MAKASSAR, UNHAS.TV - Workshop membatik batch tiga digelar di Artani Eco Bulk Store, Rappocini, Makassar, Minggu (10/5/2026). Pelatihan ini menghadirkan pengalaman langsung bagi masyarakat untuk belajar membatik tulis.
Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mendorong peserta untuk ikut melestarikan warisan budaya Indonesia secara kreatif dan menyenangkan.
Suasana workshop tampak hangat dan penuh antusiasme. Peserta, dari berbagai usia, tampak serius namun gembira saat pertama kali dikenalkan pada alat dan bahan membatik.
Setiap orang mendapat kesempatan untuk mempraktikkan canting di atas kain, menyalurkan malam atau lilin panas untuk membentuk motif khas batik.
Peserta didampingi fasilitator secara step by step, mulai dari pembuatan pola, pemindahan desain ke kain, pencantingan, pewarnaan, hingga proses penghilangan malam.
“Kami ingin peserta benar-benar merasakan proses panjang di balik selembar kain batik yang selama ini menjadi simbol budaya Indonesia,” ujar Fantri Pribadi, seniman batik sekaligus fasilitator workshop.
Fantri menekankan, workshop batch tiga ini merupakan kelanjutan dari dua pelaksanaan sebelumnya yang juga digelar di Artani dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Menurut Fantri, membatik bukan sekadar menghasilkan motif indah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk menjaga identitas budaya sekaligus membuka kreativitas baru di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar.

WORKSHOP MEMBATIK - Lini Studio Batik bersama Artani menggelar workshop membatik batch tiga di Artani Eco Bulk Store, Rappocini, Makassar, Minggu (10/5/2026). (Unhas TV/Zahra Tsabita)
“Dari batch pertama sampai sekarang, kami melihat kreativitas peserta terus meningkat. Banyak yang awalnya belum pernah membatik, kini sudah berani mengeksplorasi motif dan pola sendiri,” kata Fantri.
Workshop ini merupakan hasil kolaborasi Lini Studio Batik bersama Artani, yang menargetkan peserta pemula maupun mereka yang ingin mendalami seni membatik.
Peserta tidak hanya membawa pulang karya mereka sendiri, tetapi juga pemahaman mendalam tentang proses pembuatan batik tulis, yang berbeda dengan batik cap atau cetak.
Setiap tahapan handmade, kata Fantri, menjadi pengalaman belajar yang berharga karena mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan apresiasi terhadap budaya lokal.
Selain aspek teknik, workshop ini juga memiliki tujuan strategis dalam pelestarian budaya. Di tengah perkembangan budaya modern dan tren digital, Fantri menilai penting bagi generasi muda untuk mengenal warisan tradisional dengan cara yang menyenangkan dan relevan.
“Kegiatan seperti ini membantu batik tetap hidup, relevan, dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya,” ujarnya.
Workshop membatik Artani x Lini ini, menurut Fantri, menjadi contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat diintegrasikan dalam kehidupan modern tanpa kehilangan nilai budaya.
“Kami ingin motif dan ikon budaya daerah di Sulawesi Selatan berkembang menjadi identitas batik khas daerah. Peserta diajak berkreasi sekaligus memahami filosofi dan proses di balik batik,” tuturnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal yang menginspirasi masyarakat Makassar untuk lebih mencintai dan melestarikan batik, sekaligus membuka peluang bagi kreativitas lokal yang lebih luas.
Dari canting ke karya, peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga merasakan perjalanan panjang sebuah kain batik lahir dari tangan-tangan kreatif.
(Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)
Lini Studio Batik bersama Artani menggelar workshop membatik batch tiga di Artani Eco Bulk Store, Rappocini, Makassar, Minggu (10/5/2026). (Unhas TV/Zahra Tsabita)
-300x180.webp)


-300x192.webp)

-300x169.webp)


