Ekonomi
Pendidikan

ICM Unhas Didorong Jadi Hub Nasional Percepat Hilirisasi Mineral Kritis Indonesia



Direktur Eksekutif Global Research Institute Unhas Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil. (Dok Unhas TV)


Selain melibatkan pemerintah dan industri nasional, simposium ini juga menghadirkan Queensland University Australia sebagai mitra internasional.

Perguruan tinggi tersebut dikenal memiliki pengalaman dalam penelitian dan pengembangan logam tanah jarang (rare earth elements), salah satu bagian penting dalam rantai mineral kritis.

Kolaborasi internasional tersebut dinilai penting karena pengembangan teknologi mineral kritis membutuhkan proses panjang, mulai dari penelitian, pengembangan teknologi pengolahan, hingga kesiapan sumber daya manusia.

Direktur Eksekutif Global Research Institute, Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil, mengatakan kerja sama lintas negara menjadi strategi penting agar Indonesia dapat mempercepat penguasaan teknologi tanpa harus mengulang seluruh tahapan pengembangan dari awal.

Menurut Adi, sejumlah negara membutuhkan waktu puluhan tahun untuk membangun kemampuan teknologi mineral kritis. China, misalnya, telah mengembangkan sektor tersebut sejak dekade 1980-an sehingga memiliki keunggulan dalam penguasaan teknologi dan rantai pasok global.

“Kalau kita bergerak sendiri, mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menguasainya. Karena itu strategi yang dilakukan adalah bekerja sama dengan berbagai pihak agar prosesnya lebih cepat,” ujar Adi.

Ia menjelaskan, Queensland University Australia memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan logam tanah jarang bersama berbagai perusahaan, konsultan, dan lembaga internasional.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu Indonesia mempercepat pengembangan teknologi mineral kritis.

“Ini bukan hanya persoalan teknologi, tetapi membutuhkan waktu. Dengan kolaborasi ini kita bisa mempercepat proses penguasaan teknologi,” kata Adi.

Menurutnya, pemerintah juga memiliki target percepatan pengembangan sektor mineral kritis agar kegiatan eksplorasi dapat segera berjalan dan memberikan dampak ekonomi bagi Indonesia.

Melalui penguatan ICM Unhas, Adi berharap universitas tersebut dapat berkembang menjadi pusat kolaborasi nasional yang mempertemukan kebutuhan industri, kebijakan pemerintah, dan inovasi akademik.

Pengembangan mineral kritis menjadi bagian dari strategi besar Indonesia dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

Dengan dukungan riset, teknologi, dan kerja sama lintas sektor, hilirisasi diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri global sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.

(Zulkarnaen Jumar Taufik / Husnul Hatimah / Unhas TV)