Sulsel
Terkini

Jelang Idul Adha 2026, Stok Sapi Kurban di Maros Melimpah, Berapa Harganya?

SAPI KURBAN - Stok sapi untuk kebutuhan kurban pada Hari Raya Iduladha 2026 cukup melimpah di Kabupaten Maros, Senin (27/4/2026). (Unhas TV/Muh. Nur Alim)

MAROS, UNHAS.TV - Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun 2026, ketersediaan sapi kurban di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mulai meningkat.

Di sejumlah kandang penampungan, terutama di Kecamatan Bantimurung, pedagang telah menyiapkan puluhan hingga ratusan ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang hendak berkurban.

Di salah satu kandang penampungan sapi di Bantimurung, aktivitas pedagang tampak lebih padat dibandingkan hari biasa.

Sapi-sapi berbagai ukuran terlihat berjajar di dalam kandang. Sebagian diberi pakan, sementara lainnya diperiksa kondisinya oleh pekerja kandang.

Perawatan dilakukan secara rutin untuk menjaga bobot, kebersihan, dan kesehatan hewan sebelum dibeli masyarakat.

Pedagang sapi, H. Pacong, mengatakan penjualan hewan kurban tahun ini mulai menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sekitar 200 ekor sapi yang disiapkan, sekitar 60 persen di antaranya telah terjual. Pembeli, kata dia, mulai berdatangan sejak beberapa pekan sebelum Idul Adha.

“Alhamdulillah tahun ini penjualan meningkat. Meskipun harga naik, pembeli tetap ada dan cukup ramai,” kata H. Pacong di Kecamatan Bantimurung, Maros, Senin (27/4/2026).



Pedagang sapi di Kabupaten Maros, H. Pacong. (Unhas TV/ Muh Nur Alim)


Kenaikan harga sapi kurban tahun ini diperkirakan berkisar lima persen. Harga sapi di kandang penampungan tersebut dibanderol mulai dari Rp 14 juta hingga Rp 85 juta per ekor. Perbedaan harga bergantung pada jenis, bobot, ukuran tubuh, serta kondisi fisik sapi.

Sapi Bali masih menjadi pilihan utama sebagian besar pembeli karena harganya dinilai lebih terjangkau. Jenis ini banyak diminati masyarakat yang mencari sapi kurban dengan ukuran sedang dan harga yang relatif stabil.

Adapun sapi jenis Limousin dan Simental menjadi pilihan pembeli yang menginginkan sapi berbobot besar, meski harganya jauh lebih tinggi.

Menurut pedagang, kenaikan harga dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan sapi dari sejumlah daerah pemasok. Selain itu, biaya operasional, termasuk pakan, perawatan, transportasi, dan tenaga kerja, juga ikut meningkat.

Kondisi tersebut membuat harga jual sapi kurban tahun ini lebih tinggi dibandingkan musim kurban sebelumnya.

Selain harga, kesehatan hewan menjadi perhatian pembeli. Pedagang mengklaim sapi-sapi yang dijual telah melalui pemeriksaan kesehatan. Sebagian besar sapi juga disebut telah divaksin untuk memastikan layak dijadikan hewan kurban.

Salah seorang pembeli, Andi Muhammad Irdan, mengaku tetap membeli sapi meski harga mengalami kenaikan. Ia memilih membeli lebih awal agar bisa mendapatkan sapi dengan kondisi terbaik.

“Saya sudah langganan di sini karena sapinya bagus dan sehat. Jadi saya tetap beli meski harga naik,” kata Andi.

Minat masyarakat untuk membeli sapi kurban diperkirakan terus meningkat hingga mendekati Idul Adha. Pedagang memperkirakan permintaan akan naik dalam beberapa pekan ke depan, terutama dari pembeli perorangan, kelompok warga, hingga pengurus masjid.

(Muh. Nur Alim / Maros / Unhas TV)