MAKASSAR, UNHAS.TV - Menjelang waktu berbuka puasa, aroma manis gula merah dan santan kelapa menguar di Jalan Perintis Kemerdekaan VII, Makassar, Selasa (10/3/2026).
Di tengah riuh kendaraan dan langkah-langkah warga yang bersiap menunaikan buka puasa, lapak es cendol dawet milik Haji Rusdin menjadi titik perhatian. Minuman tradisional ini ramai diburu, menjadi pelepas dahaga yang sederhana tapi memikat.
Sejak tiga tahun terakhir, Haji Rusdin setia membuka lapaknya hanya pada bulan Ramadan. Di luar bulan puasa, ia bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Ia menyulap aktivitas sehari-hari menjadi penghidupan tambahan saat Ramadan tiba.
“Bahan cendol dawet ini terbuat dari tepung tapioka, santan kelapa, gula merah, susu, dan es batu. Itulah yang membuatnya segar dan manis,” ujarnya sambil menyiapkan gelas demi gelas minuman yang akan disantap warga setelah berpuasa seharian.
Lapak sederhana itu, dengan tenda berwarna hijau dan plastik pembungkus gelas, menjadi pusat perhatian pelajar, mahasiswa, dan warga sekitar.
Harga yang sangat terjangkau, lima ribu rupiah per gelas, membuat es cendol dawet ini tak hanya dinikmati untuk kesegaran, tetapi juga sebagai teman berbuka yang ramah di kantong.
Laku Terjual 150 Gelas
“Kebanyakan pembeli adalah remaja berumur 17–18 tahun. Kadang kalau cuaca mendukung, saya bisa menjual sampai 150 gelas hanya dalam dua jam sebelum adzan Maghrib,” kata Rusdin.
Proses penyajian pun masih tradisional, dengan cendol yang baru digiling dari tepung tapioka dan santan yang disiapkan segar setiap hari.
Es batu menambah kesegaran, sementara gula merah yang dicairkan memberikan aroma manis alami. Paduan itu menghasilkan rasa yang seimbang: manis, gurih, dan menyegarkan, cocok untuk mengembalikan tenaga setelah menahan lapar dan haus seharian.
Ramadhan di Makassar bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal tradisi kuliner yang melekat di masyarakat. Minuman seperti es cendol dawet menjadi saksi bisu perjalanan budaya yang tetap hidup meski zaman terus berubah.

CENDOL - Haji Rusdin penjual es Cendol Dawet di sekitaran kampus Unhas. (unhas tv/venny septiani)
Kehadiran pedagang seperti H. Rusdin menjembatani nostalgia masa lalu dan kebutuhan modern, menghadirkan pengalaman berbuka yang sederhana namun kaya kenangan.
Di tengah kesibukan warga dan hiruk-pikuk kota, lapak es cendol dawet memberikan momen singkat untuk menikmati ketenangan dan kesegaran.
Setiap gelas yang dihidangkan bukan hanya soal rasa, tetapi juga interaksi sosial: tersenyum kepada pembeli tetap, menyapa anak-anak remaja yang datang berkelompok, dan melihat antusiasme mereka menunggu giliran.
“Kadang tergantung cuaca, kalau hujan mungkin sedikit berkurang, tapi Alhamdulillah, tetap ramai,” tambah Rusdin.
Kesederhanaan dan ketekunan H. Rusdin menunjukkan bahwa minuman tradisional tidak hanya soal resep, tetapi juga tentang dedikasi dan konsistensi dalam mempertahankan warisan budaya kuliner.
Es cendol dawet H. Rusdin, dengan kesegaran dan harga yang ramah di kantong, tetap menjadi pilihan favorit masyarakat jelang berbuka puasa.
Tradisi ini menunjukkan bahwa di tengah modernisasi dan minuman kekinian, cita rasa klasik tak lekang oleh waktu dan tetap mampu menyatukan rasa, kenangan, dan kebersamaan di bulan yang suci.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
CENDOL - Ilustrasi Es Cendol Dawet, menu minuman tradisional yang masih jadi incaran saat buka puasa. (freepick)



-300x240.webp)

, Dokter Anak Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial (1)-300x173.webp)


