Sosial
Sulsel

Imam Masjid Tunanetra Asal Sinjai Berangkat Haji Setelah Menabung 20 Tahun

NAIK HAJI - Saifuddin Abdul Muin Saideng, jamaah calon haji asal Sinjai, naik haji setelah nabung 20 tahun. (Unhas TV/Wandi Nojeng)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Keterbatasan penglihatan tak menghalangi niat Saifuddin Abdul Muin Saideng, jamaah calon haji asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci.

Setelah menabung lebih dari dua puluh tahun, imam masjid tunanetra itu akhirnya berangkat bersama kelompok terbang atau kloter 17 Embarkasi Makassar.

Saifuddin menjadi salah satu jamaah yang menarik perhatian saat berada di Asrama Haji Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, pada Senin (4/5/2026).

Dengan kondisi penglihatan yang terbatas, Saifuddin tetap menunjukkan semangat untuk menjalankan rukun Islam kelima.

Ia tergabung dalam kloter 17 Embarkasi Makassar bersama 392 jamaah lainnya. Selama berada di Tanah Suci, Saifuddin akan didampingi saudara dan kerabat dekat. Pendampingan itu menjadi bagian penting karena ia membutuhkan bantuan dalam menjalani rangkaian ibadah haji.

Saifuddin mendaftar haji sejak 2014. Penantian panjang itu akhirnya terbayar tahun ini. Untuk mewujudkan niatnya, ia menyisihkan penghasilan dari berjualan bahan campuran. Honor sebagai imam masjid, yang jumlahnya terbatas, juga ia tabung sedikit demi sedikit.

Menurut Saifuddin, ia mulai kehilangan penglihatan sejak remaja. Awalnya, matanya mengalami sakit dan pembengkakan. Ia sempat menjalani pengobatan ke dokter mata, namun penglihatannya perlahan menurun hingga akhirnya tidak dapat melihat.

Meski demikian, aktivitasnya sebagai imam masjid tetap ia jalani. Setiap menjelang subuh, ia berangkat ke masjid yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya. Jalan menuju masjid sudah ia hafal karena pernah melihat sebelum penglihatannya hilang.

“Pekerjaan saya sebagai imam masjid. Kalau sudah jam tiga subuh, saya mulai ke masjid. Saya pernah melihat, jadi saya hafal jalan menuju masjid, meski agak susah,” kata Saifuddin di Asrama Haji Sudiang.

Ia mengaku sangat bersyukur akhirnya dapat menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya. “Perasaan saya naik haji, alhamdulillah. Saya berangkat sama saudara dan sepupu,” ujarnya.

Di balik keberangkatan itu, Saifuddin menyimpan harapan besar. Saat berada di Tanah Suci, ia berdoa agar diberi kesehatan dan berharap penglihatannya dapat kembali pulih. Sebelum berangkat, ia juga mendapat bimbingan khusus, termasuk persiapan kebutuhan kesehatan dan obat-obatan.

Kisah Saifuddin menjadi gambaran bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menghentikan niat seseorang untuk beribadah. Dengan ketekunan dan kesabaran panjang, ia akhirnya mewujudkan impian menuju Tanah Suci.

(Wandi Nojeng / Unhas TV)