Mahasiswa
Sulsel

Gas Elpiji 3 Kg Langka, Pengeluaran Harian Mahasiswa Kos Ikut Membengkak

LPG LANGKA - Mahasiswa FISIP Muh Nur Aydil Asky dan mahasiswi Peternakan Unhas Nurul Zaskia menanggapi kondisi gas LPG 3 Kg yang langka. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kelangkaan gas elpiji subsidi mulai dirasakan kelompok mahasiswa yang tinggal di kos dan mengandalkan bahan bakar tersebut untuk memasak kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keterbatasan pasokan, mahasiswa harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mencari tabung gas. Harga yang meningkat juga membuat pengeluaran harian ikut bertambah.

Bagi mahasiswa yang memilih memasak sendiri demi menghemat biaya hidup, gas elpiji menjadi kebutuhan penting. Ketika stok sulit ditemukan, pilihan mereka semakin terbatas.

Sebagian terpaksa membeli makanan di luar, sementara sebagian lain menggunakan peralatan alternatif seperti rice cooker dan panci listrik.

Nurul Zaskia, mahasiswa Peternakan Universitas Hasanuddin, merasakan langsung dampak kelangkaan tersebut.

Ia mengaku harus berkeliling mencari gas elpiji karena tidak mudah mendapatkannya di sekitar tempat tinggalnya. Kondisi itu semakin menyulitkan karena ia tidak memiliki kendaraan.

“Mengenai gas LPG ini sangat kesulitan. Terutama sebagai anak kos yang memasak. Sampai-sampai saya harus berkeliling untuk mencari gas LPG ini,” kata Zaskia.

Menurut Zaskia, harga gas elpiji yang sebelumnya berada di kisaran Rp20 ribu kini dapat meningkat menjadi Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Kenaikan tersebut dinilai cukup membebani mahasiswa yang harus mengatur pengeluaran secara ketat.

Sebagai mahasiswa yang tinggal di kos, Zaskia mengatakan kebutuhan makan menjadi lebih mahal ketika tidak mendapatkan gas. Ia harus membeli makanan dari luar karena tidak dapat memasak seperti biasanya.

“Pengeluaran meningkat karena saya tidak bisa memasak akibat kelangkaan gas LPG ini. Hal itu mengharuskan saya membeli makanan di luar dan membuat saya lumayan boros,” ujarnya.

Untuk mengurangi pengeluaran, Zaskia mulai mencari alternatif memasak. Ia menggunakan rice cooker untuk memasak makanan sederhana dan membeli panci listrik sebagai pilihan tambahan ketika gas sulit diperoleh.

Kelangkaan gas elpiji juga dirasakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Muh. Nur Aydil Asky. Ia mengatakan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan gas kini jauh lebih lama dibandingkan sebelumnya.

Jika sebelumnya mencari gas hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, kini ia harus menghabiskan waktu hingga satu atau dua jam. Bahkan, lokasi pencarian gas terkadang semakin jauh dari tempat tinggalnya.

“Kalau akhir-akhir ini saya mencari gas, lumayan jauh. Kadang kalau siang tidak dapat gas, kita mencari lagi ke tempat lain,” kata Aydil.

Menurut Aydil, kenaikan harga juga menjadi persoalan yang dirasakan mahasiswa. Harga gas yang sebelumnya sekitar Rp18.500 kini dapat mencapai Rp24 ribu hingga Rp27.500.

Ia menduga terdapat pihak tertentu yang membeli gas dalam jumlah besar sehingga memengaruhi ketersediaan di masyarakat. Kondisi tersebut, menurut dia, membuat warga harus bersaing mendapatkan tabung gas untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kalau ada oknum yang sengaja menaikkan harga gas untuk mendapatkan keuntungan, itu sangat mengganggu aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Ketika gas tidak tersedia, Aydil bersama mahasiswa kos lainnya memilih menggunakan rice cooker untuk memasak makanan sederhana. Namun, alternatif tersebut tidak selalu dapat menggantikan fungsi kompor, terutama untuk memasak lauk yang membutuhkan proses pengolahan lebih panjang.

Kelangkaan gas elpiji tidak hanya berdampak pada mahasiswa, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada energi tersebut.

Mahasiswa berharap pemerintah dapat memastikan distribusi gas berjalan normal serta memperketat pengawasan agar tidak terjadi penumpukan maupun penyalahgunaan distribusi.

Zaskia berharap pasokan gas dapat segera diperbanyak agar mahasiswa tidak lagi mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan memasak.

“Untuk teman-teman yang sedang kesulitan dengan kelangkaan gas LPG ini, semangat. Dan untuk pemerintah, tolong diperbanyak gas LPG-nya,” katanya.

Sementara Aydil berharap tindakan terhadap pihak yang melakukan penimbunan dapat dilakukan agar masyarakat dan pelaku usaha dapat kembali menjalankan aktivitas tanpa hambatan.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)