News

Emas dari Helsingborg, Menuju Austria 2027

Catatan Eka Sastra dari Swedia*

Akhirnya, perjalanan panjang itu berujung pada satu kata yang kami impikan sejak meninggalkan Makassar: EMAS. Paduan Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin (PSM Unhas) berhasil meraih medali emas pada World Choir Games 2026 di Helsingborg, Swedia.

Sebagai bagian dari rombongan Universitas Hasanuddin, saya tidak memandang medali ini sekadar hasil sebuah kompetisi. Di baliknya tersimpan latihan yang panjang, disiplin yang ketat, kerja keras tanpa henti, pencarian dukungan yang tak kenal lelah, perjalanan ribuan kilometer, dan keberanian anak-anak muda Unhas untuk membawa nama kampus sekaligus Indonesia ke panggung dunia.

Saya beruntung dapat menyaksikan dari dekat bagaimana seluruh proses itu menemukan bentuknya di Helsingborg. Salah satu momen yang paling membekas terjadi saat PSM Unhas menyelesaikan penampilannya, penonton berdiri memberikan standing ovation.

Beberapa saat sebelumnya, suara mahasiswa-mahasiswa kita memenuhi ruangan setelah itu gemuruh tepuk tangan dan seluruh penonton dalam ruangan theater yang menikmati Celebration Concert bertema “World Rhythms, World Voices”.

Begitupun saat diminta mengisi acara secara mendadak di acara International Day di Malmo, sambutan dan decak kagum dari seluruh penonton yang berasal dari puluhan negara terasa sangat membanggakan.

Banyak yang bertanya Makassar terletak di bagian mana di Indonesia, Universitas Hasanuddin kampusnya bagaimana. Sebuah diplomasi kebudayaan melalui suara sedang dijalankan oleh PSM UNHAS.  M

ereka datang dari Makassar membawa tiga karya dalam kategori Folklore A Cappella: Ininnawa Sabbara’e, Marencong-rencong, dan Tenggang Lopi. Mereka tidak datang ke Eropa untuk menjadi orang lain. Mereka datang membawa identitas dan kekayaan musikal dari tanah kelahirannya.

Ketika lagu berakhir dan penonton berdiri, saya membaca pesan sederhana namun kuat: kualitas tidak mengenal batas geografis. Anak-anak muda dari Makassar mampu berdiri di panggung internasional dan membuat dunia berhenti sejenak untuk mendengarkan.

Kemudian hasil kompetisi diumumkan. PSM Unhas meraih medali emas. Perjalanan panjang itu mendapatkan jawabannya.

Emas yang Dimulai dari Makassar

Namun emas itu sebenarnya tidak lahir di Helsingborg. Ia dimulai jauh sebelumnya, dari ruang-ruang latihan di lantai dasar Rektorat Universitas Hasanuddin, dari kesabaran Kak Ari sebagai pelatih dan konduktor, disiplin para penyanyi, kerja keras pengurus, serta dukungan universitas, alumni, orang tua, dan berbagai pihak yang percaya kepada mereka.

Saya teringat Digdaya 3, konser yang digelar sebelum keberangkatan. Siang itu, Baruga AP Pettarani dipenuhi penonton. Sekitar 2.000 tiket habis terjual. Suasana itu sudah menyampaikan pesan yang jelas sebelum kami meninggalkan Makassar: PSM Unhas tidak berangkat sendirian.

Ada ribuan orang yang menitipkan harapan kepada mereka. Harapan itulah yang kemudian mereka bawa ke Helsingborg.

Pilihan repertoar mereka juga mengandung pelajaran penting. Di tengah kompetisi yang mempertemukan paduan suara dari berbagai belahan dunia, PSM Unhas memilih berdiri dengan identitasnya sendiri.

Ini membuktikan bahwa untuk menjadi global, kita tidak harus kehilangan akar lokal. Justru ketika kebudayaan lokal dikerjakan dengan standar internasional, ia memiliki kekuatan untuk membuat dunia berhenti dan mendengarkan.

Kebanggaan Indonesia di Helsingborg juga hadir melalui paduan suara Universitas Pattimura dari Maluku dan Universitas Cenderawasih dari Papua. Bersama PSM Unhas, mereka memperlihatkan kekayaan talenta dan budaya Indonesia di panggung internasional. Ketiganya merebut medali yang membanggakan kampus dan Indonesia.

Dari Emas Menuju Mimpi Berikutnya

Setelah kegembiraan menerima medali emas, pertanyaan berikutnya muncul dengan sendirinya: setelah Helsingborg, ke mana kita akan pergi? Sebuah prestasi seharusnya tidak hanya menjadi cerita yang terus dikenang.

Ia harus menjadi standar baru. Helsingborg telah membuktikan bahwa PSM Unhas mampu bersaing di panggung dunia. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan dan meningkatkan kualitas tersebut.

Tujuan selanjutnya sudah ada di depan mata: Linz, Austria. World Choir Games berikutnya akan berlangsung di Linz pada 21–31 Juli 2027. Kota ini memiliki makna khusus.

Di sinilah World Choir Games pertama kali diselenggarakan pada tahun 2000, ketika masih dikenal sebagai Choir Olympics. Dua puluh tujuh tahun kemudian, kompetisi ini kembali ke tempat kelahirannya. Dan kami ingin kembali berada di sana.

Namun perjalanan menuju Austria tidak boleh dimulai beberapa bulan menjelang kompetisi. Perjalanan itu dimulai sekarang. Hasil Helsingborg harus dievaluasi. Regenerasi harus disiapkan. Kualitas vokal dan artistik terus ditingkatkan. Repertoar diperkuat. Manajemen organisasi semakin profesional. Dukungan yang berkelanjutan harus dibangun.

Yang paling penting adalah menjaga keyakinan yang telah dibuktikan di Helsingborg: PSM Unhas layak berada di panggung dunia. Karena itu, target Linz tidak boleh sekadar kembali mengikuti World Choir Games. Kita harus kembali untuk berprestasi.

Perjalanan Helsingborg akhirnya memberi saya satu pemahaman yang jelas. Universitas bukan hanya tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan dan kemudian menerima ijazah.

Universitas juga harus menjadi tempat anak-anak muda menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya, membangun kepercayaan diri, dan memperoleh kesempatan untuk menguji kemampuan tersebut di hadapan dunia.

PSM Unhas telah memperlihatkan itu. Mereka berangkat dari Makassar membawa mimpi dan kebudayaan Indonesia. Mereka berdiri di panggung World Choir Games. Mereka membuat penonton berdiri memberikan penghormatan. Dan mereka pulang membawa medali emas.

Kini Helsingborg segera menjadi kenangan. Tetapi perjalanan PSM Unhas belum selesai. Kami meninggalkan kota ini dengan rasa syukur atas sebuah pencapaian, sekaligus membawa mimpi yang baru: Linz, Austria—World Choir Games 2027.

Jika Helsingborg telah membuktikan bahwa PSM Unhas mampu berdiri sejajar dengan dunia, maka Austria adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa keberhasilan itu bukan kebetulan.

Karena bagi kami, emas bukanlah akhir perjalanan. Emas adalah awal dari perjalanan berikutnya. Sampai bertemu di Linz, Austria.


*Eka Sastra adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin. Kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Hadin Metavsi Akademika