Internasional
News
Opini

Jebakan Thucydides untuk Raksasa Amerika

oleh: Yusran Darmawan*

Langit Teluk Persia pernah dianggap terlalu mahal untuk diganggu. Gedung-gedung kaca Dubai memantulkan matahari seperti simbol kepastian; Doha tumbuh dengan stadion, pusat keuangan, dan jalur gas yang mengalir stabil.

Kilang-kilang minyak Saudi Arabia berdiri seperti jantung yang memompa energi ke seluruh dunia. Bahrain menjadi simpul militer sekaligus perdagangan. Investor global percaya satu hal: kawasan itu aman.

Lalu rudal melintas. Drone berdengung di langit malam. Sirene meraung. Bandara berhenti beroperasi. Pelabuhan menunda keberangkatan. Bursa saham gemetar. Yang retak bukan hanya beton dan baja, melainkan sesuatu yang jauh lebih mahal: kepercayaan.

Dalam momen seperti itu, peringatan kuno dari Thucydides kembali terasa relevan. Dalam History of the Peloponnesian War, ia menulis bahwa perang besar antara Athena dan Sparta lahir bukan semata dari ambisi, melainkan dari ketakutan. Kebangkitan satu pihak memicu kecemasan pada pihak lain; kecemasan itu mendorong eskalasi yang tak lagi terkendali.

Berabad-abad kemudian, Graham Allison menghidupkan kembali gagasan itu dengan istilah Thucydides Trap, jebakan ketika kekuatan dominan bereaksi terhadap ancaman yang dirasakannya, kadang lebih karena persepsi daripada realitas; lalu justru mempercepat konflik yang sebenarnya bisa dikelola.

Dalam konteks hari ini, jebakan itu menemukan bentuknya dalam ketegangan antara Amerika Serikat - Israel versus Iran.

Kesombongan Sang Raksasa

Amerika adalah raksasa militer dunia. Anggaran pertahanannya melampaui banyak negara digabungkan. Armada lautnya menjangkau hampir setiap samudra; teknologi persenjataannya menjadi standar global.

Kekuatan sebesar itu melahirkan keyakinan: jika perang pecah, kemenangan adalah keniscayaan.

Namun sejarah sering memperlihatkan sesuatu yang lebih halus. Raksasa jarang jatuh karena kekurangan kekuatan. Ia jatuh karena terlalu percaya bahwa kekuatannya cukup untuk menutup semua celah.

Iran memahami bahwa ia tak mungkin menandingi Amerika secara simetris. Ia tidak membangun kapal induk untuk melawan kapal induk, tidak mengerahkan ribuan jet untuk duel udara terbuka. Ia memilih jalur lain, jalur yang lebih kecil, lebih murah, tetapi lebih sulit dipatahkan.

Rudal jarak menengah; drone presisi berbiaya rendah; serangan siber; tekanan terhadap jalur energi; pengaruh regional melalui jaringan non-negara. Semua ini tampak kecil jika dilihat satu per satu. Tetapi ketika digabungkan, ia menjadi strategi yang mengganggu keseimbangan.

Dan ketika serangan menjalar ke Dubai, Qatar, Saudi Arabia, hingga Bahrain, yang dihantam bukan hanya fasilitas. Yang diguncang adalah asumsi global bahwa kawasan itu tak tersentuh.

Investor mulai ragu. Modal bergerak mencari tempat yang lebih aman. Premi asuransi melonjak. Pada titik tertentu, perusahaan asuransi menolak menanggung risiko perang di wilayah tersebut. Tanpa asuransi, kapal-kapal enggan berlayar; tanpa perlindungan, perusahaan menunda ekspansi.

Biaya bisnis naik. Kepercayaan turun. Pasar menjadi gugup. Inilah economic warfare. Inilah perang ekonomi.

Harga Energi dan Luka Dunia

Selat Hormuz adalah urat nadi energi global. Sekitar seperlima minyak dunia melintas di sana setiap hari. Gangguan kecil saja cukup membuat pasar panik. Harga minyak melonjak dalam hitungan jam.

Lonjakan itu bukan sekadar angka di layar perdagangan. Ia menjalar ke mana-mana: biaya transportasi naik, harga pangan terdorong naik, inflasi menguat. Negara berkembang terpukul paling keras; industri global menahan napas.

