
DUA GOL - Gelandang Arsenal Eberechi Eze dua kali membobol gawang Tottenham dalam laga derby yang berakhir 4-1 di Tottenham Hotspur Stadium, Minggu (22/2/2026) malam. (the sun/getty)
Tottenham sebenarnya sempat merasa menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lewat Kolo Muani. Namun gol itu dianulir karena dorongan terhadap Gabriel Magalhaes. Sebuah keputusan yang memicu perdebatan karena bek Arsenal tersebut dinilai bereaksi berlebihan.
Momentum pun kembali menjadi milik Arsenal. Kesalahan lain dari lini belakang Spurs—kali ini sundulan ceroboh Radu Dragusin—membuka ruang kombinasi Eze dan Gyokeres.
Bola sempat mengarah ke Saka yang gagal menuntaskan peluang, tetapi bola muntah jatuh tepat di kaki Eze. Dengan gawang terbuka dan Vicario terlambat kembali ke posisinya, Eze mencetak gol keduanya.
Menjelang akhir laga, Gyokeres melengkapi malam sempurnanya. Menerima umpan terobosan dari Martin Odegaard, ia menuntaskan peluang untuk menjadikan skor 4-1 sekaligus membawa koleksi golnya di Liga Primer menembus dua digit musim ini.
Bagi Eze, penampilan ini terasa sangat personal. Sejak didatangkan dalam belanja besar Arsenal senilai total 250 juta poundsterling—sekitar Rp5 triliun—ia berada di bawah sorotan tajam.
Minimnya menit bermain bahkan disebut memengaruhi peluangnya masuk skuad Piala Dunia Inggris. Apalagi, Arteta kerap meragukan kontribusi defensifnya.
Fakta bahwa Eze baru mencatatkan start ke-13 di Liga Primer musim ini menunjukkan betapa tipisnya kepercayaan yang ia dapatkan.
Namun setiap kali menghadapi Tottenham --klub yang hampir merekrutnya pada Agustus lalu, ia seperti menemukan panggungnya sendiri.
Di sisi lain, Tottenham terus terperosok dalam periode sulit. Cedera yang menimpa banyak pemain inti memang menjadi alasan, tetapi kesalahan-kesalahan mendasar di lini belakang membuat mereka berulang kali dihukum.
Bahkan, dalam wawancara paruh waktu di lapangan, nama Dele Alli—yang hadir sebagai tamu—sempat disebut-sebut sebagai sosok yang dirindukan dalam performa terbaiknya.
Arsenal sendiri belum sepenuhnya stabil. Mereka hanya memenangi dua dari tujuh laga terakhir sebelum derbi ini.
Raya bahkan sempat melakukan blunder saat menghadapi Wolves tengah pekan lalu. Namun kemenangan atas Tottenham memberi mereka ruang bernapas sebelum menghadapi Chelsea dalam laga berikutnya.
Persaingan gelar pun kembali memanas. Momentum saat ini memang tampak berpihak kepada Manchester City. Namun kunjungan Arsenal ke Etihad pada April mendatang berpotensi menjadi penentu arah perburuan trofi.
Untuk sementara, Arsenal boleh menikmati supremasi atas London Utara. Di tengah tekanan, kritik, dan keraguan, mereka menemukan jawabannya dalam laga yang paling berarti. Eze dan Gyokeres—dua pemain yang sempat diragukan—justru menjadi simbol kebangkitan itu. (*)




-300x166.webp)



