Budaya

Kuliah Tamu FIB Unhas, Bedah Buku Makassar Mendunia dan Jejak Pelabuhan Rempah

MAKASSAR, UNHAS.TV - Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas), menggelar kuliah tamu bertajuk sejarah maritim dengan menghadirkan akademisi dari UIN Lampung, Dr Abdul Rahman Hamid MSi, Jumat (22/8/2025).

Acara yang berlangsung di kampus Unhas itu menyoroti isi buku terbaru Abdul Rahman berjudul Makassar Mendunia, yang mengulas kiprah Makassar sebagai entrepot rempah pada abad ke-16 hingga ke-17.

Dalam paparannya, Abd. Rahman menjelaskan bahwa Makassar berkembang sebagai kota pelabuhan yang terbuka bagi berbagai suku, bangsa, dan agama.

Keterbukaan ini menjadikan Makassar bukan sekadar simpul perdagangan, tetapi juga pusat pertemuan budaya yang memperkuat posisinya di jalur rempah Nusantara.

“Buku Makassar Mendunia ini ingin menjelaskan proses perkembangan Makassar sebagai kota pelabuhan yang mendunia sejak abad ke-16 hingga memuncak pada abad ke-17,” ujar Abd. Rahman.

Ia menambahkan, kajian tersebut lahir dari kegelisahan intelektual terhadap tagline Makassar Kota Dunia yang kerap digaungkan. “Pertanyaan besarnya adalah pijakan historisnya seperti apa,” katanya.

Diskusi berlangsung hangat. Antusiasme mahasiswa terlihat dari derasnya pertanyaan yang diajukan, mulai dari topik perdagangan global hingga dinamika sosial di kawasan pelabuhan.

Bagi Abd. Rahman, ruang semacam ini penting untuk memperkenalkan hasil kajian terbaru sekaligus memantik minat penelitian lanjutan, terutama bagi mahasiswa yang menekuni bidang sejarah.

“Forum akademis seperti ini diharapkan dapat menginspirasi lahirnya peneliti muda yang kritis terhadap sejarah lokal dan mampu mengaitkannya dengan konteks global,” ujarnya.

Program Studi Sejarah Unhas memandang kuliah tamu ini sebagai bagian dari upaya memperkaya khazanah intelektual mahasiswa. Melalui dialog akademis, mahasiswa tidak hanya diajak memahami masa lalu, tetapi juga membaca relevansinya bagi perkembangan masa kini.

“Sejarah Makassar sebagai kota pelabuhan adalah warisan yang harus terus dikaji. Ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bekal dalam memahami identitas sekaligus posisi strategis Makassar di mata dunia,” ungkap salah satu dosen Prodi Sejarah yang turut hadir.

Buku Makassar Mendunia menjadi pintu masuk bagi diskusi lebih luas tentang peran Makassar dalam jaringan maritim internasional. Bagi kalangan akademisi, kehadiran buku ini memperkuat literatur sejarah maritim Indonesia yang masih membutuhkan banyak kontribusi penelitian.

Kuliah tamu ditutup dengan refleksi bahwa sejarah bukan hanya rekaman peristiwa, melainkan sumber inspirasi.

Prodi Sejarah Unhas menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog akademis yang kritis, kontekstual, dan memberi kontribusi nyata dalam melahirkan generasi peneliti sejarah yang tangguh.

(Andi Putri Najwah / Muhammad Syaiful / Unhas.TV)