Bahkan di dalam Amerika sendiri, dampaknya terasa. Harga bensin naik di pompa-pompa, konsumen merasakan tekanan langsung, politik domestik ikut bergetar.

Iran mungkin tidak mampu mengalahkan Amerika dalam duel militer konvensional. Tetapi ia bisa menaikkan harga perang hingga menjadi beban yang tak nyaman bagi Washington dan bagi dunia.

Dalam dunia yang saling terhubung, perang regional tidak pernah benar-benar regional. Ia selalu menjalar melalui pasar, melalui energi, melalui kepercayaan.

Bagaimana Kisah Ini Berakhir?

Jika mengikuti pola Thucydides Trap, konflik seperti ini jarang berakhir dengan kemenangan gemilang. Ia berakhir karena kelelahan. Karena tekanan yang tak lagi bisa ditanggung.

Pasar global tidak tahan pada ketidakpastian berkepanjangan. Eropa yang tertekan energi mendesak gencatan. Asia yang bergantung pada minyak Timur Tengah menekan stabilisasi.

Negara berkembang yang tercekik inflasi menuntut de-eskalasi. Investor global mengirim pesan yang lebih keras dari rudal: hentikan perang, atau ekonomi dunia runtuh.

Pada titik tertentu, bahkan raksasa menyadari bahwa setiap hari konflik berarti miliaran dolar menguap; legitimasi tergerus; stabilitas domestik goyah. Iran pun menghadapi tekanan ekonomi internal yang berat.

Lanskap global—pasar, energi, diplomasi—akan memaksa kedua pihak berhenti bukan karena cinta damai, melainkan karena biaya yang terlalu mahal.

Perang berhenti bukan karena salah satu benar-benar kalah, tetapi karena keduanya kelelahan.

Sejarawan militer Inggris, John Keegan, pernah menulis bahwa perang adalah “a pattern of recurrence,”  sebuah pola yang terus berulang dalam sejarah manusia, hanya bentuk dan teknologinya yang berubah. Polanya tetap: rasa takut, kesombongan, salah baca; lalu kelelahan.

David, Goliath, dan Kerendahan Hati Sejarah

Goliath berdiri dengan zirah lengkap, yakin tak terkalahkan. Ia mengukur kemenangan dari ukuran tubuh dan berat pedang. Ia meremehkan David yang tampak lemah, tanpa perlengkapan perang megah.

David memang lemah secara fisik. Tetapi ia mengenal dirinya. Ia tahu satu keunggulan kecil yang dimilikinya. Keahlian menggunakan ketapel atau pelontar batu. Ia tahu bahwa jika ia masuk ke arena jarak dekat, ia akan kalah. Maka ia mengubah arena.

Ia menjaga jarak. Ia membaca momentum. Ia melempar satu batu kecil dengan presisi. Batu itu tidak besar, tetapi tepat.

Dalam geopolitik modern, pelajarannya sama. Negara yang lebih kecil mungkin tidak memiliki kekuatan konvensional yang besar. Tetapi jika ia memahami satu keunggulan—geografi, energi, teknologi murah, jaringan—dan mengubahnya menjadi peluang, ia dapat mengguncang raksasa.

Thucydides mengingatkan tentang bahaya ketakutan. Graham Allison memperingatkan tentang jebakan kekuatan yang bereaksi berlebihan. John Keegan mengingatkan bahwa pola perang selalu kembali.

Dan dalam puisi Persia, Rumi pernah menulis:

این نیز بگذرد

باد می‌آید و می‌رود

آنچه می‌ماند، حقیقت است

In nīz bogzarad

Bād mī-āyad o mī-ravad

Ānche mī-mānad, haqīqat ast

Ini pun akan berlalu.

Angin datang dan pergi.

Yang tinggal hanyalah kebenaran.

Perang bisa meledak. Harga minyak bisa melambung. Pasar bisa gemetar. Raksasa bisa terhuyung. Namun pada akhirnya, yang bertahan bukan kesombongan, bukan ketakutan, melainkan pelajaran yang ditinggalkan sejarah.

Dan kadang, sejarah berubah bukan oleh pedang terbesar; melainkan oleh satu batu kecil yang dilempar dengan tepat, pada saat yang tepat.


*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.