Kesehatan
Terkini

Kemenkes Terapkan Nutri-Level A-D, Minuman Tinggi Gula Kini Lebih Mudah Dikenali Konsumen

NUTRI-LEVEL - Kemenkes mewajibkan setiap produsen minuman membubuhkan label gizi Nutri-Level A–D pada minuman siap saji. Kebijakan Kementerian Kesehatan membantu masyarakat mengenali kandungan gula dan memilih minuman lebih sehat harian. (Ilustrasi ChatGPT, Naskah Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kementerian Kesehatan mulai menerapkan pencantuman label gizi Nutri-Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis yang dijual pelaku usaha skala besar.

Kebijakan ini ditujukan untuk memudahkan konsumen mengenali kandungan gula, garam, dan lemak sebelum membeli produk.

Aturan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang Pencantuman Label Gizi dan Pesan Kesehatan pada Pangan Siap Saji.

Pelaku usaha yang masuk kategori skala besar diwajibkan mencantumkan informasi Nutri-Level pada menu, kemasan, brosur, hingga aplikasi pemesanan makanan secara elektronik.

Label itu membagi produk ke dalam empat tingkat, dari A hingga D, dengan penanda warna berbeda. Level A berwarna hijau tua menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak atau GGL yang paling rendah.

Sebaliknya, level D berwarna merah menandakan kandungan GGL paling tinggi sehingga konsumsinya perlu dibatasi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari edukasi masyarakat untuk menekan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan.

Konsumsi berlebih ketiga unsur itu berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, hipertensi, diabetes, stroke, hingga penyakit jantung.

Pada tahap awal, kewajiban tersebut belum menyasar usaha mikro, kecil, dan menengah, seperti warung makan sederhana, gerobak makanan, dan warteg.



Akademisi Gizi FKM Unhas dan Dietisien Dr Healthy Hidayanty SKM MKes. (Dok Unhas TV)


Ketua Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Dr Healthy Hidayanty SKM MKes, mengatakan pencantuman label dapat membantu konsumen mengendalikan pola makan.

“Membaca label makanan memang bukan satu-satunya cara mengubah perilaku konsumsi, tetapi sangat penting. Dengan membaca label, kita bisa mengendalikan jumlah maupun jenis makanan yang akan masuk ke dalam tubuh kita,” kata Healthy di FKM Unhas, Makassar, Rabu (12/8/2026).

Menurut Healthy, informasi nilai gizi sebenarnya telah lama tersedia melalui nutrition facts. Namun, angka, persentase, dan istilah yang digunakan kerap sulit dipahami sebagian masyarakat.

Karena itu, sistem Nutri-Level menggunakan pendekatan visual yang lebih sederhana. Konsep ini mengadopsi front-of-pack nutrition label, yakni informasi gizi yang ditempatkan pada bagian yang mudah terlihat sehingga konsumen dapat menilai produk sebelum membelinya.

“Kalau label A berwarna hijau tua, artinya kandungan gula, garam, dan lemaknya rendah. Sedangkan label D berwarna merah berarti perlu dihindari atau dibatasi,” ujar Healthy.

“Dengan visual A sampai D dan warna, masyarakat jauh lebih mudah memahami dibanding hanya melihat tabel gizi,” lanjutnya.

Penentuan level dilakukan berdasarkan hasil pengujian laboratorium terakreditasi dan dilaporkan melalui pernyataan mandiri pelaku usaha.

Pemerintah berharap sistem yang lebih mudah dibaca tersebut dapat mendorong konsumen memilih produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang lebih rendah serta membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sehat.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)