Pendidikan

Dari Kelas ke Lapangan Global: Mahasiswa AKK FKM Unhas Pelajari Model Penanggulangan HIV/AIDS di KLASS Malaysia

Mahasiswa Magister AKK FKM Unhas bersama dosen pendamping dan tim KLASS Kuala Lumpur berfoto bersama usai kegiatan benchmarking internasional yang memperkuat pemahaman tentang strategi penanggulangan HIV/AIDS berbasis komunitas dan kolaborasi global, 29 Maret 2026. undefined

KUALA LUMPUR, UNHAS.TV — Sebanyak 19 mahasiswa Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin melangkah keluar dari ruang kelas menuju panggung global melalui kegiatan benchmarking internasional di The Kuala Lumpur AIDS Support Services Society (KLASS), Malaysia.

Didampingi tiga dosen yakni Prof. Dr. Amran Razak, M.Sc., Dr. Yusran Amir, SKM., M.PH., dan Ryryn Suryaman Prana Putra, SKM., M.Kes., kunjungan ini menjadi jembatan strategis antara teori akademik dan praktik nyata kesehatan masyarakat.

Kegiatan ini turut difasilitasi oleh dosen University of Malaya, Dr. Jufri Hidayat, yang membuka akses kolaborasi langsung antara mahasiswa FKM Unhas dan lembaga komunitas internasional.

Di tengah dinamika isu kesehatan global, mahasiswa AKK FKM Unhas menyelami secara langsung praktik penanggulangan HIV/AIDS berbasis komunitas yang dijalankan KLASS sejak berdiri pada 2001.

Presiden KLASS, Mr. Andrew Tan Tze Tho, memaparkan bagaimana organisasinya berperan dalam pencegahan, pengobatan, edukasi, serta pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS di Malaysia.

Paparan tersebut menghadirkan gambaran konkret tentang bagaimana organisasi masyarakat sipil mengisi celah layanan kesehatan yang belum sepenuhnya dijangkau sistem formal.

Diskusi interaktif kemudian menjadi ruang kritis bagi mahasiswa untuk mengupas tantangan penanggulangan HIV/AIDS dari aspek sosial, klinis, hingga kebijakan.

Mahasiswa juga mendapatkan pemahaman ilmiah mengenai mekanisme virus HIV dalam menyerang sel CD4 yang memperkaya perspektif mereka terhadap keterkaitan ilmu biomedis dan kebijakan kesehatan.

Pengalaman ini mempertegas bahwa pembelajaran kesehatan masyarakat tidak cukup berhenti pada teori, tetapi harus menyatu dengan realitas sosial dan kebutuhan komunitas.

Mahasiswa Magister AKK FKM Unhas bersama dosen pendamping berfoto bersama pimpinan KLASS Kuala Lumpur usai sesi benchmarking internasional, menandai kolaborasi pembelajaran lapangan dalam memahami model penanggulangan HIV/AIDS berbasis komunitas di tingkat global, 29 Maret 2026.
Mahasiswa Magister AKK FKM Unhas bersama dosen pendamping berfoto bersama pimpinan KLASS Kuala Lumpur usai sesi benchmarking internasional, menandai kolaborasi pembelajaran lapangan dalam memahami model penanggulangan HIV/AIDS berbasis komunitas di tingkat global, 29 Maret 2026. (Dok.Pribadi).


Benchmarking ini sekaligus memperluas wawasan mahasiswa tentang pentingnya pendekatan berbasis hak asasi manusia dalam merancang kebijakan kesehatan yang inklusif.

Dari sisi kelembagaan, kegiatan ini berkontribusi langsung pada pencapaian Indikator Kinerja Utama Universitas Hasanuddin melalui peningkatan pengalaman belajar di luar kampus dan penguatan jejaring internasional.

Keterlibatan mahasiswa dalam praktik global menunjukkan bahwa pendidikan tinggi kini bergerak melampaui batas geografis menuju kolaborasi lintas negara.

Momentum ini juga memperkuat posisi FKM Unhas sebagai institusi yang aktif mendorong internasionalisasi dan peningkatan mutu lulusan di tingkat global.

Dalam konteks pembangunan nasional, pembelajaran dari KLASS menjadi refleksi penting bagi penguatan sistem kesehatan Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Mahasiswa menyadari bahwa pendekatan komunitas dan kolaborasi multipihak merupakan kunci dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat kontemporer.

Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals terutama pada tujuan kesehatan yang baik serta kemitraan global yang berkelanjutan.

Dari Kuala Lumpur, mahasiswa AKK FKM Unhas membawa pulang bukan hanya pengalaman, tetapi juga perspektif baru untuk membangun kebijakan kesehatan yang lebih responsif dan berdampak luas di Indonesia.(*)