MAKASSAR, UNHAS.TV - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar, Melinda Aksa, menyiapkan program pelatihan tenun selama satu tahun untuk memperkuat pembinaan pengrajin dan melahirkan penenun dengan motif khas Makassar.
Program tersebut, ungkap Melinda, akan menggandeng Cita Tenun Indonesia dan menyasar 20 calon penenun dari Kota Makassar.
Melinda mengatakan program itu menjadi salah satu langkah Dekranasda Makassar dalam menggali potensi kerajinan yang selama ini belum berkembang secara optimal. Menurut dia, Makassar memiliki kekayaan budaya dan ragam motif lokal, tetapi belum didukung oleh jumlah penenun yang memadai.
“Kami sedang mencari 20 penenun di Kota Makassar yang akan diberikan pelatihan selama satu tahun,” kata Melinda seusai penutupan Hari Ulang Tahun Dewan Kerajinan Nasional atau Dekranas ke-46 di Atrium Trans Studio Makassar, Minggu (12/7/2026).
Pelatihan tersebut, kata dia, akan dilaksanakan bekerja sama dengan Cita Tenun Indonesia atau CTI. Organisasi itu akan mendampingi peserta mulai dari peningkatan keterampilan menenun, pengembangan motif, hingga penciptaan produk yang memiliki identitas khas Makassar dan Sulawesi Selatan.
Melinda berharap pendampingan selama setahun dapat menghasilkan penenun lokal yang mandiri. Selama ini, sentra penenun di Sulawesi Selatan lebih banyak berada di Kabupaten Wajo dan Bulukumba.
Kota Makassar, menurut dia, belum memiliki penenun yang secara khusus mengembangkan motif lokal sebagai identitas produk.
Dekranasda Makassar telah menemukan sekitar 10 calon peserta. Pemerintah kota masih mencari sepuluh orang lainnya sebelum pelatihan dimulai pada Agustus atau September 2026.
Melinda mengatakan persyaratan peserta tidak dibuat terlalu rumit. Calon peserta cukup memiliki pengalaman dasar menenun dan bersedia mengikuti proses pembinaan secara berkelanjutan.
“Kami mencari orang yang mempunyai pengalaman menenun. Sekarang sudah ditemukan sekitar sepuluh orang, jadi masih terus dicari,” ujarnya.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Makassar memperkuat ekosistem kerajinan daerah. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan produksi, tetapi juga pada pengembangan motif, kualitas produk, kontinuitas usaha, dan akses pemasaran.
Penghargaan Wastra dan Kriya Dekranas
Komitmen pembinaan pengrajin itu mengantarkan Pemerintah Kota Makassar menerima penghargaan kategori Wastra dan Kriya pada penutupan HUT Dekranas ke-46.
Penghargaan diberikan atas kontribusi pemerintah daerah dalam mengembangkan produk lokal, membina pengrajin, dan memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis budaya.
Penghargaan diserahkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama Ketua Harian Dekranas Tri Suswati Karnavian. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga menerima penghargaan dalam kategori yang sama.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan pemerintah akan memperluas penggunaan motif lokal, termasuk Batik Lontara.
Pemerintah kota juga akan memperbaiki akses pemasaran dan menambah jumlah pembatik agar produk wastra Makassar lebih mudah diperoleh masyarakat.
Penutupan HUT Dekranas ke-46 ditandai dengan penabuhan alat musik Jalaka. Kegiatan nasional yang berlangsung pada 9–12 Juli 2026 itu diperkirakan mencatat transaksi UMKM sekitar Rp5 miliar di Hotel Claro dan Trans Studio Makassar.
Bagi Melinda, penghargaan tersebut bukan akhir dari program pembinaan. Penguatan keterampilan pengrajin dan kelahiran penenun lokal justru menjadi pekerjaan berikutnya agar wastra Makassar tidak hanya tampil dalam pameran, tetapi juga tumbuh sebagai industri kerajinan yang berkelanjutan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
PENGHARGAAN - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar, Melinda Aksa menerima penghargaan saat penutupan Hari Ulang Tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ke-46 di Atrium Trans Studio Makassar, Minggu (12/7/2026). (Unhas TV / Venny Septiani)








