Lingkungan
Makassar

Jelajah Sampah Mamajang Kumpulkan 394 Kilogram, DLH Makassar Dorong Pemilahan dari Rumah

JELAJAH SAMPAH - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar menggelar Jelajah Sampah 2026 di Kecamatan Mamajang dan mengumpulkan 394,06 kilogram hasil plogging, Sabtu (25/7/2026). Event ini untuk mengedukasi warga memilah sampah sejak dari rumah. (Dok DLH Makassar)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Tumpukan sampah yang memenuhi ruang publik menjadi cermin dari pola konsumsi masyarakat. Di Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, persoalan itu kembali disorot melalui program Jelajah Sampah 2026 yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Sabtu (25/7/2026).

Sebanyak 394,06 kilogram sampah berhasil dikumpulkan dalam kegiatan yang menggabungkan edukasi, praktik pengolahan, dan aksi bersih lingkungan.

Jelajah Sampah di Mamajang merupakan titik ketujuh dari rangkaian program yang dirancang menyasar 15 kecamatan di Kota Makassar.

Program ini tidak sekadar mengajak warga membersihkan lingkungan, tetapi membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dr Helmy Budiman, bersama Camat Mamajang membuka kegiatan tersebut dengan menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Menurut dia, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbesar kapasitas pengangkutan maupun tempat pembuangan akhir.

“Jelajah Sampah bukan hanya tentang memungut sampah, tetapi bagaimana mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Pengelolaan sampah dimulai dari rumah melalui kebiasaan memilah dan mengolah sebelum dibuang,” kata Helmy.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Talkshow Persampahan yang menghadirkan Dewan Lingkungan Akmal Idrus dan Pengelola TPS 3R Karebosi, Fajar Harianto.

Dalam diskusi tersebut, keduanya berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mulai dari pemilahan sampah rumah tangga hingga penguatan fungsi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).

TPS 3R menjadi salah satu pendekatan yang dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Sampah yang telah dipilah sejak awal memiliki peluang lebih besar untuk dimanfaatkan kembali, baik melalui proses daur ulang maupun pengolahan menjadi produk bernilai ekonomi.

Setelah sesi diskusi, peserta mengikuti Kelas Praktik Pengolahan Sampah Rumah Tangga. Dalam kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan dengan berbagai metode pengolahan sampah organik, seperti pembuatan kompos, budidaya maggot, dan produksi eco-enzyme.

Melalui pendekatan praktik langsung, DLH Makassar berupaya mengubah pemahaman masyarakat bahwa sampah tidak selalu menjadi barang yang harus segera dibuang. Sebagian jenis sampah, terutama organik, dapat diolah kembali sehingga mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.

Peserta kemudian bersama relawan melakukan aksi plogging atau kegiatan memungut sampah sambil berjalan di sejumlah titik Kecamatan Mamajang.

Sampah yang terkumpul tidak langsung dibuang, melainkan dipilah berdasarkan kategorinya untuk melihat karakteristik timbulan sampah di kawasan tersebut.

Hasil pemilahan menunjukkan sampah yang terkumpul terdiri atas 30,72 kilogram sampah organik, 24,94 kilogram sampah anorganik, dan 338,40 kilogram sampah residu.

Jumlah sampah residu yang mendominasi menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah bahwa upaya edukasi pemilahan dari tingkat rumah tangga masih perlu diperkuat.

Helmy mengatakan, program Jelajah Sampah dirancang sebagai gerakan berkelanjutan, bukan kegiatan seremonial sesaat. Pemerintah berharap setiap peserta yang terlibat dapat menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing.

“Perubahan perilaku tidak bisa dibangun dalam satu kegiatan. Edukasi harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan masyarakat secara langsung. Ketika kesadaran tumbuh di setiap rumah tangga, target Makassar Bebas Sampah 2029 akan semakin mudah diwujudkan,” ujarnya.

Melalui Jelajah Sampah 2026, Pemerintah Kota Makassar terus memperluas kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan masyarakat.

Program ini menjadi bagian dari strategi membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya untuk menciptakan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)