Makassar
Sosial

Gentengisasi: Solusi atau Proyek Gimmick? Ardev Talk Bahas Pentingnya Desain Adaptif untuk Masyarakat

GENTENGISASI - Ardev Institute dan didukung oleh IKA Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin, Komunitas Arsitek Warung Kopi dan Forum A20 menggelar diskusi “Gentengisasi” dan Product Sharing Kencana, soroti pentingnya desain sesuai lokalitas di Studio Ardev, Jl Hajjah Saripah, Makassar, Rabu (13/5/2026). (Dok Ardev Institute)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Isu program “gentengisasi” yang belakangan ramai diperbincangkan menjadi topik utama dalam kegiatan Ardev Talk #2 yang digelar oleh Ardev Institute di ARDEV HUB Coffee & Space, Makassar, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan ini dikemas dalam format diskusi publik yang dipadukan dengan Gathering Consultant & Product Sharing bersama Baja Ringan Kencana sebagai sponsor utama.

Event ini menghadirkan akademisi, praktisi perumahan, asosiasi pengembang, hingga pelaku industri konstruksi untuk membahas relevansi penggunaan material atap dan pendekatan pembangunan yang sesuai dengan kondisi daerah di Indonesia.

Diskusi mengangkat tema “Gentengisasi: Solusi Rakyat atau Proyek Gimmick Negara?” dan menghadirkan narasumber yakni Dr Ar St Aisyah Rahman ST MT IAI, Ar Sayyidatul Lutfiah ST MPWK IAI, serta Ketua DPP Perkonindo Sulsel Ir Andi Muhammad Supriadi MSi.

Dalam pemaparannya, Aisyah Rahman, yang merupakan dosen Teknik Arsitektur UIN Alauddin Makassar ini menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan seragam untuk semua wilayah.

“Setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Karena itu desain harus lahir dari pemahaman terhadap lokasi, lokalitas, kemampuan anggaran, kesesuaian desain, dan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan material bangunan, termasuk sistem atap, harus mempertimbangkan konteks lingkungan, budaya, iklim, hingga kemampuan masyarakat setempat.

“Tidak semua daerah cocok menggunakan jenis genteng yang sama. Dibutuhkan inovasi dan penyesuaian agar bangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan kondisi wilayahnya,” katanya.

Aisyah juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam proses perencanaan pembangunan. “Kita harus cermat melihat, teliti bertindak, cerdas dalam mendesain, dan bijak dalam mengambil keputusan. Arsitektur bukan hanya soal membangun, tetapi menghadirkan solusi yang tepat dan relevan,” tuturnya.

Sementara itu, praktisi perumahan dan pengurus Ardev Institute, Sayyidatul Lutfiah, menilai diskusi mengenai material bangunan harus diarahkan pada keberlanjutan dan efisiensi jangka panjang.

“Kadang masyarakat hanya melihat biaya awal, padahal yang paling penting adalah biaya pemeliharaan, keamanan struktur, dan ketahanan bangunan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Ia menyebut pemilihan material yang tepat dapat membantu masyarakat mengurangi risiko kerusakan bangunan akibat cuaca ekstrem maupun kualitas konstruksi yang rendah.

Di sisi lain, Ketua DPP Perkonindo Sulsel, Supriadi, mengingatkan agar kebijakan pembangunan nasional tetap memberi ruang bagi fleksibilitas daerah dan inovasi lokal.

“Indonesia sangat beragam. Pendekatan pembangunan perumahan harus memberi ruang terhadap kondisi geografis, ekonomi masyarakat, dan kemampuan industri lokal,” katanya.

Selain diskusi publik, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan sesi Product Sharing dari Baja Ringan Kencana yang memperkenalkan teknologi dan standar material baja ringan untuk konstruksi bangunan modern.

Perwakilan Kencana menjelaskan bahwa konsistensi kualitas material menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan struktur bangunan.

“Ketebalan material yang presisi dan sesuai standar membuat struktur lebih stabil, mengurangi risiko deformasi, serta memberikan keamanan jangka panjang bagi bangunan,” jelas perwakilan Kencana dalam sesi presentasi produk.

Menurut pihak Kencana, penggunaan material konstruksi yang tepat tidak hanya berkaitan dengan kekuatan bangunan, tetapi juga efisiensi pemasangan dan keberlanjutan biaya konstruksi.

Kegiatan yang dipandu moderator Ar Ir Haryanto Bakri ST MT IAI IPP ini turut dihadiri kalangan arsitek, kontraktor, konsultan, mahasiswa, dan pelaku industri konstruksi di Makassar.

Melalui forum ini, Ardev Institute berharap ruang diskusi antara akademisi, industri, dan masyarakat dapat terus diperkuat untuk melahirkan pendekatan pembangunan yang lebih kontekstual, adaptif, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat lokal. (*)