MAKASSAR, UNHAS.TV - Peringatan Hari Kartini tanggal 21 April di Makassar menghadirkan potret lain tentang perjuangan perempuan.
Di tengah lalu lalang kendaraan dan bau menyengat bahan bakar di SPBU Gunung Sari, seorang operator bernama Suci Ramadhana Syam menjalani hari-harinya dengan ritme kerja yang keras.
Ibu tunggal itu bekerja bukan semata untuk bertahan hidup, melainkan untuk memastikan masa depan anak semata wayangnya tetap menyala.
Sejak November 2025, Suci bekerja sebagai operator SPBU di kawasan Gunung Sari, Makassar. Ia menjalani pola kerja enam hari masuk dan satu hari libur.
Dalam jadwal itu, perempuan 39 tahun ini dituntut hadir penuh, melayani pengendara yang datang silih berganti, sekaligus menata hidupnya sebagai orang tua tunggal.
Pada Selasa, 21 April 2026, bertepatan dengan Hari Kartini, Suci tetap berdiri di balik dispenser bahan bakar, menjalani shift siang hingga malam seperti biasa.
Unhas.TV menemui Suci saat ia bertugas dari pukul 14.00 hingga 22.00 Wita. Selama delapan jam, ia melayani kendaraan yang mengantre tanpa banyak jeda.
Pekerjaan itu menuntut ketelitian, ketahanan fisik, dan kesabaran. Namun bagi Suci, beban kerja itu bukan hal yang paling berat. Tantangan terbesarnya justru bagaimana membagi waktu antara mencari nafkah dan tetap hadir dalam kehidupan anaknya.
“Saya kerja untuk cari nafkah untuk anakku. Pertama sebenarnya saya kerja ngojek Maxim. Tapi semenjak kerja di sini, saya sudah tidak buka lagi aplikasi Maxim, karena kalau saya buka, kurang waktuku sama anakku," ujarnya.
"Jadi di sini saya masuk kerja siang jam 14.00 sampai 22.00. Kalau pagi saya kerja lagi, tidak ada waktuku sama anakku,” kata Suci.
Pilihannya untuk meninggalkan pekerjaan tambahan itu bukan tanpa konsekuensi. Penghasilannya bisa saja lebih besar bila tetap bekerja sejak pagi.
Tapi Suci memutuskan waktu bersama anak lebih penting. Baginya, pagi hari adalah ruang yang tidak boleh hilang, saat ia masih bisa mendampingi, memperhatikan, dan memastikan anaknya tumbuh dengan cukup kasih sayang.
Saat ditemui seusai bekerja pada pukul 22.00 Wita, wajah lelah Suci tak sepenuhnya bisa menyembunyikan kepenatan.
Namun kelelahan itu berlapis dengan ketabahan. Ia tetap pulang dengan semangat yang sama: ada anak yang menunggu di rumah. Di situlah, menurut dia, sumber tenaga yang membuatnya terus bertahan.
“Yang membuat semangat kerja itu anakku. Seandainya bukan dia, saya tidak kerja. Kasihanka juga sama anakku, karena dari kecil memang tidak pernah ketemu sama bapaknya, dari umur tiga bulan,” ujarnya.
Bagi Suci, hidup kini tak lagi berpusat pada dirinya sendiri. Ia mengatakan hampir seluruh pikirannya tertuju pada anaknya, termasuk cita-cita sang putra yang kelak ingin menjadi tentara.
Karena itu, ia berupaya sebisanya memenuhi kebutuhan sekolah dan les mengaji anaknya, walau hidupnya juga ditopang bantuan keluarga.
“Sekarang tidak adami kupikir untuk diriku, pokoknya semua untuk anakku. Cita-citanya mau jadi tentara. Makanya saya kasih sekolah, les mengaji juga," ujarnya penuh harap.
"Saya juga numpang sama kakak, orang tuaku sudah tidak ada. Seandainya tidak ada kakakku, saya tidak tahu mau tinggal ke mana sama anakku,” kata dia.
Di balik seragam SPBU yang sederhana, Suci memperlihatkan wajah Kartini di masa kini, sebagai sosok perempuan yang bekerja dalam sunyi, memikul tanggung jawab tanpa banyak keluh, dan menaruh seluruh harapan pada masa depan anaknya.
Kepada perempuan lain, ia berpesan agar tidak menyerah pada keadaan. Bagi dia, semangat Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan keberanian untuk mandiri dan keyakinan bahwa rezeki ibu yang tangguh tak akan tertukar.
(Amina Rahma Ahmad / Unhas TV)
Sosok Kartini masa kini, Suci Ramadhana Syam, seorang operator SPBU Gunung Sari Makassar yang berjuang untuk menjaga mimpi anak. (Unhas TV/Amina Rahma Ahmad)

-300x169.webp)

-300x164.webp)




