MAKASSAR, UNHAS.TV - Dua kantong mayat yang diduga merupakan korban tenggelamnya KM Nurul Salsa tiba di Makassar, Rabu (22/7/2026) pagi.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes_ Polda Sulawesi Selatan membawa keduanya ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani pemeriksaan forensik dan identifikasi.
Kapal Negara SAR Kamajaya merapat di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar sekitar pukul 06.30 Wita. Petugas Basarnas, TNI, Polri, dan tim DVI menurunkan dua kantong mayat dari kapal, lalu memindahkannya ke ambulans.
Proses berlangsung tertutup sebelum kedua mayat dibawa menuju posko DVI Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, dan selanjutnya ditangani di Rumah Sakit Bhayangkara.
Dua mayat tersebut ditemukan pada lokasi dan waktu berbeda dalam operasi pencarian KM Nurul Salsa. Satu mayat ditemukan di perairan sekitar Pulau Pamulikang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, pada hari ketujuh pencarian.
Mayat lainnya ditemukan di perairan sebelah timur Pulau Sanana Besar, Maluku Utara, pada hari kedelapan operasi.
KM Nurul Salsa sebelumnya dilaporkan tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar.
Arus laut dan jarak penemuan yang terpaut jauh membuat area pencarian terus diperluas. Tim SAR membagi wilayah pencarian ke sejumlah sektor serta melibatkan kapal dan personel dari berbagai instansi.
Kepala Biddokkes Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol Muhammad Haris mengatakan tim ahli forensik segera memeriksa kedua jenazah. Pemeriksaan dilakukan bersama ahli forensik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Tim dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri juga dijadwalkan membantu proses identifikasi dalam beberapa hari ke depan.

KAPAL TENGGELAM - Dua kantong mayat yang diduga merupakan korban tenggelamnya KM Nurul Salsa tiba di RS Bhayangkara Makassar, Rabu (22/7/2026) pagi. (Unhas TV / Wandi Nojeng)
Menurut Haris, metode identifikasi akan disesuaikan dengan kondisi jenazah. Sidik jari menjadi pilihan pertama apabila jaringan tubuh masih memungkinkan untuk diperiksa.
Jika metode itu tidak dapat digunakan, tim akan membandingkan profil gigi korban dengan data antemortem yang telah dikumpulkan dari keluarga.
Pemeriksaan DNA menjadi tahapan berikutnya apabila sidik jari dan profil gigi tidak memberikan hasil memadai. Sampel DNA jenazah akan dicocokkan dengan profil genetik keluarga terdekat.
“Kami belum membuka kantong mayat. Identifikasi akan dilakukan secara lengkap oleh tim forensik,” kata Haris.
Tim DVI belum dapat memastikan jenis kelamin ataupun identitas kedua jenazah. Kondisi tubuh yang telah cukup lama berada di laut membuat pengenalan secara visual tidak dapat dijadikan dasar.
Kepastian identitas baru akan diumumkan setelah data postmortem sesuai dengan data antemortem keluarga.
Sebelum kedua mayat tiba di Makassar, petugas DVI telah mengumpulkan keterangan keluarga korban, termasuk ciri fisik, riwayat medis, data gigi, foto, serta informasi lain yang dapat membantu pencocokan. Data tersebut juga dihimpun untuk seluruh penumpang yang dilaporkan belum ditemukan.
Proses identifikasi diperkirakan bergantung pada kondisi material biologis yang tersedia. Bila sidik jari masih terbaca, hasil dapat diperoleh lebih cepat.
Namun, jika mayat mengalami kerusakan berat atau yang ditemukan berupa bagian tubuh, pemeriksaan gigi dan DNA akan menjadi penentu utama.
Setelah identifikasi rampung, jenazah akan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Polisi meminta keluarga menunggu hasil pemeriksaan resmi dan tidak menyimpulkan identitas korban berdasarkan ciri visual maupun lokasi penemuan.
Sementara itu, tim SAR gabungan memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur yang terlibat.
Pencarian difokuskan pada kemungkinan jalur hanyut korban dengan mempertimbangkan arus, angin, serta laporan masyarakat pesisir dan nelayan.
(Wandi Nojeng / Unhas TV)
KAPAL TENGGELAM - Dua kantong mayat yang diduga merupakan korban tenggelamnya KM Nurul Salsa tiba di RS Bhayangkara Makassar, Rabu (22/7/2026) pagi. (Unhas TV / Wandi Nojeng)








