 FEMG.webp)
Kepala Departemen Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FK Unhas Dr dr Husnul Mubarak SpKFR-NM (K) FEMG
Dalam tujuh hingga sembilan hari pertama setelah cedera, terapi dingin lebih disarankan. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan kompres es, kantong gel dingin, atau rendaman air dingin selama 15 hingga 20 menit setiap beberapa jam.
Pada beberapa kasus, terapi dingin dapat digunakan hingga dua minggu tergantung pada tingkat cedera dan respons tubuh terhadap pengobatan.
Sebuah studi dari American Journal of Sports Medicine menunjukkan bahwa terapi dingin dapat mengurangi risiko cedera sekunder akibat peradangan yang tidak terkontrol.
Oleh karena itu, terapi ini menjadi metode yang efektif dalam menangani cedera akut seperti keseleo, memar, atau otot yang tertarik.
Setelah fase inflamasi mereda, biasanya mulai dari minggu kedua hingga minggu ketiga, terapi panas mulai dapat diterapkan.
Berbeda dengan terapi dingin, terapi panas bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ke area yang mengalami cedera guna mempercepat proses pemulihan otot dan sendi.
Terapi panas lebih efektif untuk mengatasi nyeri kronis seperti nyeri punggung, kekakuan sendi, atau ketegangan otot setelah beraktivitas.
Penelitian dalam Physical Therapy & Rehabilitation Journal menunjukkan bahwa terapi panas dapat meningkatkan fleksibilitas jaringan lunak dan mengurangi kekakuan sendi pada pasien dengan osteoartritis dan nyeri punggung kronis.
Metode terapi panas yang umum digunakan meliputi kompres hangat, bantalan pemanas, dan mandi air hangat. Aplikasi terapi panas yang tepat dapat meningkatkan elastisitas otot dan mempercepat regenerasi jaringan, sehingga bermanfaat bagi mereka yang mengalami nyeri berkepanjangan.
Meski terapi panas dan dingin memiliki manfaat yang berbeda, penggunaannya harus sesuai dengan kondisi tubuh dan tidak dilakukan secara berlebihan.
"Durasi yang terlalu lama atau suhu yang tidak tepat dapat menyebabkan efek samping seperti iritasi kulit, mati rasa, atau bahkan luka bakar ringan," kata dokter Husnul Mubarak.
Sebuah tinjauan dalam British Journal of Sports Medicine menekankan pentingnya pemahaman mengenai batas aman dalam menerapkan terapi ini.
Disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menerapkan terapi panas atau dingin, terutama jika mengalami kondisi medis tertentu seperti gangguan sirkulasi atau neuropati.
Dengan memahami kapan waktu yang tepat dalam menggunakan terapi panas dan dingin, kita dapat menangani cedera dengan lebih efektif serta mempercepat proses pemulihan.
Jangan ragu untuk mencari informasi lebih lanjut dari ahli medis agar terapi yang diterapkan benar-benar memberikan manfaat maksimal. (*)
(Venny Septiani Semuel / Unhas.TV)