BULUKUMBA, UNHAS.TV – Upaya menjaga keberlanjutan Pinisi sebagai warisan budaya maritim Indonesia diperkuat melalui pendekatan berbasis riset oleh Tim Universitas Hasanuddin (Unhas).
Maritime Governance and Sustainable Development Research Group menggelar diseminasi hasil penelitian Thematic Research Group tentang tata kelola Pinisi di Ruang Kahayya, Gedung Pinisi, Bulukumba, Rabu (1/7/2026).
Tim riset menggandeng Adaptive Public Organization Research Group Departemen Ilmu Administrasi FISIP Unhas dan bekerja sama dengan Bapperida Kabupaten Bulukumba.
Kegiatan ini menjadi wadah untuk menyampaikan hasil penelitian sekaligus memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pelestarian Pinisi yang berbasis bukti ilmiah.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara akademisi, pemerintah, komunitas, dan pelaku budaya untuk mendiseminasikan hasil penelitian sekaligus membangun dialog dalam merumuskan arah kebijakan pelestarian Pinisi yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Diseminasi ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian dua Thematic Research Group Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin yang berfokus pada penguatan tata kelola warisan budaya maritim.
Penelitian pertama mengangkat tema "Tradisi di Persimpangan: Memahami Tantangan Pelestarian Pinisi di Bulukumba", sedangkan penelitian kedua berjudul "Kapasitas Adaptif Pinisi Tereduksi: Kapasitas Absorptif Asimetris dalam Industri Maritim Budaya."
Kedua penelitian tersebut dirancang untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat tata kelola pelestarian Pinisi sebagai warisan budaya maritim dunia yang berkelanjutan.
Sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bulukumba, Muh. Ali Saleng, S.H., M.Si., didampingi Ketua Bapperida Kabupaten Bulukumba, A. Irma Darmayanti, S.T., M.M.
Dalam sambutannya, Muh. Ali Saleng menyampaikan apresiasi kepada kalangan akademisi yang menghadirkan hasil penelitian sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Horst Liebner menyampaikan masukan memperkuat kolaborasi pelestarian Pinisi berbasis riset bersama pemerintah, akademisi, dan komunitas maritim. (Foto: Dok.Pribadi).
Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi salah satu referensi penting dalam penyusunan kebijakan daerah guna memperkuat pelestarian Pinisi secara berkelanjutan.
Paparan Riset Ungkap Tantangan Pelestarian Pinisi
Sesi diseminasi kemudian dilanjutkan dengan presentasi hasil penelitian yang dipandu Andi Ahmad Yani, S.Sos., M.Si., MPA., M.Sc., selaku pendamping tim riset.
Presentasi pertama disampaikan Nuralamsyah Ismail, S.Sos., M.A., yang memaparkan hasil kajian mengenai kapasitas adaptif industri Pinisi dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa industri Pinisi saat ini menghadapi tekanan akibat globalisasi, perubahan iklim, serta semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku kayu.
Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kapasitas adaptif para pelaku industri mengalami penurunan, terutama pada aspek kelembagaan, keberlanjutan sumber daya, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan perencanaan jangka panjang.
Meskipun kemampuan berinovasi dan merespons perubahan pasar masih tergolong baik, proses adaptasi dinilai masih bersifat reaktif serta belum ditopang pembelajaran kolektif maupun penguatan kelembagaan yang memadai.
Selanjutnya, Dr. Ishak Salim, S.IP., M.A., mempresentasikan hasil penelitian mengenai tantangan pelestarian Pinisi dari perspektif jaringan aktor dalam kebijakan publik.
Penelitian tersebut mengidentifikasi empat tantangan utama, yakni komodifikasi budaya, ketimpangan relasi kekuasaan antarpemangku kepentingan, fragmentasi jaringan kelembagaan, serta krisis ketersediaan bahan baku kayu.
.webp)
Peneliti Universitas Hasanuddin memaparkan temuan riset sebagai dasar penguatan tata kelola pelestarian Pinisi berkelanjutan berbasis bukti. (Foto: Dok.Pribadi).
Berdasarkan temuan itu, tim peneliti merekomendasikan pembentukan asosiasi pekerja Pinisi, penyusunan kontrak kerja yang melindungi pekerja sekaligus nilai budaya, penguatan tata kelola pemanfaatan kayu yang transparan dan berkelanjutan, dokumentasi pengetahuan lokal, serta pengembangan pariwisata berbasis komunitas sebagai strategi menjaga keberlanjutan budaya maritim.
Kolaborasi Jadi Kunci Menjaga Warisan Budaya Maritim
Diskusi yang berlangsung setelah sesi presentasi menghadirkan beragam pandangan dari unsur pemerintah daerah, akademisi, pemerhati pelestarian Pinisi, Horst Liebner, para panrita lopi, tokoh pemuda, serta perwakilan Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, dan Desa Bira.
Berbagai masukan yang mengemuka memperkaya hasil penelitian sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem budaya Pinisi.
Para peserta juga mendorong agar hasil penelitian tersebut ditindaklanjuti melalui riset lanjutan dan menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Bulukumba dalam menyusun kebijakan yang mampu menjawab berbagai tantangan pelestarian Pinisi secara komprehensif.
Melalui diseminasi ini, Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin bersama Bapperida Kabupaten Bulukumba berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, melainkan menjadi fondasi penyusunan kebijakan publik berbasis bukti sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan Pinisi sebagai warisan budaya maritim yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan budaya.(*)
Penyerahan rekomendasi hasil penelitian memperkuat kolaborasi Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Bulukumba melestarikan Pinisi. (Foto: Dok.Pribadi).




-300x178.webp)



