imbang 2-2 melawan Burnley di Liga Inggris pertengahan pekan kini tak lagi relevan. Piala FA adalah jalur terakhir menuju penyelamatan musim—dan jalur itu telah runtuh.
Awalnya Sangat Menjanjikan
United sejatinya memulai laga dengan cukup menjanjikan. Dua menit pertama, Matheus Cunha membuka ruang dan mengirim Diogo Dalot berhadapan dengan kiper.
Sentuhan pertama Dalot terlalu berat; Jason Steele menutup peluang. Bruno Fernandes, yang sempat terkena bola di wajah saat pemanasan, juga hampir menciptakan gol dari situasi bola mati.
Namun, kegagalan-kegagalan kecil itu berubah mahal. Pada menit ke-12, Brighton unggul lebih dulu lewat Brajan Gruda setelah upaya Georginio Rutter diblok di garis gawang.
Brighton, yang bahkan melakukan enam perubahan pemain dari laga liga, tampil tanpa beban.
Mereka sudah terbiasa menang di Old Trafford—ini adalah kemenangan keempat beruntun mereka di stadion tersebut, hanya tiga bulan setelah membantai United 4-2 di Liga Inggris.
Malam itu di akhir Oktober sempat dianggap sebagai puncak musim United, kemenangan ketiga beruntun yang memicu harapan. Kini, ia tampak seperti fatamorgana.
United menurunkan skuad terbaik yang tersedia, minus Matthijs de Ligt yang cedera. Namun kontribusi Kobbie Mainoo, yang kembali menjadi starter setelah hampir lima bulan, hanya satu kartu kuning akibat melanggar Welbeck.
Mason Mount, yang dipasang di sayap kanan, kembali menjadi korban sistem. Dalam formasi 4-2-3-1, perannya terasa canggung kecuali sebagai nomor 10—posisi yang hampir pasti milik Fernandes.
Mount kemudian ditarik keluar selepas satu jam permainan, keputusan yang terasa bisa ditebak sejak awal.
Kehidupan baru sempat muncul ketika Shea Lacey, pemain 18 tahun, masuk sebagai pengganti. Energi dan keberaniannya menghidupkan kembali tribun yang lesu.
Namun justru Lacey pula yang harus meninggalkan lapangan lebih awal akibat dua kartu kuning—tekel telat dan gestur protes. Ia mencoba menjaga musim United tetap bernapas, tetapi krisis ini jelas bukan salahnya.
United sempat memberi ilusi kebangkitan. Sundulan Benjamin Sesko pada menit ke-85 dari sepak pojok Fernandes memperkecil kedudukan menjadi 1-2. Namun, ilusi itu cepat menguap. Tak ada comeback. Tak ada keajaiban.
Di lorong stadion, CEO Omar Berrada dan direktur olahraga Jason Wilcox terlihat linger sejenak sebelum menghilang di balik gangway. Untung bagi mereka, sebagian besar suporter di depan tribun direksi telah lebih dulu pergi.
Di kalender yang kini nyaris kosong dari kompetisi Eropa dan piala domestik, satu-satunya perjalanan United musim ini mungkin hanyalah tur persahabatan ke Arab Saudi.
Musim ini, United tak akan memainkan lebih dari 40 pertandingan—jumlah paling sedikit sejak era Perang Dunia I. Untuk klub sebesar Manchester United, statistik itu terdengar seperti lelucon kelam.
Di Old Trafford, masa lalu masih dipuja. Namun tanpa masa depan yang jelas, nostalgia hanya menjadi pengingat akan betapa jauhnya mereka telah terjatuh. (*)
Danny Welbeck mengalahkan mantan klubnya Manchester United 2-1 di pentas Piala FA. (the sun)







