MAKASSAR, UNHAS.TV - Menu favorit kerap menjadi andalan saat berbuka puasa dan sahur. Praktis, familiar, dan dianggap aman di lidah.
Namun, tidak sedikit orang justru merasa makanan yang dulu dinantikan itu berubah terasa biasa saja, bahkan membosankan. Fenomena ini ternyata berkaitan dengan cara kerja otak dalam merespons pengulangan.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa sekaligus Konsultan Psikiatri Biologi dan Psikofarmakologi, dr. Andi Suheyra Syauki, M.Kes., Sp.K.J., Subsp.B.P.(K), menjelaskan bahwa rasa bosan merupakan respons yang wajar.
Menurut dia, otak manusia membutuhkan variasi untuk tetap terstimulasi. Ketika menerima rangsangan yang sama secara berulang, tingkat ketertarikan akan menurun.
“Sebenarnya rasa bosan itu hal yang lumrah. Misalnya kita punya album baru, setiap hari kita dengarkan selama seminggu mungkin masih terasa menyenangkan. Tapi kalau harus mendengarkan album yang sama seumur hidup, pasti muncul rasa bosan,” ujarnya.
Saat ditemui di International Building Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Jumat (6/12/2025) lalu, dokter Suheyra menambahkan, otak cenderung mengenali pola.
Ketika menu yang sama disajikan setiap hari selama Ramadan, otak sudah “memprediksi” rasa dan pengalaman yang akan diterima. Akibatnya, sensasi menyenangkan yang dulu muncul perlahan berkurang.
“Otak sudah diset untuk itu saja. Ketika tidak ada variasi, responsnya jadi datar karena sudah terbiasa,” kata dokter Suheyra.
Fenomena ini tidak hanya soal rasa di lidah, melainkan juga proses psikologis. Ekspektasi tinggi terhadap makanan favorit yang terus dikonsumsi berulang dapat menurun seiring waktu.
Makanan yang semula terasa istimewa berubah menjadi biasa karena kejutan atau unsur kebaruannya hilang. Selama Ramadan, masyarakat cenderung memilih menu praktis dan mudah disiapkan.
, psikiater dari FK Unhas 1.webp)
Rutinitas ibadah dan aktivitas harian yang padat membuat sebagian orang enggan bereksperimen dengan hidangan baru. Pilihan yang aman dan familiar akhirnya menjadi solusi, meski berisiko menimbulkan kejenuhan.
Andi Suheyra menjelaskan, kebosanan terhadap makanan merupakan bentuk adaptasi otak terhadap stimulus yang sama. Secara biologis, otak manusia dirancang untuk merespons hal-hal baru sebagai sesuatu yang menarik. Ketika tidak ada variasi, rangsangan menjadi kurang bermakna.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa variasi tidak selalu berarti mengganti menu secara total. Perubahan kecil dapat memberikan efek berbeda.
Misalnya, mengubah cara memasak, menambahkan kombinasi lauk, atau memodifikasi penyajian. Sentuhan sederhana ini dapat memunculkan pengalaman baru tanpa harus meninggalkan makanan favorit.
“Yang penting ada variasi. Tidak harus drastis, tetapi cukup untuk memberi otak pengalaman yang berbeda,” ujarnya.
Memahami bahwa kebosanan adalah respons alami diharapkan membuat masyarakat lebih fleksibel dalam merencanakan menu berbuka dan sahur.
Dengan sedikit kreativitas, selera makan dapat tetap terjaga sepanjang bulan Ramadan tanpa harus merasa terpaksa mengonsumsi makanan yang sama setiap hari.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pengalaman makan bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal persepsi dan stimulasi mental. Variasi sederhana dapat menjadi kunci agar momen berbuka dan sahur tetap dinantikan, bukan sekadar rutinitas.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
dr Andi Suheyra Syauki MKes SpKJ Subsp-BP(K), psikiater dari Fakultas Kedokteran Unhas. (dok unhas tv)







 GEH-300x164.webp)
