MAKASSAR, UNHAS.TV - Pada gelombang serangan balasan terbaru, Iran yang menggunakan rudal balistik, berhasil menghantam Pangkalan Udara Al Udeid, suatu pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah.
Serangan ini terjadi pada Selasa (4 Maret 2026) pagi waktu setempat, sebagai tanggapan terhadap serangan gabungan AS-Israel yang terus menghantam wilayah Iran sejak akhir Februari.
Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi bahwa dua rudal balistik diluncurkan dari Iran menuju wilayahnya. Sistem pertahanan udara Qatar berhasil mencegat satu rudal, sementara rudal kedua berhasil menembus dan mengenai target di Al Udeid Air Base tanpa menimbulkan korban jiwa.
Namun, citra satelit terbaru dari Planet Labs dan analisis independen menunjukkan kerusakan nyata pada radar peringatan dini AN/FPS-132 milik AS yang berlokasi di pangkalan tersebut.
Radar phased array AN/FPS-132 yang bernilai sekitar $1,1 miliar (setara Rp 18,6 triliun) merupakan salah satu aset paling krusial dalam jaringan pertahanan rudal balistik AS di kawasan Teluk.
Radar ini mampu mendeteksi peluncuran rudal dari jarak hingga 5.000 km dan memberikan data pelacakan awal untuk sistem Patriot, THAAD, serta Aegis.
Kerusakan pada salah satu sisi radar (face array) dikonfirmasi melalui gambar satelit yang menunjukkan bekas terbakar dan struktur yang runtuh sebagian.
Para ahli militer menyebut ini sebagai pukulan strategis bagi kemampuan pengawasan AS di wilayah tersebut, karena radar ini sulit diganti dalam waktu singkat selama konflik berlangsung.
Selama konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, Qatar telah mencegat total 65 rudal balistik dan 12 drone yang ditujukan ke wilayahnya, termasuk serangan ke Al Udeid.
Pangkalan ini biasanya menampung sekitar 10 ribu personel militer AS dan menjadi markas United States Air Forces Central Command (AFCENT). Meski sebagian besar serangan dicegat, beberapa rudal dan drone berhasil mencapai target, termasuk kerusakan pada infrastruktur komunikasi dan radar.
Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim serangan ini sebagai bagian dari "Operasi Balasan yang Kuat" terhadap agresi AS-Israel. Teheran menyatakan bahwa target utama adalah fasilitas militer AS yang mendukung operasi terhadap Iran, termasuk radar peringatan dini yang dianggap sebagai ancaman langsung.Qatar mengecam keras serangan tersebut sebagai "pelanggaran kedaulatan yang mencolok" dan menyatakan siap membalas jika diperlukan sesuai hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Qatar juga menegaskan bahwa negara tersebut tetap netral dan tidak mengizinkan penggunaan pangkalan Al Udeid untuk serangan ofensif terhadap Iran, meskipun basis tersebut tetap menjadi sasaran karena kehadiran aset AS.
Eskalasi ini semakin memperburuk situasi di kawasan Teluk. Harga minyak dunia melonjak tajam akibat kekhawatiran penutupan Selat Hormuz, sementara AS dilaporkan telah mengerahkan bomber B-52 untuk membalas serangan-serangan Iran. Konflik yang disebut beberapa analis sebagai "Perang Iran Kedua" ini terus berlanjut tanpa tanda-tanda de-eskalasi segera.(*)
Pangkalan Al Udeid di Qatar. Foto: Tangkapan layar CNN








