News
Travel

Dari Beijing ke Shanghai: Kota yang Menulis Ulang Arah Pembangunan Dunia




Model ini menantang asumsi klasik tentang konflik inheren antara negara dan kapital yang sering diasosiasikan dengan Karl Marx. Dalam praktik Tiongkok, negara memberi arah, pasar memberi tenaga, dan kota menjadi ruang pertemuan keduanya.

Pelajaran dari Dua Kota

Dari Beijing dan Shanghai, dunia belajar bahwa tidak ada satu jalan tunggal menuju kemajuan. Abad ke dua puluh satu adalah abad kota, ketika pusat pusat urban menjadi aktor utama ekonomi dan geopolitik global.

Krisis yang berulang membuktikan bahwa pasar membutuhkan arah, dan kecepatan tanpa memori hanya melahirkan kerapuhan.

Tanpa Beijing, Shanghai akan rapuh. Tanpa Shanghai, Beijing berisiko membeku.

Pada akhirnya, Beijing dan Shanghai tidak sedang menawarkan model yang siap ditiru mentah mentah. Keduanya justru mengingatkan dunia pada satu kebenaran mendasar, pembangunan yang berhasil selalu kontekstual.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Dani Rodrik, yang menolak pendekatan satu resep untuk semua dalam kebijakan ekonomi. Negara yang berhasil bukan yang paling patuh pada formula global, melainkan yang paling mampu membaca realitasnya sendiri, institusi, struktur sosial, dan sumber daya yang dimilikinya.

Hal serupa ditegaskan oleh Amartya Sen, bahwa tujuan akhir pembangunan bukan sekadar pertumbuhan, melainkan perluasan kemampuan manusia untuk hidup layak dan bermartabat.

Beijing dan Shanghai memperlihatkan bahwa negara tidak harus dilemahkan demi pasar, pasar tidak harus dilepas liar demi pertumbuhan, dan kota tidak harus kehilangan sejarah demi masa depan. Setiap bangsa harus menulis peta jalannya sendiri, berakar pada sejarah, kapasitas negara, dan aspirasi rakyatnya.

Kesejahteraan tidak lahir dari imitasi, melainkan dari keberanian menulis arah sendiri.

Dan di tepi Sungai Huangpu, di antara gedung gedung pencakar langit dengan nama perusahaan global di setiap dindingnya, pemuda pemudi Tiongkok mengenakan pakaian tradisional, mengajak wisatawan berfoto bersama. Pemandangan itu seketika membuyarkan lamunan tentang jalan lain yang masih mungkin ditempuh Indonesia.

Semoga masih ada.


*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin