Laporan EKA SASTRA dari Beijing, China*
Ada kota yang membuat kita berhenti dan berpikir. Ada pula kota yang memaksa kita berlari. Beijing dan Shanghai melakukan keduanya, tetapi dengan irama yang berbeda. Beijing berbicara pelan tentang negara, sejarah, dan kesinambungan. Shanghai berbicara cepat tentang pasar, inovasi, dan masa depan.
Di antara dua kota ini, dunia sedang belajar ulang satu pelajaran penting, bahwa transformasi global abad ke dua puluh satu tidak lagi ditulis dari satu pusat peradaban. Sejarah tak lagi bergerak satu arah, melainkan berkelok, bercabang, dan sering kali ditentukan oleh kota kota yang hidup sebagai simpul kekuasaan baru.
Pemahaman ini mengingatkan pada gagasan Fernand Braudel, yang melihat sejarah bukan sebagai rangkaian peristiwa sesaat, melainkan struktur panjang yang dibentuk oleh waktu, ruang, dan institusi.
Dalam kacamata itulah Beijing dan Shanghai dapat dibaca, dua struktur hidup yang hari ini ikut menulis ulang arah dunia.
Beijing: Negara, Ingatan, dan Kesabaran Sejarah
Beijing bukan kota yang berusaha memikat. Ia tidak menjual mimpi, apalagi ilusi. Beijing memilih menjaga ingatan.
Sebagai pusat kekuasaan selama berabad abad, kota ini mengajarkan satu hal mendasar, negara lebih panjang umurnya daripada rezim, dan lebih dalam daripada ideologi yang silih berganti.
BACA: Birmingham, Kota Sunyi yang Menggerakkan Revolusi Industri
Dari arsitektur Kota Terlarang hingga tata ruang kekuasaan modern, Beijing menunjukkan bahwa stabilitas politik dan kapasitas negara adalah hasil dari akumulasi sejarah, bukan improvisasi jangka pendek.
Beijing dibangun bukan untuk mengejar kecepatan, melainkan untuk memastikan kesinambungan. Dalam lanskap ekonomi politik global, kota ini menantang asumsi lama bahwa modernisasi harus selalu identik dengan liberalisasi penuh.

Negara hadir bukan sebagai penghalang pasar, melainkan sebagai perancang arena, menentukan arah, batas, dan prioritas pembangunan.
Cara pandang ini mengingatkan pada pemikiran Max Weber tentang rasionalitas negara dan legitimasi birokrasi, tetapi dengan aksen Asia yang berakar pada peradaban panjang.
Negara yang kuat, dalam logika Beijing, bukanlah negara yang paling keras, melainkan yang paling sabar dan paling mampu mengorganisir masa depan.
Shanghai: Pasar, Kecepatan, dan Imajinasi Global
Jika Beijing adalah memori, maka Shanghai adalah eksperimen. Shanghai tidak dibangun untuk dikenang, melainkan untuk digunakan. Kota ini bergerak cepat sebagai pelabuhan global, pusat finansial, dan simpul penting rantai pasok dunia.
Setiap kontainer yang berangkat dari Shanghai seolah membawa pesan sederhana, dunia hari ini digerakkan oleh kota dan pasar, bukan semata oleh negara.
Transformasi Shanghai pasca 1978 kerap dikaitkan dengan pragmatisme Deng Xiaoping. Di sini, ideologi tunduk pada hasil. Kapitalisme dijalankan bukan sebagai dogma, melainkan sebagai alat, lentur, adaptif, dan siap diuji.
Di Shanghai, pasar diberi ruang untuk berlari, tetapi tetap berada dalam lintasan yang ditentukan negara.
Kota ini membuktikan bahwa dinamika pasar dapat tumbuh pesat bahkan di bawah sistem politik yang tidak liberal ala Barat. Lebih dari itu, Shanghai menunjukkan bahwa kota dapat menjadi aktor sejarah, ruang tempat inovasi, mobilitas sosial, dan imajinasi masa depan bertemu dan saling menguatkan.
Dalam banyak teori Barat, negara dan pasar sering digambarkan sebagai dua kutub yang saling bertentangan. Namun Beijing dan Shanghai justru memperlihatkan simbiosis yang rumit tetapi fungsional.
Beijing merepresentasikan negara dan kebijakan, stabilitas, kontrol strategis, serta memori panjang yang menjaga arah pembangunan.
Shanghai melambangkan pasar dan eksekusi, kecepatan, fleksibilitas, dan keberanian bereksperimen. Ketegangan di antara keduanya tidak dilepaskan liar, melainkan dikelola.
undefined







