Di atas geladak baja sepanjang lebih dari 300 meter, puluhan jet tempur berbaris seperti anak panah yang siap dilepaskan. Inilah simbol supremasi maritim modern: kapal induk.
Selama puluhan tahun, raksasa terapung ini menjadi penentu arah konflik, dari Teluk Tonkin sampai Teluk Persia. Namun, di bawah bayang-bayang kecepatan hipersonik serta algoritma pemandu presisi, pertanyaan lama itu kembali menggema: masihkah kapal induk tak tersentuh?
***
Pada 1982, dunia menyaksikan bagaimana rudal Exocet buatan Prancis menenggelamkan kapal perusak Inggris dalam Perang Falklands. Sejak itu, rudal anti-kapal subsonik menjadi ancaman nyata bagi fregat maupun kapal perusak.
Akan tetapi, untuk kapal induk—yang lambungnya berlapis baja tebal, dipenuhi sekat kedap air, serta dilengkapi sistem pemadam kebakaran canggih—ceritanya berbeda.
Rudal jelajah seperti Exocet membawa hulu ledak sekitar 160 kilogram. Mematikan, tentu. Namun untuk “membunuh” kapal induk secara struktural? Tidak sesederhana itu. Bahkan jika tak tenggelam, kapal induk dirancang untuk bertahan dari kerusakan dan tetap beroperasi.
Di sinilah logika peperangan berubah: bila tak mudah ditenggelamkan, mengapa tidak dilumpuhkan?
Lompatan Teknologi; Rudal Balistik Anti-Kapal
Tahun 2011 menjadi titik penting. Dalam latihan militer “Great Prophet 6”, Iran memperkenalkan sesuatu yang sebelumnya lebih sering dibicarakan di meja analis ketimbang di medan uji: rudal balistik anti-kapal, Khalij Fars.
Rudal ini merupakan turunan dari Fateh-110, rudal balistik jarak pendek berbasis darat. Perbedaannya signifikan. Khalij Fars tidak sekadar meluncur menuju koordinat tetap; ia dilengkapi sistem pencari optoelektronik pada fase terminal.
Ketika mendekati target, rudal itu dapat “melihat” dan mengunci kapal, lalu mengoreksi lintasannya sebelum menghantam. Perubahan ini, dalam dunia militer, tergolong revolusioner.
Rudal balistik meluncur dengan kecepatan hipersonik pada fase akhir, beberapa kali kecepatan suara. Energi kinetiknya saja sudah sangat dahsyat. Ditambah kapasitas hulu ledak yang jauh lebih besar, ratusan kilogram bahan peledak, daya hancurnya tidak hanya bergantung pada ledakan, melainkan juga pada momentum tumbukan.
undefined







