Internasional
Sport

Eskalasi Militer di Timur Tengah Menggila, Partisipasi Iran di Piala Dunia 2026 Terancam

Timnas sepakbola Iran terancam tidak bisa tampil di Piala Dunia 2026 yang bakal digelar di AS, Meksiko, dan Kanada. (the sun)

TEHERAN, UNHAS.TV - Partisipasi Iran di Piala Dunia 2026 terancam. Pemerintah Teheran memberi sinyal kemungkinan mundur setelah serangan udara Amerika Serikat yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Serangan itu memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Kekerasan bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat tajam pada Jumat (27/2/2026) dan Sabtu (28/2/2026) lalu.

Serangan udara dilaporkan menghantam sejumlah kota besar Iran, termasuk Teheran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menghantam Iran dengan “kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya” dalam operasi militer bersama Israel.

Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke sejumlah target di negara tetangga, termasuk Arab Saudi dan Qatar.

Ketegangan meluas ketika jet tempur Inggris diterbangkan untuk melindungi wilayah sekutu dari serangan drone dan rudal Iran. Setidaknya lima negara yang dipastikan tampil di putaran final Piala Dunia kini terseret dalam pusaran konflik.

Krisis ini terjadi hanya tiga bulan sebelum Piala Dunia 2026 bakal digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Iran telah memastikan tiket ke turnamen tersebut dan tergabung dalam satu grup bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir.

Laga pertama Iran dijadwalkan berlangsung pada 16 Juni, dengan pertandingan dimainkan di Los Angeles dan Seattle.

Namun, Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, meragukan kelanjutan partisipasi negaranya. Kepada media Spanyol Marca, ia menyatakan situasi politik dan keamanan saat ini membuat keikutsertaan Iran sulit dipastikan.

“Dengan apa yang terjadi hari ini dan serangan Amerika Serikat tersebut, kecil kemungkinan kami bisa memandang turnamen itu dengan optimistis,” ujar Taj. Ia menambahkan bahwa keputusan akhir berada di tangan otoritas olahraga nasional.

Jika tetap tampil, Iran berpotensi menghadapi tim nasional Amerika Serikat di babak 32 besar, tergantung hasil fase grup. Pertandingan itu dijadwalkan berlangsung di Dallas pada 3 Juli. Namun di tengah memanasnya hubungan diplomatik, laga tersebut kini dibayangi ketidakpastian.

Hingga kini, FIFA belum mengambil keputusan apa pun. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, menyatakan pihaknya masih memantau perkembangan.

“Kami membaca berita yang sama pagi ini. Kami telah mengadakan pertemuan, tetapi masih terlalu dini untuk memberikan komentar terperinci,” katanya.

Ia menegaskan fokus FIFA adalah memastikan turnamen berlangsung aman dengan partisipasi seluruh tim yang lolos kualifikasi.

Grafström menambahkan komunikasi akan terus dilakukan dengan tiga pemerintah tuan rumah—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—guna menjamin keamanan penyelenggaraan.

Belum pernah ada tim yang didiskualifikasi setelah memastikan kelolosan ke putaran final Piala Dunia. Namun persoalan visa menjadi tantangan tersendiri.

Republik Islam Iran tercatat dalam daftar pembatasan tertentu di Amerika Serikat, sehingga suporter dan sebagian ofisial berpotensi menghadapi hambatan masuk.

Ketegangan regional sendiri telah berlangsung berbulan-bulan. Pemerintahan Khamenei sebelumnya menghadapi gelombang protes dalam negeri yang ditangani dengan tindakan keras. Trump bahkan menyebut Khamenei sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah.”

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengonfirmasi bahwa pesawat RAF dikerahkan untuk mencegat drone yang mengancam wilayah sekutu.

Ia menegaskan Inggris tidak terlibat langsung dalam serangan terhadap Iran, tetapi mengecam keras balasan militer Teheran dan mendesak solusi diplomatik.

Di tengah krisis geopolitik yang memburuk, Piala Dunia 2026 kini berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Turnamen sepak bola terbesar sejagat itu berpotensi terdampak konflik berskala regional yang terus meluas. (*)