MAKASSAR, UNHAS.TV - Aula Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin (Unhas), kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, dipenuhi mahasiswa, akademisi, dan sejumlah tokoh politik, Jumat sore, (22/08/2025).
Mereka datang menghadiri Dialog Kebangsaan yang digagas Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unhas. Tema yang diusung: “Menjaga Nasionalisme di Era Disinformasi: Peran Pemerintah, Media, dan Masyarakat.”
Ketua panitia, Herlianti, menyebut forum ini diharapkan mampu melahirkan gagasan baru dalam menghadapi maraknya kabar palsu yang kerap memecah belah masyarakat. “Semoga kegiatan ini bisa menjawab isu-isu mengenai disinformasi dan melahirkan kebijakan yang relevan,” ujarnya.
Salah seorang narasumber utama, Bupati Bone periode 2013–2023, Dr HA Fahsar Mahdin Padjalangi, menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah. Menurutnya, nasionalisme kini kian terkikis oleh derasnya arus globalisasi.
“Dengan kegiatan seperti ini, semangat bangsa bisa kembali tumbuh. Pemerintah harus hadir dalam setiap gejolak, terutama melalui pendidikan dan literasi informasi,” kata Andi Fahsar.
Dari parlemen nasional, hadir anggota DPR RI Komisi I, Dr Syamsu Rizal SSos MSi. Ia menyoroti perbedaan antara disinformasi dan misinformasi, serta dampaknya terhadap kesadaran publik.
Menurutnya, disinformasi adalah bentuk serangan yang sengaja dirancang untuk merusak. “Kita bisa dibilang terjajah secara informasi jika tidak membangun kemandirian. Karena itu, masyarakat harus lebih bijak mengonsumsi informasi,” katanya.
Perspektif lokal disampaikan Zulhajar, anggota DPRD Kota Makassar. Ia menegaskan bahwa disinformasi tidak hanya menyesatkan publik, tetapi juga menggerus “komunitas terbayangkan” yang menjadi fondasi nasionalisme, sebagaimana pernah dikemukakan Benedict Anderson.
“Negara belum punya kapasitas penyaring. Harus ada kebijakan tegas dalam membatasi konten digital yang merusak, seperti yang dilakukan Australia terhadap penggunaan media bagi anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu, dari kalangan media, Pimpinan Redaksi Tribun Timur, Nur Thamzil Thahir, menegaskan kembali peran jurnalis sebagai penjaga gerbang informasi.
Baginya, nasionalisme digital hanya bisa tumbuh jika publik memperoleh berita yang telah diverifikasi. “Wartawan harus turun langsung ke lapangan, memverifikasi, dan menyajikan kebenaran,” katanya.
Dialog kebangsaan ini bukan hanya forum akademik, tetapi juga cermin keresahan generasi muda atas rapuhnya ikatan kebangsaan di era serbacepat digital. Di tangan mahasiswa, isu disinformasi dipandang bukan sekadar gangguan informasi, melainkan ancaman serius terhadap imajinasi kebangsaan.
Selain menjadi ajang tukar pikiran, Dialog Kebangsaan ini juga menjadi penutup rangkaian Gelora 2025 atau Gelar Lomba Riset dan Ilmiah tingkat nasional yang diselenggarakan oleh mahasiswa Himapem Unhas.
(Rizka Fraja / Unhas.TV)