Internasional
Polhum

Iran Tinggalkan Perundingan Damai Setelah Trump Ancam Serangan Lebih Keras



PERUNDINGAN - Wapres JD Vance bertemu dengan PM Pakistan Shehbaz Sharif dan PM sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani di Jenewa Swiss, Minggu (21/6/2026). (Screnshot The Sun)


Trump pada Sabtu juga mengancam akan memberlakukan pungutan yang ia sebut “Guardian Angel” di Selat Hormuz bila kesepakatan permanen tidak tercapai.

Ia menyatakan tidak akan ada pungutan selama masa gencatan 60 hari, tetapi setelah itu Amerika dapat mengenakan biaya atas “jasa” menjaga negara-negara Timur Tengah.

Vance kemudian membantah bahwa selat tersebut benar-benar ditutup, dengan mengatakan jutaan barel minyak masih keluar dari kawasan itu.

Di tengah silang klaim soal Hormuz dan Lebanon, isu nuklir tetap menjadi batu sandungan paling berat. Amerika Serikat menginginkan Iran tidak lagi memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir.

Washington mendesak larangan pengayaan uranium dan pengambilalihan stok uranium Iran. Usul itu sejak lama ditolak Teheran, yang menganggap pengayaan uranium sebagai hak nasional.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan menjelang perundingan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada paksaan, penindasan, atau penghinaan. Ia mengatakan Iran tidak akan menyerahkan hak untuk memperkaya uranium. “Mereka harus menerima itu,” kata Pezeshkian.

Bagi Washington, negosiasi Swiss menjadi ujian besar bagi strategi Trump yang menggabungkan tekanan militer dan diplomasi langsung.

Trump mengeklaim Iran telah “sepenuhnya dikalahkan secara militer” dan menyebut rezim itu sebagai sponsor teror nomor satu dunia. Ia juga menyerang kebijakan pendahulunya, Barack Obama, yang ia tuding terlalu lunak terhadap Teheran.

Namun bagi Iran, ancaman Trump justru memperkuat kecurigaan bahwa Washington ingin memaksa kesepakatan melalui tekanan bersenjata. Sikap keras itu membuat posisi Vance di meja perundingan menjadi sulit.

Di satu sisi, ia membawa pesan diplomasi dan kerja sama. Di sisi lain, presiden yang ia wakili terus menerus mengirim ancaman terbuka dari Washington DC.

Mediator dari Pakistan dan Qatar berupaya menjaga pembicaraan tetap hidup. Negosiator Amerika dan Iran dijadwalkan bertemu melalui mediator sebelum masuk ke pembicaraan langsung.

Tetapi keluarnya delegasi Iran dari forum awal menandakan bahwa peluang kesepakatan masih jauh dari aman. 

Kesepakatan 60 hari itu kini menggantung di antara dua dorongan yang saling bertabrakan, kebutuhan semua pihak untuk menghindari perang lebih luas, dan kalkulasi politik masing-masing untuk tidak terlihat mundur.

Bila konflik Israel-Hezbollah kembali melebar, atau sengketa Selat Hormuz berubah menjadi insiden militer, perundingan Swiss bisa runtuh sebelum sempat menghasilkan kerangka damai jangka panjang.

Untuk sementara, Washington masih menyatakan jalur diplomasi belum tertutup. Teheran juga belum sepenuhnya meninggalkan proses yang dimediasi Pakistan dan Qatar.

Namun setelah ancaman Trump dan walkout Iran, perundingan yang semula disebut sebagai kesempatan membalik halaman baru itu kini berjalan di atas garis retak.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan Lebanon akan menjadi topik utama dalam perundingan di Swiss.

Para negosiator dari kedua negara dijadwalkan bertemu lebih dulu dengan mediator, termasuk perwakilan Pakistan, sebelum masuk ke sesi tatap muka langsung. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi disebut hadir dalam delegasi.

Selain Lebanon, ketegangan di Selat Hormuz juga membayangi pembicaraan. Iran mengklaim kembali menutup jalur minyak strategis itu pada Sabtu.

Korps Garda Revolusi Islam memperingatkan kapal-kapal agar tidak mendekati kawasan tersebut karena keselamatan mereka tidak dijamin. Pada Ahad, Teheran kembali menegaskan angkatan lautnya belum memberi izin kepada kapal mana pun untuk melintasi perairan itu. (*)