JENEWA, UNHAS.TV - Perundingan damai Amerika Serikat dan Iran di Swiss terguncang setelah delegasi Teheran meninggalkan meja pembicaraan di Jenewa, Swiss, Minggu (21/6/2026).
Hal itu terjadi menyusul ancaman Presiden Donald Trump untuk kembali menyerang Iran “lebih keras” bila negara itu tidak menghentikan aktivitas kelompok proksi Hezbollah di Lebanon.
Delegasi Iran dilaporkan keluar dari forum ketika pembicaraan baru berlangsung sekitar 80 menit. Media pemerintah Iran menyebut negosiasi memasuki “fase sulit” setelah Trump melontarkan serangkaian peringatan melalui panggilan telepon, wawancara, dan unggahan media sosial.
Ancaman itu muncul hanya beberapa jam setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance tiba di Swiss untuk memimpin negosiasi tingkat tinggi dengan para pejabat Iran.
Kepala negosiator Iran, Mohammed Ghalibaf, menanggapi keras pernyataan Washington. Ia mengatakan Teheran tidak akan memperhitungkan ancaman Amerika.
“Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka; angkatan bersenjata kami siap merespons dengan cara berbeda,” kata Ghalibaf, seperti dikutip media pemerintah Iran seperti ditulis The Sun.
Ketegangan itu memperlihatkan rapuhnya kesepakatan awal yang baru diteken kedua pihak pekan lalu. Memorandum of Understanding antara Washington dan Teheran dirancang sebagai jeda 60 hari untuk menghentikan permusuhan dan membuka jalan bagi kesepakatan jangka panjang.
Namun, baru beberapa hari berjalan, perjanjian itu sudah dibayangi eskalasi di Lebanon, sengketa Selat Hormuz, dan perbedaan tajam soal program nuklir Iran.
Trump sebelumnya menulis di Truth Social bahwa Iran harus segera menghentikan kelompok proksi yang ia sebut “dibayar mahal” di Lebanon.
Ia memperingatkan bahwa jika Teheran tidak bertindak, Amerika Serikat akan memukul Iran “sangat keras lagi”, bahkan lebih keras dibanding serangan pekan lalu. Pernyataan itu bertolak belakang dengan nada lebih lunak yang disampaikan Vance di Swiss.
Vance, yang hadir bersama utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, sempat menyatakan para perunding telah membuat kemajuan dalam beberapa jam pertama.
Ia mengatakan Washington melihat peluang bagi semua pihak untuk bekerja sama mempromosikan perdamaian dan kemakmuran.
Saat ditanya soal serangan Israel di Lebanon, Vance menyebut situasinya “selalu agak rumit”, tetapi ia merasa posisi negosiasi masih cukup baik. “Kami akan terus mengerjakannya,” kata Vance kepada wartawan.
Namun optimisme itu cepat dibayangi ledakan retorika dari Washington. Trump mengatakan kepada Fox News bahwa ia kecewa karena Israel belum mampu “menggeser” Hezbollah tanpa menghancurkan bangunan.
Israel Serang Hezbollah
Pernyataan itu muncul setelah Israel melanjutkan serangan terhadap sasaran Hezbollah di Lebanon selatan.
Seorang pejabat Israel mengatakan militer Israel menyerang target Hezbollah setelah kelompok yang didukung Iran itu menembakkan lebih dari 50 proyektil ke arah tentara Israel. Israel kemudian menyatakan akan kembali menghentikan serangan.
Iran menuding Amerika Serikat membiarkan pelanggaran terhadap butir pertama kesepakatan, yang menuntut penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk Lebanon.
Media pemerintah Iran melaporkan 47 orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon. Komando militer Iran menyebut situasi itu sebagai “pelanggaran kepercayaan yang jelas” dan memperingatkan bahwa langkah lanjutan telah disiapkan bila agresi terus berlangsung.
Persoalan Lebanon menjadi salah satu agenda utama perundingan Swiss. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan isu Lebanon akan menjadi topik pokok pembicaraan.
Teheran selama ini memandang Hezbollah bukan hanya sebagai sekutu regional, tetapi juga bagian dari arsitektur keamanan yang dipakai Iran untuk menahan tekanan Israel dan Amerika Serikat.
Di luar Lebanon, sengketa Selat Hormuz ikut memperberat negosiasi. Iran menyatakan kembali menutup jalur minyak strategis itu pada Sabtu, beberapa hari setelah kesepakatan awal ditandatangani.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal-kapal agar tidak mendekati selat tersebut karena keselamatan mereka dapat terancam.
Teheran kembali menegaskan pada Ahad bahwa tidak ada kapal yang diberi izin melintas. Namun Washington membantah klaim itu. Pejabat Amerika menyebut jalur pelayaran internasional tersebut tetap bisa dilalui dan puluhan kapal dagang masih bergerak melalui kawasan itu.
Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal memang berbalik arah menjauhi Selat Hormuz, tetapi beberapa lainnya tampak tetap melintas.
Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam krisis ini. Jalur sempit itu merupakan pintu keluar penting bagi ekspor minyak dari Teluk.
Dalam MoU yang diteken pekan lalu, penghapusan blokade Amerika terhadap pelabuhan Iran dan jaminan Teheran atas keselamatan kapal kargo disebut sebagai bagian dari prasyarat penghentian permusuhan.
Pungutan Guardian Angel
>> Baca Selanjutnya
LEBIH KERAS - Presiden AS Donald Trump akan serang Iran lebih keras jika tidak menghentikan aksi Hezbollah di Lebanon, Minggu (21/6/2026). (Screenshot The Sun)








