News

Ini Pentingnya Vaksinasi Cacar Air pada Anak, Penjelasan Dokter Klinik FK Unhas

CACAR. Ilustrasi penderita cacar air. Ini Penjelasan dokter klinik FK Unhas tentang pentingnya vaksinasi cacar. (freepik)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Cacar air masih kerap dianggap sebagai penyakit ringan yang wajar dialami anak-anak.

Padahal, penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster ini memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dan berpotensi mengganggu aktivitas serta kenyamanan anak jika tidak ditangani dengan tepat.

Karena itu, dokter menegaskan pentingnya vaksinasi sebagai langkah pencegahan paling efektif terhadap penyakit tersebut.

Dokter Umum Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, dr Fadhil Kurniawan, mengatakan bahwa orang tua perlu lebih waspada terhadap gejala awal cacar air.

Menurut dia, tanda-tanda awal penyakit ini sering kali disalahartikan sebagai flu biasa, sehingga penanganan kerap terlambat.

“Pada fase awal, gejala cacar air mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” kata dr Fadhil.

Gejala tersebut umumnya muncul satu hingga dua hari sebelum ruam khas cacar air terlihat di kulit.



Dokter Umum Klinik FK Unhas dr Fadhil Kurniawan. (dok unhas tv)


Setelah dua hingga tiga hari, lanjut dr Fadhil, akan muncul bintil-bintil kecil berisi cairan bening yang menyebar ke seluruh tubuh dan disertai rasa gatal yang cukup mengganggu.

Ruam ini dapat muncul di wajah, badan, hingga anggota gerak, bahkan pada beberapa kasus juga ditemukan di area mulut dan kulit kepala. Selain itu, anak biasanya tampak lemas dan kurang bersemangat beraktivitas.

Dr Fadhil menjelaskan bahwa cacar air termasuk penyakit yang bersifat self limiting, yakni dapat sembuh dengan sendirinya seiring meningkatnya kekebalan tubuh pasien.

Meski demikian, penanganan medis tetap diperlukan untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh yang rendah.

“Terapi yang diberikan umumnya bersifat simptomatik, yaitu bertujuan untuk mengurangi keluhan yang dirasakan pasien, seperti demam dan rasa gatal, bukan untuk langsung menyembuhkan penyakit dasarnya,” ujar dia.

Penanganan tersebut dapat berupa pemberian obat penurun demam, obat topikal untuk mengurangi rasa gatal, serta menjaga kebersihan kulit agar tidak terjadi infeksi sekunder akibat garukan.

Pada kasus tertentu yang tergolong berat, dokter dapat memberikan obat antivirus sesuai indikasi dan resep medis. Pemberian antivirus biasanya dipertimbangkan pada pasien dengan risiko komplikasi lebih tinggi atau bila gejala berlangsung cukup berat.

Terkait pencegahan, dr Fadhil menegaskan bahwa vaksinasi cacar air merupakan langkah paling efektif untuk melindungi anak dari infeksi.

Vaksinasi ini dianjurkan mulai usia 12 bulan dengan dua dosis sesuai jadwal yang direkomendasikan. “Vaksinasi tidak hanya menurunkan risiko tertular, tetapi juga mengurangi tingkat keparahan penyakit bila anak tetap terinfeksi,” kata dr Fadhil.

Selain vaksinasi, orang tua juga diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh anak dengan memberikan asupan gizi seimbang, multivitamin bila diperlukan, serta memastikan anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Lingkungan yang bersih dan kebiasaan hidup sehat juga berperan penting dalam mencegah penularan penyakit menular seperti cacar air.

Dokter Fadhil juga meluruskan anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa cacar air hanya bisa terjadi satu kali seumur hidup.

Menurut dia, virus varicella zoster dapat mengalami perubahan sehingga memungkinkan terjadinya infeksi ulang, meski kasusnya relatif jarang.

Oleh karena itu, kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap perlu dilakukan, meskipun anak pernah mengalami cacar air sebelumnya.

Dengan meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya vaksinasi dan deteksi dini gejala, diharapkan risiko penularan dan dampak cacar air pada anak dapat ditekan secara signifikan. (*)