Karier
Pendidikan

Dikenal sebagai “Dosen Gunung”, Dosen Muda Unhas Manfaatkan TikTok untuk Dekatkan Diri dengan Mahasiswa

Mulawarman SIP MSi - Dosen muda Unhas yang akrak disapa Dosen Gunung. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Dosen muda Universitas Hasanuddin (Unhas) yang akrab disapa Kak Arman memiliki cara tersendiri dalam membangun kedekatan dengan mahasiswa. Nama aslinya Mulawarman SIP MSi. 

Dikenal sebagai “Dosen Gunung” di media sosial, ia aktif membagikan aktivitas perkuliahan hingga membuat konten TikTok bersama mahasiswa melalui akun @givari_arman.

Sebutan “Dosen Gunung” berawal dari kegemarannya mendaki gunung. Identitas tersebut semakin dikenal setelah ia mengunggah video mengenai mahasiswa yang terlambat masuk kelas.

Sejak saat itu, Kak Arman mulai rutin membagikan berbagai aktivitas mengajar dan interaksinya bersama mahasiswa.

“Saya memilih Dosen Gunung itu karena tipikal orangnya suka naik gunung, kemudian selalu merekam aktivitas-aktivitas mengajar saya. Awalnya saya mengunggah satu video terkait mahasiswa terlambat. Mulai dari situ teman-teman mahasiswa di Unhas mengenalnya sebagai Dosen Gunung,” ungkap Kak Arman.

Dalam kesehariannya, Kak Arman merupakan bagian dari tim pengajar Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) Unhas.

Ia mengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan bagi mahasiswa dari berbagai program studi, termasuk di Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, dan Fakultas Vokasi.

Menurutnya, kesempatan mengajar mahasiswa dari beragam latar belakang menjadi pengalaman berharga untuk berbagi ilmu sekaligus membangun komunikasi dengan generasi muda.

Selain menjalankan tugas sebagai dosen, Kak Arman memanfaatkan TikTok untuk membagikan kegiatan pembelajaran, mulai dari diskusi kelas hingga penampilan mahasiswa saat melakukan presentasi.



Mulawarman SIP MSi - Dosen muda Unhas yang akrak disapa Dosen Gunung. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)


Ia kerap merekam mahasiswa yang mampu memimpin diskusi atau menyampaikan materi dengan baik. Konten tersebut kemudian dibagikan agar dapat menjadi referensi bagi mahasiswa lainnya dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi.

“Ketika ada moderator yang bagus, saya rekam untuk dijadikan referensi bagi teman-teman mahasiswa yang ada di Unhas. Ketika memberikan presentasi, saya juga membiasakan mereka untuk tidak membaca teks, artinya mereka sudah memahami secara mendalam materi yang disampaikan,” jelasnya.

Tidak hanya konten akademik, Kak Arman juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan santai, seperti membuat video ulasan makanan. Melalui aktivitas tersebut, ia berupaya membangun interaksi yang lebih akrab sekaligus mengenalkan proses pembuatan konten digital kepada mahasiswa.

“Intinya saya selalu melibatkan mahasiswa dalam konten-konten saya. Bagaimana mereka juga bisa belajar menjadi konten kreator,” tuturnya.

Ia berharap pemanfaatan media sosial tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun sesama dosen untuk menghadirkan konten yang edukatif dan bermanfaat.

Tekankan Berpikir Kritis di Tengah Perkembangan AI

Di balik pendekatannya yang akrab dengan mahasiswa, Kak Arman tetap menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam proses pembelajaran.

Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Namun, mahasiswa perlu menghindari ketergantungan pada teknologi tersebut, terutama ketika mengikuti diskusi dan menyelesaikan tugas perkuliahan.



Mulawarman SIP MSi - Dosen muda Unhas yang akrak disapa Dosen Gunung. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)


Karena itu, ia membiasakan mahasiswa mempersiapkan bahan pembelajaran secara mandiri, membuat catatan kecil, dan menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman sendiri.

“Anak-anak Gen Z sekarang ini paling dekat dengan AI. Ini salah satu pendekatan yang selalu saya berikan kepada mahasiswa, terutama untuk menghindari ketergantungan pada AI ketika berdiskusi,” jelasnya.

Pendekatan tersebut terutama diterapkan kepada mahasiswa semester awal agar terbiasa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan tidak hanya mengandalkan jawaban instan.

Kak Arman yang menyebut dirinya sebagai “dosen milenial, tetapi berhati Gen Z” berharap mahasiswa Unhas mampu menjadi generasi yang kritis, aktif berdiskusi, dan peka terhadap persoalan di sekitarnya.

“Harapan saya, sebagai mahasiswa harus berpikir kritis, menggunakan critical thinking dalam berdiskusi, tidak apatis, dan lebih peka terhadap suatu kondisi di lingkungan kita,” ujarnya.

Melalui kegiatan mengajar dan konten media sosial, Kak Arman berupaya menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan mahasiswa, sekaligus mendorong mereka untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis.

(Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)