
Pelatih Chelsea Liam Rosenior mengakui kesalahan memainkan Sarr sebagai starter hingga berujung kalah 0-3 di kandang. (The Sun/Shutterstock)
Ia menyoroti kesalahan awal Sarr sebagai pukulan yang mempersulit semua rencana pertandingan, seraya menegaskan timnya harus berhenti mengulang kesalahan individual bila ingin memulihkan musim.
Namun pengakuan itu tak serta-merta meredakan tekanan. Reuters menyebut posisi Liam Rosenior kini berada dalam sorotan besar setelah dua bulan yang tidak stabil, di tengah hasil kompetisi domestik yang juga seret.
Kekalahan dari PSG menambah kusut musim Chelsea. Di Liga Primer, mereka kini berada di urutan keenam dan hanya meraih lima poin dari lima laga terakhir.
Sabtu nanti mereka harus bertandang ke Everton, sementara satu-satunya peluang trofi yang paling realistis kini tersisa di Piala FA, ketika mereka menghadapi Port Vale di babak 8 besar.
Semua itu terjadi di tengah proyek besar BlueCo yang sejak mengambil alih klub pada 2022 berjanji mengakhiri sirkulasi pelatih ala era lama.
Tetapi kini justru kembali berhadapan dengan pertanyaan yang sama, apakah arah pembangunan tim ini benar-benar cukup untuk membawa Chelsea kembali ke level elite Eropa?
Bagi PSG, pertandingan ini menjadi pernyataan kekuatan yang bersih dan dingin. Luis Enrique memuji daya ledak timnya dan menyoroti kemampuan PSG mencetak gol dari berbagai jenis situasi.
Dua gol dalam 15 menit pertama, kata dia, sudah memberi fondasi yang menentukan. Sulit membantahnya.
Pada malam ketika Chelsea berusaha menyalakan kenangan tentang kejayaan musim panas, PSG justru mengingatkan bahwa panggung utama sepak bola Eropa menuntut lebih dari sekadar kenangan.
Ia menuntut kestabilan, ketajaman, dan organisasi yang nyaris tanpa cela. Tiga hal yang malam itu dimiliki PSG—dan tidak dimiliki Chelsea. (*)








