Kuliner
Sulsel

Empang Terbengkalai di Bulu Cindea Berubah Jadi Magnet Wisata Kuliner

WISATA MANCING - Destinasi wisata Kuliner dan pemancingan Bulu Cindea yang dikelola Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes Bulu Cindea. Lahan yang dulu hanya berupa empang terbengkalai kini berubah menjadi ruang wisata yang ramai dikunjungi warga. (Muh Nur Alim/Unhas TV)

PANGKEP, UNHAS.TV - Aroma ayam bakar menyeruak dari kawasan empang di Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Rabu (20/5/2026).

Asap tipis naik dari bara api. Di atasnya, ayam utuh yang sudah dimarinasi perlahan berubah warna menjadi cokelat kehitaman. Setelah matang, daging panas itu dilumuri bumbu rujak. Rasanya manis, pedas, dan gurih.

Menu itulah yang kini menjadi salah satu daya tarik Wisata Kuliner dan Pemancingan Bulu Cindea. Tempat ini dikelola Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes Bulu Cindea.

Lahan yang dulu hanya berupa empang terbengkalai kini berubah menjadi ruang wisata yang ramai dikunjungi warga.

Pengunjung datang bukan hanya untuk makan. Mereka duduk di area terbuka, menikmati pemandangan tambak, udara sejuk, dan suasana desa yang masih lapang.

Sebagian datang bersama keluarga. Sebagian lainnya membawa anak-anak untuk bersantai dan berfoto. Bagi yang ingin memancing, pengelola menyediakan alat pancing dan umpan.



WISATA MANCING - Destinasi wisata Kuliner dan pemancingan Bulu Cindea yang dikelola Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes Bulu Cindea. Lahan yang dulu hanya berupa empang terbengkalai kini berubah menjadi ruang wisata yang ramai dikunjungi warga. (Muh Nur Alim/Unhas TV)


Namun ukuran ikan di empang itu belum besar. Benih ikan baru ditebar beberapa hari lalu. Pengelola tetap membuka area pemancingan sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Sambil menunggu kail bergerak, pengunjung bisa memesan ayam bakar bumbu rujak, nasi putih, tempe goreng, dan lalapan.

Tingkatkan Pendapatan Asli Desa

Kepala Desa Bulu Cindea, Made Ali, mengatakan pengembangan kawasan ini berangkat dari keinginan meningkatkan pendapatan asli desa.

Pemerintah desa bersama BUMDes memilih memanfaatkan lahan tidur dan potensi lokal yang selama ini belum tergarap.

“Kami mengupayakan bagaimana meningkatkan PAD desa dengan memanfaatkan kearifan lokal dan lahan-lahan tidur menjadi tempat wisata dan kuliner,” kata Made Ali.

Menurut dia, jumlah pengunjung melonjak pada akhir pekan. Dalam satu hari, kawasan ini bisa didatangi sekitar tiga ribu orang.

Omzetnya mencapai Rp 8 juta hingga Rp 9 juta per hari. Pada hari biasa, penjualan berkisar Rp 5 juta sampai Rp 7 juta.



MENU MAKANAN - Salah satu menu ayam bakar menjadi pilihan wisata Kuliner dan pemancingan Bulu Cindea yang dikelola Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes Bulu Cindea, Rabu (20/5/2026). (Muh Nur Alim/Unhas TV)


Indah, pengunjung dari Kota Pangkajene, mengaku baru pertama kali datang ke tempat itu. Ia menilai suasana wisata Bulu Cindea cocok untuk keluarga.

“Makanannya enak. Tempatnya nyaman karena konsepnya terbuka, pemandangannya bagus, dan cocok untuk bersantai maupun berfoto,” ujar Indah.

BUMDes Bulu Cindea berharap kawasan ini tidak berhenti sebagai tempat makan dan pemancingan. Pengelolaan wisata diharapkan membuka lapangan kerja lokal, menggerakkan usaha warga, dan membuat ekonomi desa tumbuh dari aset yang sebelumnya dibiarkan kosong.

Dari empang terbengkalai, Bulu Cindea kini belajar mengubah lahan tidur menjadi sumber hidup baru. (*)

(Muh Nur Alim / Unhas TV)